Sabtu, 21 November 2009

Dari Film "KIAMAT 2012"

Oleh : Muhammad Ilham

Hingga tulisan ini diposting, saya belum pernah menonton film ”2012” secara utuh. Film yang telah diharamkan Majelis Ulama Indonesia (?) ini, menjadi perbincangan hangat. Inilah satu-satunya film yang belakangan ini menarik minat dan analisis dari hampir seluruh masyarakat dari berbagai strata sosial. Anak muda yang biasanya suka bicara film-film melankolik-platonik, sudah ”riuh-rendah” mengagumi film besutan Roland Emmerich, sutradara berdarah Jerman ini, tanpa mau terikat dan dipusingkan oleh pertimbangan-pertimbangan teologis. Kalangan intelektual-pun mulai ”terbelah” antara kekaguman kreasi anak manusia dengan kekhawatiran akan gugatan norma teologis. Tapi sudahlah, bagi saya bukan zamannya untuk haram-haraman.

Bagi saya, itu adalah tantangan. Kehadiran film 2012 adalah sebuah Sunatullah yang harus direspon dengan baik oleh ”kita” yang mengaku orang muslim. Memvonis bahwa film 2012 meracuni dan menggugat sendi aqidah, justru bisa menjadi counter-produktif. Orang justru akan makin penasaran dengan film tersebut. Buktinya, ketika MUI mengomentari film 2012 dengan wacana ”haram”, justru pada pemutaran perdananya, penonton tak hanya antre di gedung bioskop. Mereka rela menunggu giliran mendapatkan tiketnya. Hampir semua gedung bioskop di Jakarta yang memutar film ini panen penonton. "Pemberitahuan. Tiket Pertunjukan Flm 2012 untuk Hari Ini Sudah Habis,” begitu bunyi pengumuman di loket XXI Djakarta Theatre, Jalan M.H. Thamrin, Jarta Pusat (seperti yang dilansir oleh RCTI). Tak hanya di Indonesia, bahkan di belahan dunia lain pun Film Kiamat 2012 yang dibintangi John Cussack ini menyihir banyak orang. Film itu mengantongi pendapatan sebesar USD 225 juta dari penjualan tiket di seluruh dunia. Angka itu, menurut Contactmusic, Senin 16 November 2009, sudah melebihi biaya produksinya yang USD 200 juta.

”Gempa maha hebat mengoyak kulit bumi. Jembatan putus, jalan terbalik. Gedung-gedung pencakar langit runtuh bak istana pasir. Dari perut taman Yellowstone, Wyoming, Amerika, muncrat jutaan kubik lahar berterbangan seperti bola api. Gelombang laut ganas menggulung daratan hingga ke Himalaya. Gunung-gunung merapi meletus. Bumi yang sudah berusia 4 miliar tahun ini pun tergambar bak rongsokan. Kiamat !!”. Film ini sebenarnya mencoba melahirkan kiamat menurut ramalan Suku Maya yang kalendernya berakhir pada 2012. Menjadi heboh karena bertepatan dengan badai matahari yang ditaksir terjadi pada tahun yang sama. Sejumlah ramalan lain juga dicocok-cocokkan agar sejalan dengan tahun ini. Sebelum film ini muncul, publik sebetulnya telah heboh oleh buku pengetahuan populer berjudul Investigasi Akhir Zaman 2012, karya Lawrence E. Joseph. Dia Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation, New Mexico, Amerika Serikat. Pada bukunya, terjalin unsur ramalan Suku Maya itu dengan pelbagai penelitian ilmiah soal astronomi. Diantaranya, cocok pula dengan perkiraan badai matahari dan sejumlah bencana yang telah terjadi di bumi. Meski terkesan agak ragu, dia meramalkan akan terjadi bencana besar yang meluluhlantakkan bumi pada 2012.

Alkisah, sekitar tahun 250-925 M, hiduplah Suku Maya, di sepanjang pantai utara Semenanjung Yucatan, Meksiko. Mereka terkenal cerdas. Ilmu astronominya kompleks dan akurat. Semua itu terlihat dalam 20 bentuk kalendernya. Lawrance dalam bukunya itu menyebutkan kalender bangsa Maya ini mencatat pergerakan matahari, bulan, planet, masa panen, siklus kehamilan wanita, hingga siklus serangga. Dan jangka waktunya, dari 260 hari hingga 5.200 tahun lebih. Misalnya, kalender 260 hari ini mewakili kehamilan wanita dan juga jumlah hari planet Venus terbit pada pagi hari setiap tahunnya. Sedangkan 5.200 tahun adalah kalender panjang suku Maya. Periode ini disebut satu matahari, tahun surya. Perhitungan satu tahun di suku Maya hanyalah 360 hari, sisanya dianggap di luar waktu. Jadi satu tahun surya, adalah 5.125 tahun. Pergantian tahun matahari inilah yang dianggap akhir zaman. Menurut perhitungan suku Maya, sekarang ini adalah masuk tahun keempat matahari. Jadi mereka sudah melewati tiga tahun matahari. Mengawali tahun matahari dianggap sebagai kelahiran, jadi ada darah dan penderitaan. Tahun keempat matahari ini dimulai sejak 0.0.0.1 (13 Agustus 3114 sebelum masehi). Artinya masa matahari ini hanya bersisa tiga tahun lagi. Bangsa Maya menuliskan 13.0.0.0 (21 Desember 2012). Di akhir tahun matahari, suku Maya percaya, sebagai hari berakhirnya peradaban umat manusia.

Dua penganut agama besar di dunia seperti Islam dan Kristen tak berani membenarkan jadwal kiamat itu. Bahwa di akhir zaman nanti alam semesta hancur, mereka tak membantahnya. Menurut ajaran Islam, soal kiamat berpedoman kepada Al-Quran, dan hadis Rasulullah SAW. “Al-Quran menyebutkan, kiamat adalah ilmu dan ketentuan Allah, tak satupun manusia mengetahuinya, bahkan termasuk Rasulullah dan malaikat.” kata Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Aminudin Yakub. “ Umat Kristen juga percaya dengan kiamat. Menurut Pastur Setyo Wiboyo, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, dalam perspektif Kristiani sudah jelas bahwa Yesus mengatakan tidak ada satu orangpun yang tahu mengenai kapan dan bagaimana kiamat itu. “Malaikat juga tidak tahu, putra atau Yesus sendiri juga tidak tahu. Jadi yang tahu hanya Allah Bapa,” katanya. Tapi sudahlah ............. alangkah lebih baiknya, film di-counter dengan film sejenis atau diskusi yang lebih akademik dengan bungkusan teologis. Kehadiran ”film” Rambo dan sejenisnya, setidaknya bisa memberi pelajaran bagi kita. Terlepas film Rambo merupakan salah satu bentuk justifikasi paling vulgar dari kekalahan Amerika Serikat dari Vietnam, namun film Rambo dan sejenisnya mampu mempengaruhi opini masyarakat (setidaknya : yang menonton), bahwa Amerika Serikat tetap unggul. Hicks.

Insert : Bilboard Film 2012 dan Kalender Suku Maya (Foto : www.okezone.com)

Kamis, 19 November 2009

Seandainya Jusuf Kalla Ada

Oleh : Muhammad Ilham

Sebagai Presiden yang konstitusionalis, saya respek terhadap SBY. Mungkin sebagai anak bangsa, baru kali ini saya "bangga" dengan iklim demokrasi yang sangat demokratis terjadi di negara besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Siapa yang bilang orang Islam tidak bisa melahirkan sistem sosial politik yang demokratis ?. Pemutaran Rekaman "fenomenal-menghentakkan" di Mahkamah Konstitusi, merupakan salah satu indikator bagaimana bebas dan transparannya iklim demokrasi Indonesia - ditonton dan didengar oleh seluruh rakyat Indonesia. Amerika Serikat yang mengaku sebagai kampiun demokrasi, dalam sejarahnya belum pernah menyelenggarakan "event" ala Mahkamah Konstitusi kemaren. Demikian juga, ketika Rekomendasi Tim 8 diserahkan oleh Adnan Buyung Nasution cs. kepada SBY ........ SBY justru meminta agar Tim 8 mempublikasikannya kepada publik, padahal beliau belum membaca dan menelaahnya. Padahal sebelum Rekomendasi Tim 8 ini rampung, berbagai statement dari anggota Tim 8 di berbagai media massa banyak dikecam oleh berbagai pihak, "ini bukan konsumsi publik", demikian alasan mereka. Tapi justru SBY mempertegas bahwa publik justru harus lebih dahulu tahu dibandingkan beliau. Ada proses pembelajaran demokrasi disini.

Namun, kekaguman saya pada SBY "tercederai" oleh ketidakmampuannya memanfaatkan momentum untuk bersikap tegas. Konstitusionalis sangat bagus ........ namun, etika dan nurani keadilan justru diatas segala-galanya. Dalam bahasa politik Islam, Ijtihad Politik-pun dalam kondisi tertentu harus dilakukan apabila berkaitan dengan kepentingan publik. Seorang pemimpin dipilih, apalagi dipilih secara langsung, tentu saja untuk tujuan melayani pemilihnya. Itulah moralitas tertinggi yang harus dipegang seorang pemimpin. Karena itu, pejabat publik harus siap didorong-dorong oleh pemilihnya untuk melaksanakan kehendak pemilihnya. Jika pejabat tidak siap didorong-dorong untuk menjalankan keinginan pemilihnya, tidak ada lagi legitimasi baginya menempati posisi itu.

Dia harus secara sukarela minggir karena tidak lagi mampu melaksanakan keinginan pemilihnya. Dalam pemilihan umum, seorang calon pejabat publik mendorong-dorong pemilih untuk memilihnya. Dia menebar berbagai janji melaksanakan segala hal yang menjadi keinginan rakyat. Karena itu, tatkala rakyat menagih janji dan mendorongnya melaksanakan keinginan rakyat, jangan menamengi diri dengan intervensi. Rekomendasi Tim 8 disusun secara runtut dengan fakta yang sudah diverifikasi serta dilengkapi aturan hukum yang menjadi landasannya. Sebenarnya Presiden tinggal melaksanakan. Presiden Yudhoyono seperti sendirian menghadapi situasi pelik ini. Berbeda dengan lima tahun silam ketika Jusuf Kalla menjadi wakil presiden. JK selalu pasang badan ketika pemerintah diserang dari berbagai penjuru mata angin.

Minggu, 25 Oktober 2009

Jusuf Kalla dan GAM (Baca : Gabungan Aceh Makassar)

Ditulis Ulang Oleh : Muhammad Ilham

Walau untuk aspek tertentu, saya tak setuju dengan Jusuf Kalla, namun untuk beberapa hal, JK sungguh fenomenal. Setidaknya, untuk jabatan Wakil Presiden, beliau mampu menjadi wakil yang betul-betul “Wakil Presiden”. Walaupun dengan nada sedikit menggurui dan terkesan ada nuansa sinis, JK pernah berkata kepada “lawan satu levelnya”, Prof. Boediono yang terpilih menjadi Wakil Presiden Pilpres yang lalu …….. “Wakil Presiden jangan jadi Ban Serep”. Ucapan itu setidaknya telah mampu merubah paradigma politik masyarakat Indonesia ke depan. Walau, sekali lagi walau, JK juga harus mengerti bahwa posisinya yang agresif kala menjabat Wakil Presiden, secara politik tidak terlepas dari “daya tawar politiknya” yang sangat tinggi, ia jadi pengurus kunci Partai Golkar dan kemudian menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Bak kata kawan saya, ya …. Iyalah, kalau JK tanpa Golkar, mana mungkin ia bisa menelikung, acrobat dan segesit itu.


Tapi, sudahlah……. Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai nilai-nilai baik seorang tokohnya. Tokoh yang baik adalah personal yang memberikan inspirasi buat orang lain. Dan pada diri JK, ia adalah tokoh besar dan ia inspirator. Banyak sumbangsih besar yang ia berikan buat negara ini. Salah satu diantaranya adalah keterlibatan intens beliau dalam Perdamaian Aceh. Berikut saya kutip artikel Nezar Patria (dalam vivanews.com/26-10-2009). Perang, kata Sir Henry Maine, adalah praktik kuno manusia. “Tetapi, perdamaian adalah sebuah penemuan modern,” tulis hakim Inggris itu, pada suatu masa di Eropa pertengahan abad ke-19. Perdamaian, boleh jadi adalah ‘penemuan modern’. Atau juga bukan. Di tengah perang yang setua usia peradaban manusia, perdamaian adalah usaha tak mudah. Di Aceh, misalkan, orang kerap mengingat: pada satu masa, perdamaian adalah sebuah kemustahilan. Selama tiga dekade, politik di sana digerakkan amarah. Kata-kata digantikan senjata. Atas nama keadilan, konsep tentang “Indonesia” digugat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). “Indonesia,” kata Hasan Tiro, sang pemimpin pemberontakan itu, “tak lain konsep kolonialisme Belanda, yang diteruskan oleh penjajah Jawa”. Hasan Tiro berhasrat melanjutkan kedaulatan lama itu: negara Aceh yang gemilang seperti pada zaman Iskandar Muda. Tentu, seperti kita ketahui, rezim Orde Baru membuyarkan mimpi itu. Lalu, selama tiga dekade, Aceh tenggelam dalam pergolakan bersenjata. Sampai tatkala rezim berganti, tapi penguasa baru hasil reformasi tak juga berhasil menghentikan darah tumpah di sana.

Maka, di Aceh, orang juga mengenang sosok Jusuf Kalla. Pada 15 Agustus 2005, saat termometer jatuh di bawah nol di Helsinki, dia telah melelehkan sesuatu yang lama beku antara Aceh dan Jakarta: kepercayaan. Kalla memang tak di sana, saat naskah damai itu diteken kedua pihak. Dia, bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menyaksikan adegan bersejarah itu dari Jakarta. Mungkinkah perdamaian Aceh itu tanpa Kalla? Dia seorang saudagar, yang menjalankan politik selincah rumus dagang. “Negosiasi adalah soal penawaran”, kata Kalla, suatu hari saat dia mulai menggarap Aceh. “Kalau tak bisa dapat 1 dengan harga 10, anda bisa tawar dengan harga 15, tapi dapat 2”. Kalla, dalam banyak soal, adalah seorang pragmatis. Tapi, seperti kita lihat, pendekatan “dagang” itu, tak selalu mulus. Dua bulan sebelum bencana tsunami Desember 2004, Kalla sesungguhnya telah mulai melancarkan “gerilya” untuk perdamaian. Saat itu, dia baru saja dilantik sebagai Wakil Presiden, dan yakin akan bisa menyelesaikan konflik di Aceh, seperti halnya di Ambon dan Poso. Kalla lalu mengutus Hamid Awaluddin, orang kepercayaannya yang baru diangkat sebagai Menteri Hukum dan HAM. Rencana itu sangat rahasia: membujuk para panglima GAM di lapangan. “Jangan sampai pers tahu,” begitu Kalla mengingatkan.

Para pemimpin gerakan itu di Swedia, untuk sementara dilewatkan. Mungkin, dalam strategi ini, mereka tak begitu penting. Bagi Menteri Hamid, yang berperang dan menderita, adalah mereka yang hidup di Aceh. Yang dibutuhkan, seorang komandan tertinggi yang dipatuhi di lapangan. Tentu, dia harus bersedia diajak bicara. Usaha Menteri Hamid itu tak sepenuhnya berhasil. Ujung cerita, justru berakhir agak jenaka. Suatu kali, kontak yang “disegani” itu ditemukan. Satu proposal sudah disiapkan. Ada janji konsesi kebun sawit, listrik yang melimpah, pesawat terbang khusus, beserta bandara kelas dunia bagi Aceh. Di proposal itu tertera tandatangan sejumlah pejabat RI, salah satunya Menteri Hamid. Di pihak seberang, ada dua ‘perunding GAM’: M Daud Syah dan Harun Yusuf. Daud, disebut-sebut pengikut Hasan Tiro yang setia, dan berpengaruh di Malaysia. Sama seperti Daud, di Malaysia, Harun dikenal dengan nama lain “Kancil”. Tapi, Daud gagal meyakinkan Muzakkir Manaf. “Urusan politik silakan langsung ke Swedia,” ujar Muzakkir. Dan, Harun “Kancil” justru ditolak. “Mereka bukan juru runding kami,” ujar M Nur Djuli, perunding resmi GAM. Di Malaysia, Harun “Kancil” lebih dikenal sebagai pedagang jamu. Dia, ternyata, bukan kombatan berpengaruh. Tapi, toh Kalla tak pernah patah arang. Dia lalu memutar haluan. Menteri Hamid dikirim ke Eropa, ke Belanda, sampai pada akhirnya satu utusan dikirim ke Swedia. Ada lampu hijau, Hasan Tiro melalui Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, bersedia berdialog asal ada satu negara penengah. Tapi, itu tak mudah bagi Kalla. Pemerintahan SBY akan dilalap oposisi, karena “membesarkan” GAM di panggung politik dunia. Lalu, bagaimanakah membuat dialog itu tetap “berkelas” dunia?

Suatu hari pada Januari 2005, bekas Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, mendapat telepon dari rekannya, seorang pemimpin redaksi koran ternama di Helsinki. Kepada Martti, si teman mengatakan ada pesan dari Indonesia, menginginkan Martti menjadi penengah. Martti, seperti diakuinya kepada saya, awalnya agak enggan. Dia sedang bekerja untuk perdamaian di Afrika, dan juga Eropa Timur. Indonesia, mungkin, terlalu jauh. Tapi, Martti akhirnya setuju karena menimbang Aceh, satu tempat yang luluh lantak diterjang tsunami, dan membuat seisi dunia murung. Si pemimpin redaksi, tak lain rekan Juha Christensen, seorang warga Finlandia ahli farmasi. Juha fasih berbahasa Makassar. Dia adalah kolega dr Farid Hussein, salah satu ‘Orang-orang Kalla’, yang turut dalam tim damai di Jakarta. Cerita selanjutnya kita tahu, bagaimana ‘Orang-orang Kalla’ mengambil hati para pemimpin GAM di Swedia. Perundingan pun dimulai, dan dipimpin Martti. Awalnya sulit, tapi Kalla selalu punya jalan keluar. Ketika kemacetan dialog mengancam, Kalla membuat keputusan cepat. Salah satu ‘Orang Kalla’ bersaksi: suatu kali Menteri Hamid pusing oleh banyaknya syarat yang diajukan GAM di meja perundingan di Helsinki. Dia menelepon Kalla di Jakarta. “Pernah mengambil kredit di bank? Apakah kau baca semua syaratnya?”, tanya Kalla. Seperti halnya bisnis, bagi Kalla, syarat kredit bukan soal pokok. Yang penting: uang bisa cair, dan bisnis bergulir. “Hamid, yang penting mereka setuju berada di dalam NKRI. Yang lain, tak penting,” kata Kalla. Dialog pun lancar kembali.

Pragmatisme, dalam dosis tertentu kadang penting. Dan, Kalla membuktikannya. Seperti diakui M Nur Djuli, sang Wakil Presiden sangat berperan saat perundingan itu di ujung tanduk. Misalnya, ihwal partai lokal bagi Aceh. “Kalla memberikan lampu hijau, partai lokal boleh berdiri”, ujar Djuli. Sejak itu, Kalla dipercaya para pemimpin GAM di Swedia. Dia tak kalah gesit. Kalla menyelami pikiran dan perasaan pemberontak itu. “Saya membaca hampir semua buku karya Hasan Tiro,” ujar Kalla, suatu hari di kantor Wakil Presiden. Dia percaya, dialog hanya mungkin jika kedua pihak saling mengenal, dengan penuh hormat. Misalkan, dia kerap bergurau, saat pertemuan dengan Malik Mahmud cs, bahwa rapat hari itu itu adalah pertemuan GAM. “Gabungan Aceh Makassar,” ujar Kalla. Perundingan Helsinki itu selesai dalam tempo tujuh bulan. Dia bukan hanya membanggakan Indonesia, tapi menjadi teladan bagi Asia Tenggara. Bagi Aceh yang lama terbenam dalam perang, perdamaian mungkin adalah sebuah penemuan. Mereka akan selalu mengenang Kalla: pemimpin yang percaya perdamaian bukan sesuatu yang mustahil.

Sabtu, 24 Oktober 2009

In the Age of Divorce

Oleh : Muhammad Ilham

Gunnar Myrdal dalam bukunya Asian Drama : An Inquiry into the Poverty of Nations mensyinyalir bahwa kebangkitan ekonomi di benua Asia berkorealsi dengan memburuknya eksistensi institusi keluarga. Ini berbeda dengan beberapa penelitian dengan kasus Indonesia, diantaranya Sukrisno Hadi (2000), Sylvia Astuti (2001) dan Sylvia Chen (2005) - yang menyimpulkan bahwa ada korelasi signifikan antara pertumbuhan ekonomi dengan tingkat perkawinan. Tingkat perekonomian semakin membaik, maka jumlah perkawinan akan semakin meningkat secara signifikan. Sebaliknya, dalam suasana ekonomi mandeg, jumlah perceraian justru menjadi tinggi. Dalam masyarakat yang "maju", sebagaimana yang disinyalir Myrdal, ekonomi membaik, ternyata situasi perkawinan bukan membaik, malahan memburuk. Di negara-negara maju (dan gejalanya sudah mulai terasa di Indonesia) perceraian - sebagaimana halnya perkawinan dan ulang tahun - telah menjadi industri atau bussines. Cerai dan embel-embelnya telah tumbuh berkembang menjadi industri bagi para lawyer, travel agent, percetakan kartu undangan, wartawan infotainment (khusus bagi untuk selebritis). Cerai yang dahulu dianggap sebagai sesuatu yang tabu dan menjadi parameter status sosial seseorang, kini telah menjadi biasa. Bagi kalangan selebritis, perceraian berkorelasi dengan tingkat popularitas. Bahkan, perceraian yang baru "isu" bisa menjadi berita populer dan selebritis yang diisukan itu menjadi kerap tampil di media massa. "Cerita ranjang" yang seharusnya tidak dipublikasikan, justru dengan bangga dan bahagia diceritakan dan menjadi santapan publik.

Dalam tradisi ilmu sosiologi (khususnya sosiologi keluarga) belakangan ini, defenisi keluarga terpaksa "direvisi ulang". Pemahaman keluarga telah kembali kepada zaman biadab. Masyarakat, terutama di negara-negara maju, telah biasa mendapati keluarga yang "non-konvensional" seperti keluarga satu jenis (homoseksual atau lesbian), single parent, dan samen leven atawa kumpul kebo. Bahkan di Indonesia, beberapa selebritis memproklamirkan diri mereka sebagai pengikut Samen Leven dan dengan bangga memperkenalkan anak-anak hasil samen leven mereka. Ada pula selebritis yang tidak percaya sama sekali dengan institusi keluarga, membiarkan perutnya "buncit" tanpa diketahui siapa pemegang "hak paten"nya dan ketika ditanya "Why", maka mereka akan menjawab, "Saya aja tak ambil pusing dengan siapa ayah bayi yang saya kandung, mengapa kalian banyak yang usil". Enteng, tanpa beban. Dan ini hampir setiap hari ditonton oleh masyarakat. Krisis ekonomi adalah lahan utama bagi ahli ekonomi. Itu wajar dan sudah semestinya. Maka krisis keluarga ini harus menjadi lahan utama tokoh agama. Kesadaran semua tokoh dan pemimpin ummat beragama untuk reformasi agama (tentunya : berdasarkan tekstual dalam konteks perubahan sosial) akan dapat menjadi drug of choice (obat manjur) untuk melindungi anak cucu kita dari penderitaan "krisis keluarga" dalam membina keluarga in the age of divorce (tahun mewabahnya perceraian).

Jumat, 23 Oktober 2009

Kekuasaan dan Penguasa (Harus) Manusiawi

Oleh : Muhammad Ilham

Cerita 1 : Di sebuah tempat di pedalaman Aceh, ketika DOM (Daerah Operasi Militer) masih diberlakukan. Ada sebuah gubuk terpencil yang dihuni satu keluarga. Mereka adalah sebuah keluarga yang mengungsi ke tengah hutan karena tidak sanggup menghadapi konflik bersenjata GAM-TNI. Kedamaian seakan-akan menjadi barang luks. Ketakutan selalu menghantui mereka. Malam itu mereka berkumpul, makan malam bersama, sambil berbincang-bercanda. Suasana terasa hangat-lepas penuh kekeluargaan. Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Suasana riang berubah menjadi muram. Dari raut mukanya, terlihat sang ayah sangat takut. Disuruhnya salah satu diantara anaknya untuk melihat dan membukakan pintu. Si anak kemudian pergi ke arah pintu, sebagaimana yang diminta oleh ayahnya, dengan raut muka yang juga takut. Sementara sang ayah dan anggota keluarga lainnya menanti dengan harap-harap cemas. Beberapa saat kemudian, si anak yang disuruh membukakan pintu tadi mendatangi ayahnya, masih dengan raut muka takut. Sang ayah bertanya, "siapa yang mengetuk pintu tadi?". Si anak menjawab, "Malaikat maut, yah. Ia ingin bertemu dengan ayah !". Spontan si ayah ini menjawab, "Alhamdulillah, saya kira tadi yang datang tentara".

Cerita 2 : Ketika melalui Gunung Thai bersama-sama dengan murid-muridnya, Kong-hu Chu melihat seorang perempuan sedang menangis dekat sebuah kuburan. Filosof yang ahli hikmah ini kemudian mendekati perempuan ini dan bertanya, mengapa dia menangis. Perempuan itu menjawab, "Dulu ayah suamiku disergap harimau disini hingga mati. Kemudian suamiku-pun diterkam harimau. Malah sekarang anak laki-lakiku juga mengalami hal yang serupa". Kong-hu Chu kemudian bertanya, "Kalau seperti itu, mengapa anda tidak meninggalkan tempat ini ?". Sambil terus menangis, si perempuan itu kemudian menjawab, "Karena disini tidak ada pemerintah yang menindas". Lalu Kong-hu Chu berkata kepada murid-muridnya, "Ingatlah, pemerintah yang menindas jaub lebih mengerikan dari pada harimau".

Sang ayah di pedalaman hutan belantara Aceh di atas, tidak takut dengan kedatangan Malaikat Maut dibandingkan dengan kedatangan-kunjungan seorang tentara (baca: TNI) kala itu. Demikian juga dengan peringatan Kong-hu Chu. Seekor harimau, paling-paling hanya bisa membunuh dengan satu-dua kali terkaman, tetapi pemerintah dan perangkatnya (baca: penguasa) yang dzolim dan tiranik, dapat membunuh manusia dengan penyiksaan terlebih dahulu yang jauh lebih menyakitkan dan mengerikan dari Malaikat Maut atau harimau sekalipun. Penguasa atawa kekuasaan sungguh menggiurkan. Penguasa atawa kekuasaan juga bisa melahirkan kemashlahatan manusia. Tapi kekuasaan yang tiranik - tanpa ada kontrol dan pembatasan - jauh lebih menakutkan dari Malaikat Maut dan Harimau. Karena itu, kekuasaan harus dibatasi agar tidak menjadi tirani yang "menandingi" kekuasaan Tuhan. Karena itu, untuk membatasi kekuasaan sang penguasa, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan secara serius, diantaranya : Kekuasaan negara harus berorientasi kepada demokratisasi ekonomi. Artinya, sektor-sektor bidang ekonomi (baik skala hulu maupun hilir) harus memberikan manfaat bagi masyarakat secara umum. Kemudian, pemerintah atau penguasa yang sedang berkuasa tidak boleh memaksakan diri melanggengkan kekuasaannya, dengan dalih dan justifikasi apapun, apalagi melalui intimidasi. Tidak ada hukuman bagi pengkritik, baik yang disampaikan secara resmi atau tidak resmi, asal kritik tersebut argumentatif dan proporsional.

Selanjutnya, demokrasi harus menekankan perlindungan terhadap individu-individu dan minoritas-minoritas dari tirani. Kemudian, penguasa harus "mengajarkan/memperlihatkan" kepada masyarakat bahwa kekuasaan yang dipegangnya tersebut sebagai hal yang biasa, manusiawi dan hanya merupakan titipan dari Allah SWT., Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan ini tercermin ketika kekuasaan tersebut lepas dari genggamannya, sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Lech Walesa, seorang tukang listrik di Pelabuhan Gdanks Polandia. Walesa yang memimpin Partai Kaum Buruh (Partai Solidaritas) menggulung Partai Komunis Polandia, menjatuhkan Jenderal "the untouchable" Jaruzelski, sekitar tahun 1990. Walesa kemudian didaulat jadi Presiden Polandia. Buruh jadi Presiden, dalam demokrasi itu biasa dan bisa. Ketika tahu 1995, Walesa turun dari jabatan Presiden. Partainya kalah dalam Pemilu. Walesa kemudian kembali ke habitatnya, jadi buruh listrik di Gdanks. Tanpa malu dan tanpa beban apa-apa. Ketika ditanya tentang hal ini, Walesa menjawab, "saya masih muda untuk pensiun dan tidak punya cukup uang untuk hidup". Alangkah wajar dan bersahajanya jabatan dan kekuasaan kepresidenan dipandang dan diperlakukan di di Polandia. Presiden yang tadinya "di atas", ketika selesai, bisa (dan mau) alih profesi menjadi buruh yang "dianggap di bawah" (bila dibandingkan dengan Presiden). Walesa melenggang ketika turun dari kursi kekuasaan tanpa "isi dompet" bengkak-memelar, melainkan kembali ke "khittahnya" sebagai buruh listrik, tanpa post power syndrom. Kekuasaan pada prinsipnya adalah sesuatu yang manusiawi, karena itu perlakuan kita terhadap subjek dan objek kekuasaan juga harus manusiawi.

Rabu, 14 Oktober 2009

Kabinet Baru Tanpa Dikotomi

Oleh : Muhammad Ilham

Bulan Oktober ini, Presiden dan Wakil Presiden terpilih akan dilantik. SBY akan kembali ke pelaminan dengan pasangan barunya, Boediono - intelektual "cool-hand" klimis kaya senyum. Terlepas suka atau tidak suka, vox populis vox dei - "Suara Rakyat Suara Tuhan", sebuah konsekuensi logis-rasional dari pilihan demokrasi. Perdebatan tentang hal, selesai. Tinggal lagi perdebatan komposisi kabinet. Siapa dan posisi apa. Political Scientist Harold L. Laswell secara gamblang menggambarkan : Who get what, how and when. Siapa mendapatkan apa, dalam posisi mana serta kompromi politik yang diambil, mulai terasa auranya dalam blantika politik Indonesia akhir-akhir ini. Terlepas dari perdebatan harus banyaknya profesional dibandingkan dengan wakil partai politik di kabinet mendatang, perdebatan masalah usia calon menteri tetap terus terasa, setidaknya hingga hari ini. Dalam berbagai media massa, nyata-nyata terungkap ada keinginan berbagai kalangan agar generasi muda terakomodinir dalam komposisi kabinet. Sementara, menteri-menteri yang sudah hampir mendekati usia senja, sudah seharusnya "menepi" dan memberikan peluang bagi generasi muda. Alasannya, tantangan ke depan sungguh sangat berat, dan butuh tenaga-tenaga energik. Sementara pada sisi lain, ada sebagian kalangan yang menitikberatkan pada kematangan dan kedewasaan. Jelas, bagi mereka, generasi muda harus terlebih dahulu berproses, jangan karbitan dan oleh karena itu, kabinet yang mendatang adalah kabinet yang diisi oleh orang-orang matang dan dewasa. Kematangan dan kedewasaan yang diuji oleh waktu, setidaknya demikian anggapan kalangan ini.

Gamal Abdel Nasser, pemimpin kharismatik Mesir yang menghembuskan Pan-Arabisme sanggup menjadi pemimpin Mesir berpengaruh, bahkan Arab. Pengagum penyanyi legendaris Arab Ummi Kaltsum ini mampu menggulingkan Raja Farouk yang gembrot ketika usianya belum 30 tahun. Muammar Qaddafi menghalau Raja Idris dan berkuasa di Libya yang kaya minyak itu, juga dalam usia yang belum 30 tahun. Si Brewok, Fidel Castro, berhasil menggulingkan diktator Batista dan memimpin mahasiswa revolusioner memasuki kota Havana serta jadi kepala negara Kuba, padahal umurnya belum 30 tahun. John Fritgerald Kennedy, dalam usia mendekati 40 tahun, menjadi presiden termuda lewat pemilu sepanjang sejarah negeri Paman Sam ini. Ia ganteng, cerdas dan selalu tampil rapi. Sisiran rambutnya yang "manis" mencerminkan bagaimana ia ingin tampil sempurna. Dalam usia muda, ia menjadi pemimpin yang mampu mengambil sikap tegas dan berani mengambil tanggung jawab, bukan melempar. Peristiwa "Teluk Babi" tercatat dalam sejarah sebagai bentuk keberanian dan ketegasan seorang "anak muda" dan klan Kennedy yang pernah menulis dua buah buku ini, Why England Slept dan Profiles in Courrage. Mereka semua muda dan mereka matang, tegas dan dewasa serta berintegritas.

Mao Ze Dong yang tinggi besar bagai patung lilin dan berwajah dingin, dalam usia yang sudah "larut" mampu menggerakkan revolusi besar dan menghalau Chiang Kai Shek hingga lari ke Taiwan. Kamerad Mao ini masih sanggup menggerakkan Revolusi kebudayaan. Bahkan konon, ia juga masih sanggup dalam usia mendekati 70 tahun, berenang-renang di Sungai Kuning dan sesudah itu melahap habis sebaskom mie bakso tanpa berkedip. Dalam usia tua, vitalitasnya justru makin berkembang.

Bung Karno yang ganteng dengan pancaran mata sangat berbinar, gelegar suara membahana, orator ulung dan sangat flamboyan, bisa jadi pemimpin berwibawa. Ia bersama Hatta "memutar" roda sejarah Indonesia. Ganteng dan muda. Nikita Kruschev mampu menjadi pemimpin Uni Sovyet yang brilyan dan masyhur. Badannya tambun dan berkepala bundar. Konon ia baru bisa membaca dalam usia hampir 20 tahun. Tapi ia pintar, bertanggung jawab dan berintegritas. Pemimpin Rusia sewaktu Kennedy jadi pemimpin Amerika Serikat ini pernah membuka sepatunya dalam Sidang Umum PBB ...... dan memukul-mukul meja, sebagai ekspresi kemarahan luar biasanya pada Amerika, pada Kennedy. Ketika John Kennedy mati tertembak, ia adalah salah seorang "lawan" yang menitikkan air mata dan termasuk orang pertama mengucapkan belasungkawa.

Siapa yang tidak kenal dengan Ho Chi Minh? Jangan sandingkan ia dengan Sukarno, apalagi Kennedy. Ia akan tereliminasi dalam babak awal. Tapi sejarah mencatat, ia mampu menjadi pemimpin terbaik bagi rakyatnya, walau bukan muda apatah lagi gagah. Ia bermata sayu mirip seperti orang bangun tidur, tapi ia sanggup membabat habis pasukan Perancis di Dien Bien Phu dan pasukan Amerika Serikat, sehingga Amerika Serikat terpaksa terus menerus melahirkan berbagai film sejenis "Rambo" untuk menafikan integritas seorang Ho Chi Minh. Jawaharlal Nehru - ayahanda Indira Gandhi dan kakek Rajiv Gandhi - mirip Shah Rukh Khan, semampai dan senantiasa menyelipkan sekuntum mawar merah di bajunya. Penggantinya, Lal Bahadur Shastri berperawakan kecil, bisa menjadi juga menjadi pemimpin sebagaimana halnya Nehru yang semapai-gagah. Chou En Lai tergolong pemimpin RRC yang gagah, beralis tebal dan berair muka merah jambu - refleksi pancaran inteligeni tinggi. Tapi penggantinya Chen Yi, justru kebalikannya, bermuka "udik", tak sedap dipandang mata dan cenderung tidak menyukai protokoler. Tapi Chen Yi bisa memimpin warganya dengan baik, seperti Chou En Lai.

Sejarah telah mengajarkan, tak ada referensi terbaik bahwa usia memberikan kontribusi besar terhadap potensi kepemimpinan. Sejarah juga memberikan pelajaran berharga, bahwa pemimpin terbaik itu tidak ditentukan "profile-tubuh" indah sedap dipandang mata. Pemimpin-pemimpin besar di atas, selalu berfikir dan memiliki integritas tinggi bagi rakyatnya. Berfikir dan integritas tidak monopoli kaum muda atau kaum tua atau orang jelek apatah lagi orang gagah. Sineas almarhum Asrul Sani, suatu waktu pernah mengatakan : "ada dua jenis pemimpin, ada yang duduk di sofa (baca : kekuasaan dan jabatan) sebagai keharusan dan berfikir (untuk rakyat) sebagai sesuatu yang luks, dan ada pemimpin yang berfikir (untuk rakyat) sebagai sebuah keharusan dan duduk di sofa sebagai luks. Selamat datang di ranah tantangan, kabinet baru SBY-Boediono.

Selasa, 13 Oktober 2009

Ancaman 8,8 Skala Richter : "Mari Bersahabat Dengan Gempa"

Oleh : Muhammad Ilham

Ada cerita menarik : "disebuah perkampungan padat penduduk terdapat dua buah bangunan kontradiktif, masjid dan bangunan hotel yang sarat dengan aura prostitusi. Kedua bangunan kontradiktif ini, dibangun berdekatan, hampir sama tinggi. Tapi masjid lebih kokoh, sedangkan hotel mesum tersebut terkesan muram (maklum, pengunjungnya suka yang muram-muram). Sepintas lalu, bangunan masjid akan tahan dengan "ujian alam" - dari perspektif apapun, baik teologis maupun kepatutan alam fisik. Allah pasti akan menjaga rumahnya (baca: masjid), apalagi masjid dibangun dengan struktur bangunan yang cukup kuat, dibandingkan dengan hotel mesum yang nyata-nyata "musuh Allah". Tapi apa nyana, ketika petir-kilat datang menyambar, justru masjid yang hancur, sedangkan hotel mesum tetap berdiri kokoh dalam kemesumannya. Salahkah Allah ? ....................... tidak. Rupanya pengurus masjid ini terlampau over confidence, Allah pasti menjaga rumahnya, sehingga pengurus lupa membaca Sunnatullah. Pengurus lupa atau merasa tidak perlu menyuruh kontraktornya membuat kawat anti gempa di atas bangunan masjid nan kokoh ini, sementara hotel mesum membaca Sunnatullah .......... mereka pasang anti gempa di atas bangunan mereka. Masjid disambar kilat, hotel mesum tetap berdiri ................... dan ini berarti Bukan Allah yang salah atau marah kepada masjid, tapi Allah akan menjaga orang-orang yang tetap memperhatikan Sunnatullah (Muhammad Ilham, 1999: 20-21)

Saya bukan ahli gempa (bahkan istilah Richter tersebut sampai hari ni saya tak tahu sejarahnya) dan sangat bodoh tentang seluk beluk gempa. Bagi saya gempa ibarat "hujan", dari dulu hujan tersebut pasti ada dan selalu turun terus menerus, tergantung kondisi geografis-nya. Ada daerah yang intensitas turun hujannya cukup tinggi, ada daerah yang menganggap hujan sebagai fenomena langka, tapi tetap hujan itu turun. Ini memperlihatkan hujan adalah sunnatullah. Demikian dengan gempa. Persoalannya sekarang adalah gempa merupakan salah satu fenomena alam yang "sulit" bahkan hampir tidak bisa diprediksi, kapan ia datang sebagaimana halnya hujan, begitu mudah diprediksi dan memiliki tingkat validitas prediksi cukup tinggi. Gempa tidak. Tapi ia tetap fenomena (baca: sunnatullah) yang sejak nabi Adam hingga sekarang (dipastikan) telah ada. Oleh karena itu, prediksi-prediksi scientifik tentang gempa yang banyak bermunculan belakangan ini justru terkadang "melawan arus" metodologis keilmuan "pergempaan". Sejak gempa sering "berkunjung" ke Indonesia, hampir semua pakar Gempa mengatakan bahwa gempa adalah fenomena alam yang tidak bisa diketahui kapan dan dimana datangnya. Akan tetapi, tetap saja ada pernyataan-pernyataan (baik dari para ahli gempa, ahli nujum, dukun selebrities dan seterusnya) yang mengeluarkan komentar seakan-akan gempa seperti hujan yang bisa diprediksi. Kita masih ingat, bagaimana prediksi seorang ahli "nujum/paranormal" Brazil yang mengatakan bahwa pantai barat Sumatera Barat akan dihantam tsunami pasca tsunami Aceh ...... dan itu tidak akan lama. Lucunya, ia (konon) memprediksi akan terjadi pada hitungan bulan. Nyatanya, tak terjadi. Dan, kita banyak juga mendengar analisis "supranatural" lainnya yang tetap menganggap bahwa tsunami akan singgah di Sumatera Barat. Pasca gempa 30 September 2009 yang lalu, ditengah suasana panik luar biasa masyarakat Sumatera Barat, muncul lagi isu tentang potensi gempa yang lebih besar ..... dengan menggunakan dalil epistimologik-metodologik. Berikut narasinya, sebagaimana yang saya kutip dari www.vivanews.com :

Kota Padang dan sekitarnya kini tengah tidur di atas bom waktu. Ancaman gempa susulan sebesar 8,8 skala ritcher (SR) mengancam. Potensi tsunami pun meruyak. Demikian analisis Direktur Obervasi Bumi dari Nanyang Technological University Singapura, Kerry Sieh, seperti dimuat The Strait Times edisi Rabu 14 Oktober 2009. Menurutnya, banyak pergerakan tektonik di muka bumi ini. “Tetapi tidak ada yang seaktif Padang dalam beberapa dekade terakhir,”katanya. Gempa 7,6 SR yang menghantam Padang dua pekan lalu dan menewaskan seribu lebih manusia, menurut Kerrry, hanyalah pembukaan dari gempa yang lebih dashyat. “Tidak ada satu tempat di bumi yang melepaskan begitu banyak aktivitas seismik selama dekade terakhir selain wilayah Sumatera Barat,”katanya, Ia dan rekannya peneliti Indonesia kini tengah meneliti wilayah dengan radius 400 km di pulau Mentawai, Sumetara Barat. Ia memprediksi akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan 8,8 SR dan berpotensi tsunami seperti halnya tsunami tahun 2004 di Aceh. Gempa ini diduga akan terjadi tak lama lagi. Dia dan timnya juga tengah meneliti Sunda megathrust. Ia dan timnya menemukan gempa yang disebabkan oleh Sunda megathrust terjadi dalam siklus 200 tahunan sekali. Yakni pada tahun 1300, 1600 dan 1800.

Tanpa menafikan dalil epistimologik sebuah disiplin ilmu, tapi yang jelas, pernyataan para ahli yang meng-klaim akan terjadi potensi gempa luar biasa (berikut tsunamy) di Kota Padang dan sekitarnya, jelas "berlawanan" dengan dasar epistimologik-metodologik yang baku dan menjadi mainstream dasar epistimologik dalam ilmu "pergempaan" ........... yaitu gempa adalah fenomena alam yang tidak bisa diprediksi. Tapi, simpulan para ahli tersebut tetap menjadi sebuah ikhtiar dari anak manusia dalam mengingat anak manusia yang lain, agar hati-hati dengan fenomena alam. Mungkin alam sudah mulai bosan (meminjam ungkapan Ebiet G. Ade). Oleh karena itu, bersahabatlah dengan alam. Bangunlah bangunan yang bersahabat dengan perhitungan yang mengikuti hukum alam. Jangan membohongi hukum alam. Kita masih ingat, tsunamy Aceh memberikan pelajaran paling berharga bagi peradaban ummat manusia. Bila konstruksi infrastruktur bangunan mengikuti hukum alam dan tidak mudah memberikan izin dalam membangun infrastruktur yang dimana mobilitas masyarakat pada infrastruktur tersebut cuukup mobile dan besar, kemungkinan korban tsunamy di Aceh bisa diminimalisir. Seandainya bangunan di Kota Padang (baca Pemerintah Daerah) "lebih memperhatikan" tata dan sistem bangunan-infrastruktur dengan baik, rigid, sistematik dan patuh pada sistem yang telah ditetapkan berdasarkan kepatutan alam, niscaya bangunan-bangunan kota Padang dan sekitarnya, pada waktu 30 September 2009 yang lalu, tidak menjadi penyumbang terbesar kematian anak bangsa. Ketika tsunamy Aceh terjadi, negara Malaysia (khususnya daerah Pulau Pinang) termasuk daerah yang dilandasi imbas tsunamy cukup besar, tapi mengapa korban tidak banyak yang berjatuhan ?. Sistem telah terbangun dengan baik, bangunan-bangunan kokoh dan sterusnya. Mengapa Jepang yang "marasai" kena gempa - bahkan tsunamy-pun menjadi hak paten Jepang - bisa "bersahabat" dengan gempa ? Mengapa orang Belanda bisa menjadi negara yang rata-rata berada 1 meter dibawah permukaan laut, sehingga masyarakat mereka memiliki kebiasaan memegang batang hidung ketika bicara (entah ada hubungannya entah tidak, saya tak tahu)?. Lalu mengapa, banyak rumah-rumah di komplek perumahan - setidaknya itu yang saya saksikan - di Kota Padang, banyak ambruk ? Mengapa banyak gedung-gedung yang rontok ? Adakah yang salah dalam proses membangunnya ? atau, pemerintah yang berhak mengurus kepentingan hajat hidup warganya, setidaknya mengayomi, tidak memperhatikan ketentuan/sistem yang harus ditetapkan secara tegas kepada warganya, terutama yang berkaitan dengan "prosedur pembangunan-infrastruktur" ?. Saya hanya membayangkan, tahun-tahun ke depan, bangunan menjulang tetap ada di Kota Padang, tapi kokoh dan telah teruji dengan sistem yang telah ditetapkan. Saya juga membayangkan, tidak ada lagi perumahan murah yang dibangun dengan "acak-acak" dan bisa bolong ketika anak kita menendang dindingnya. Ke depan, perumahan yang saya bayangkan di Kota Padang, adalah perumahan murah nan mungil lagi kuat serta bersahabat dengan alam ............ dan suatu hari saya membayangkan pula akan membaca headline sebuah media massa Kota Padang : "Sebuah Komplek Perumahan Murah Untuk Rakyat Miskin Dirobohkan atas Suruhan Pemerintah Daerah Karena Belum Lulus Standarisasi Gempa". Besoknya, saya juga membaca headline pada media lain : "Seorang Developer dicabut izin usahanya karena Perumahan yang dibangunnya banyak yang retak" ........... Selanjutnya, mau tidak mau, gempa selalu akan datang, tapi entah kapan dan dimana, hanya Allah yang tahu. Karena itu, bersahabat dengan gempa sudah harus mulai difikirkan oleh ummat manusia. Karena memang, sebagaimana halnya hujan-angin-puting beliung dan gempa itu ada di bumi. Saya tidak tahu, apakah ada "bumi" lain yang tidak pernah dikunjungi oleh gempa. Kalau memang ada, rasanya ingin kita membelinya ............ tapi tidak tahu di toko mana dijual. Wallahu a'lam bisshawab

G 30 S (Baca : Gempa Tiga Puluh September) : "Kenalkan, Nama Saya Mak Gampo"

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam antropologi budaya, nama menunjukkan sistematisnya sebuah budaya. Kata antropolog Bronislaw Malinowski, dari nama akan diketahui sistem dan interaksi sosial sang ego (baca: nama) tersebut berproses secara sosial kultural. Di beberapa daerah, Bali misalnya, dari nama akan menunjukkan posisi sosialnya. I Gusti, I Nyoman, Idayu dan seterusnya bukan tanpa makna, tapi bisa menjawab pertanyaan : "Bagaimana status sosialnya ?". Di daerah-daerah lain, juga ditemukan hal-hal seperti ini. "Andi dan devian-nya di Makassar, Tengku dan sejenisnya di pesisir timur Sumatera, Syah-Sidi-Marah di pesisir barat Sumatera Barat dan sebagainya. Ungkapan William Shakespeare, "what is name" ...... nampaknya tak "matching". Dalam tradisi Islam "garis keras" (saya menggunakan konsep debatable), terutama di Indonesia beberapa tahun belakangan ini, terdapat beberapa tokoh/elit ideologi-institusi yang menghilangkan nama asli mereka dan lebih "familiar" menggunakan nama yang menunjukkan posisi genetik-nya terhadap anak kandungnya. Jadi, tidaklah mengherankan kemudian kita mengenal nama Abu Djibril (Ayah Muhammad Djibril) yang merupkana tokoh Majelis mujahiddin Indonesia, Abu Ghiffari (Ayah Ghiffari) yang bernama asli Ir. Hadi Wijaya yang merupakan salah satu mantan elit Jama'ah Islamiyah, Abu Dujana, Abu Hadi, Abu Lathief dan sebagainya. Uniknya, mayoritas "labelling" pada anak laki-laki.

Di komplek perumahan saya, hal seperti ini juga terjadi. Kalau istri saya biasa dipanggil Ibu Ifa dan saya Ayah Ifa (Ifa anak saya yang tertua). Tetangga saya sering dipanggil mama Bilqis, papa Fauzi, mama Daffa dan sterusnya. Terkadang, saya pribadi tidak tahu secara persis nama lengkap warga yang saya pimpin di komplek perumahan tempat saya tinggal, namun akan cepat mengetahui posisi rumah mereka ketika label nama anak mereka dipakai ........ Ayah Ihsan di Blok A/3, papa Rudi Blok E/7, mama Fani Blok G/12 dan sterusnya. Bedanya dengan labelling nama sebelumnya, labelling nama yang saya jumpai - termasuk di komplek saya tersebut - selalu untuk anak tertua, tidak tergantung anak tersebut laki-laki. Di ujung Blok komplek perumahan saya, ada satu keluarga yang hingga hari ini saya hanya mengenal nama lengkap suami - Joni Anwar @ Jon, "bos" payung di Pasar Raya Padang. Sementara nama istrinya, yang saya tahu hanya ............. "Mak Gampo". Gampo, lengkapnya Hendra Gampo adalah nama anaknya yang tertua, kira-kira berumur 5 tahunan. Sebuah nama yang sangat historis. Kebetulan, si anak ini lahir waktu Gempa Aceh terjadi. Untuk mengabadikan moment historis ini, maka si Jon yang bos payung ini memberikan kata Gampo dibelakang nama anaknya. Jadilah si kecil lincah ini lebih sering dipanggil warga dengan ..... Gampooooooooo, dibandingkan hendra, dan ibunya dengan panggilan Mak Gampo.

Pasca gempa 30 September 2009, kata-kata gempa menjadi kata yang memiliki potensi "destructive psychologis" bagi warga di komplek saya. Mendengar kata-kata gampo (bahasa Minangkabau dari gempa), warga agak traumatik. Hari Minggu, 3 hari setelah gampo terjadi, hari cukup cerah, warga banyak yang duduk-duduk dan tidur-tiduran di tenda-tenda (maklum, di komplek saya terdapat 20 rumah yang ambruk akibat gempa) terdengar teriakan keras dari ujung blok saya : ...... "Gampoooooooooooooo, Gampooooooooooo, Gampooooooooo !!!!!!". Warga yang lagi tidur-tiduran dan bercengkrama di tenda-tenda ini berhamburan keluar, lari dan mencari posisi "aman". Maklum, trauma. Beberapa saat kemudian, warga merasa heran, tak terasa sedikitpun "hoyak" gampo. Rupanya, setelah mencari sumber suara yang meneriakkan "gampo" tadi, akhirnya, warga yang ketakutan tadi ketawa terbahak-bahak. Mak Gampo yang istri si Joni Anwar ini sedang berteriak-teriak memanggil anaknya - si Gampo - yang bermain di dekat sungai kecil. Mak Gampo rupanya takut anaknya tercebur ke dalam sungai. Beberapa hari belakangan ini, Mak Gampo jarang memanggil anak dengan "kata-kata keramat" ini lagi. Kata tetangga saya, Mak Gampo lebih sering memanggil anaknya dengan "Hendra". Cukup kereen dan tidak berpotensi menciptakan "kegaduhan".

Senin, 12 Oktober 2009

Pidato Kontroversial Ahmadinedjad di MU-PBB

Ditulis ulang oleh : Muhammad Ilham

Artikel ini merupakan ringkasan dari pidato Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dalam sidang tahunan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa di New York AS, 23 September 2009. Transkrip pidato sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta

Selama empat tahun terakhir, saya telah memaparkan sejumlah tantangan utama yang dihadapi dunia. Saya pun telah mengutarakan pangkal penyebab tantangan-tantangan itu dan perlunya bagi kekuatan-kekuatan dunia untuk meninjau pandangan mereka dan mengupayakan mekanisme baru untuk mengatasi masalah-masalah internasional. Saya juga telah memperbincangkan dua pandangan yang bertentangan: yang satu lebih banyak berdasarkan kepentingan-kepentingan materialistik melalui penyebaran ketimpangan dan penindasan, kemiskinan dan perampasan, agresi, pendudukan dan muslihat, serta cenderung membawa seluruh dunia di bawah kendalinya dan menerapkan kemauannya kepada bangsa-bangsa lain. Pandangan ini tak lain hanya menghasilkan frustrasi, kekecewaan, dan masa depan yang kelam bagi seluruh umat manusia.

Pandangan yang lain adalah yang berdasarkan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, mengikuti ajaran dari para nabi-Nya, menghargai martabat manusia dan berupaya membangun dunia yang aman bagi semua umat manusia, di mana semua orang dengan setara bisa menikmati berkah perdamaian dan spiritualitas. Yang terakhir ini merupakan pandangan yang menghargai semua umat manusia, bangsa, dan kebudayaan-kebudayaan yang berharga dalam menentang segala bentuk diskriminasi di dunia dan membaktikan diri kepada perjuangan yang terus-menerus untuk mendorong persamaan bagi semua pihak di depan hukum berdasarkan keadilan dan persaudaraan, serta menaruh landasan yang solid demi menjamin akses yang setara bagi semua umat manusia dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Saya berulang kali menekankan perlunya membuat perubahan-perubahan fundamental dalam situasi di dunia saat ini dan bagi kehidupan manusia demi menciptakan masa depan yang cerah. Maka, saya ingin berbagai beberapa hal mengenai perubahan-perubahan yang harus berlangsung.

Pertama, situasi di dunia seperti saat ini tidak mungkin dilanjutkan. Kondisi yang tidak seimbang dan tidak menguntungkan saat ini bertentangan dengan sifat umat manusia dan bergerak ke arah yang berlawanan dengan kebenaran dan tujuan di balik penciptaan dunia. Kini tidak mungkin lagi untuk menyuntikkan ribuan miliar dolar kekayaan yang semu ke perekonomian dunia hanya dengan mencetak aset-aset kertas yang tak berharga atau mentransfer inflasi dan masalah-masalah sosial dan ekonomi ke pihak-pihak lain melalui defisit-defisit anggaran yang parah. Mesin kapitalisme yang tak terkendali dengan sistem pemikiran yang tidak adil telah berada di ujung jalan dan tak mampu lagi bergerak. Era pemikiran kapitalis dan penerapan salah satu pemikirannya bagi masyarakat internasional dan berupaya menguasai dunia atas nama globalisasi telah berakhir. Kini tidak mungkin lagi untuk mempermalukan bangsa-bangsa dan menerapkan kebijakan-kebijakan standar ganda bagi masyarakat dunia.

Berbagai pendekatan di mana realisasi kepentingan kekuatan-kekuatan tertentu dianggap sebagai satu-satunya kriteria untuk mengangkat demokrasi dan menggunakan metode-metode intimidasi dan pengecohan terburuk di bawah mantel kebebasan sebagai praktik demokrasi haruslah ditolak. Begitu pula dengan pendekatan-pendekatan di mana para diktator digambarkan sebagai demokrat dan kurang legitamsi juga tidak boleh diterima. Saatnya telah berakhir bagi mereka yang menentukan demokrasi dan kemerdekaan, sementara di saat yang sama mereka juga yang pertama-tama melanggar prinsip-prinsip fundamental. Mereka tidak bisa lagi duduk baik sebagai hakim maupun eksekutor serta menantang para pemerintahan yang benar-benar dibentuk secara demokratis. Kebangkitkan banyak bangsa dan ekspansi kebebasan di penjuru dunia tidak bisa lagi memungkinkan mereka untuk melanjutkan kemunafikan dan perilaku yang jahat. Maka, semua bangsa termasuk rakyat Amerika Serikat tengah menunggu perubahan yang nyata dan besar.

Tak dapat dibayangkan bila kebijakan-kebijakan atas Palestina terus berlanjut: Mengusir seluruh populasi dari suatu negeri yang telah menjadi tanah air mereka selama lebih dari 60 tahun dengan kekuatan dan paksaan; menyerang mereka dengan segala bentuk senjata; mengabaikan hak-hak mereka untuk membela diri sementara banyak pihak menyebut penjajah sebagai kaum yang cinta damai dan melihat para korban sebagai teroris. Bagaimana bisa kejahatan penjajah atas para perempuan dan anak-anak dan penghancuran rumah mereka didukung oleh sejumlah pemerintah tanpa syarat. Di saat yang bersamaan, para lelaki dan perempuan terjajah yang menjadi korban genosida dan blokade ekonomi yang parah tidak bisa mendapat kebutuhan pokok, pangan, air, dan obat-obatan. Mereka bahkan tidak diperbolehkan untuk membangun kembali rumah-rumah mereka yang hancur akibat serangan barbar selama 22 hari oleh rezim Zionis sementara musim dingin kian dekat. Para agresor dan pendukung mereka justru secara licik melanjutkan retorika mereka dalam membela hak asasi manusia dalam rangka menekan pihak-pihak lain.

(Saat Ahmadinejad mengucapkan dua kalimat di atas, para perwakilan dari negara-negara Barat - seperti Prancis, Amerika Serikat, Inggris, dan lain-lain - ramai-ramai melakukan aksi walkout dengan keluar dari ruang sidang kendati Ahmadinejad belum selesai berpidato. Presiden Iran itu tetap melanjutkan pidatonya)

Kini, tak dapat lagi diterima bahwa suatu minoritas yang kecil akan mendominasi politik, ekonomi, dan budaya dari penjuru dunia dengan jaringan mereka dan menciptakan bentuk baru perbudakan serta menghancurkan reputasi bangsa-bangsa lain - bahkan termasuk bangsa Eropa dan AS - untuk mencapai ambisi-ambisi rasis mereka. Kini tidak dapat diterima bahwa pihak-pihak yang berada ribuan kilometer jauhnya dari Timur Tengah akan mengirim pasukan mereka untuk melakukan intervensi militer dan menyebarkan perang, pertumpahan darah, agresi, teror, dan intimidasi di seluruh kawasan. Mereka pun menyalahkan protes negara-negara di kawasan itu - yang prihatin atas nasib dan keamanan nasional mereka - sebagai tindakan menentang perdamaian mencampuri urusan pihak lain. Lihatlah situasi di Irak dan Afganistan.
(Insert : Foto Ahmadinedjad dalam "Pidato Kontroversial". Sumber : www.vivanews.com)

G 30 S (Baca : Gempa Tiga Puluh September) : "Pesta Perkahwinan Tanpa Tamu Undangan"

Oleh : Muhammad Ilham

Biasanya, ditengah kondisi setragis apapun, terselip cerita-cerita indah, memilukan ataupun membuat kita nelangsa. Salah seorang kolega saya sesama dosen-pensyarah di Fakultas Ilmu Budaya-Adab IAIN Imam Bonjol Padang, berniat melaksanakan pesta perkahwinan pada hari Sabtu tanggal 3 Oktober 2009. Tempatnya, di Gedung Serba Guna IAIN Imam Bonjol Padang. Undangan "dari bahan cukup berkelas" jauh hari telah disebarkan. Tapi apa nyana, Gedung yang ingin dipakai itu, retak "urat nadi" dan berpotensi membuat takut para undangan. Apalagi, mayoritas para undangan itu, memiliki problem tersendiri pasca gempa terjadi. Akhirnya, pesta dilewatkan dan menjadi catatan "manis-mengecewakan" bagi ke dua pengantin. Demikian juga kisah-kisah lain di beberapa tempat. Pasca 'Idhul Fithri jelang 'Idhul 'Adha merupakan waktu indah nan sakral bagi masyarakat Minangkabau untuk melaksanakan perhelatan anak-cucu -kemenakan mereka. Tidaklah mengherankan kemudian, muncul berbagai cerita suka duka di seputar perhelatan perkahwinan, di antaranya seperti yang di alami pasangan Syahrial (25) dengan Izzah (22).

Niat hati pulang sejenak dari perantauan di Jakarta untuk melaksanakan pesta perkawinan. Namun apa mau dikata, saat pesta perkawinan digelar justru tidak ada tamu undangan yang datang. Ini semua gara-gara gempa. Ini sekelumit cerita di balik musibah gempa yang mengguncang Bumi Minang. Usai lebaran atau bulan Syawal dianggap hari yang baik dilaksanakannya pernikahan. Begitu juga dengan pasangan pengantin Syarial dengan Izah warga Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Usai lebaran sepekan lalu, keduanya telah berencana mengakhiri masa lajang. Usai akad nikah, mereka pun menyebarkan undangan yang tertulis pesta perkawinan akan diselenggarakan Kamis (1/10/2009). Segala persiapan pun dilakukan. Tenda telah dipesan, pelaminan telah ditampilkan serta segala macam hidangan daging untuk tetamu pun telah siap dimasak.Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sehari sebelum pesta dilaksanakan, Rabu (30/9/2009) Bumi Minang diterjang gempa. Ribuan rumah ambruk rata dengan tanah. Bersyukur rumah sang pengantin hanya roboh di bagian dapur saja. Walau baru dilanda gempa, pesta perkawinan tetap dilangsungkan. Mempelai mengenakan pakaian adat Minang. Mereka berdua duduk di pelaminan. Tetapi, tamu undangan tidak ada yang datang. Pesta pun hanya diramaikan beberapa keluarga terdekat saja.

"Pesta tetap dilaksanakan walau tanpa undangan. Mereka tetap foto-foto bersama keluarganya. Pengantinnya bilang, momen foto duduk di pelaminan itu sangat penting untuk kenang-kenangan, walau pestanya tanpa dihadiri tamu," ungkap Jon Hendra, kakak sepupu sang mempelai pria. Senyum bahagia tetap terpancar dari wajah kedua mempelai. "Tidak mungkin dibatalkan, sebab urusan sewa tenda, baju pelaminan semuanya sudah dibayar duluan. Begitu juga dengan masak daging. Jadi nggak mungkin pesta dibatalkan begitu saja," cerita Jon yang kesehariannya bekerja sebagai petani. Karena tak ada tamu undangan yang datang, akhirnya daging yang sudah dimasak dibagi-bagikan ke korban gempa.

(Insert : Salah satu bangunan yang roboh akibat gempa/Sumber : www.detiknews.com)

G 30 S (Baca : Gempa Tiga Puluh September) : "Saudaraku yang Memalukan"

Oleh : Muhammad Ilham

Peter F. Drucker, dedengkot Ilmu Manajemen, pernah mengatakan bahwa keberhasilan seseorang berkorelasi dengan kemampuannya memanfaatkan dan mengoptimalkan kesempatan yang ada. Sementara itu, "mbah"-nya Kapitalisme - Sdr. Adam Smith - mengeluarkan diktum tersohor : "Dengan modal kecil untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya". Minimalisir modal untuk maksimalisasi keuntungan. Bila digabungkan dua rumus "matematika" ini, maka lahirlah rumus (baru) : "orang berhasil itu adalah orang yang mampu memanfaatkan kesempatan untuk meraup keuntungan besar dengan modal kecil".

30 September 2009, Jam 16.00 WIB sore, lebih kurang, beberapa saat setelah gempa terjadi, saya bersama istri terjebak macet luar biasa. Jarak dari sekolah tempat istri saya mengajar ke rumah kami di Perumahan tempat kami tinggal di Korong Gadang Kuranji sekitar 13 Km, lebih kurang. Kalau dari kampus IAIN tempat saya mengajar, sekitar 8 Km, lebih kurang pula. Kalau suasana normal, ataupun macet agak sedikit, jarak tempuh dengan motor "Supra Paling Fit" saya, sekitar 30-45 menit. Tapi hari itu, saya dan istri sampai ke rumah pukul 23.00 WIB tengah malam. Keterlambatan tersebut .......... ya, karena macet tadi dan kehabisan minyak bensin motor saya yang "Supra Paling Fit" tersebut. Karena jalan motor sangat lambat-tertatih, sementara mesinnya tetap hidup, tanpa saya sadari, dipertengahan jalan, motor mati. Bensinnya habis. Jam 20.00 WIB malam - lebih kurang. Kal itu, perjalanan saya dan istri masih setengah menuju rumah. Terpaksa saya "heret" motor keluaran 2004 ini, sementara istri berjalan kaki sambil menenteng sepatu. Ia keletihan. Saya kasihan ....... sumpah, saya sangat kasihan melihatnya. Bila saya punya helikopter kala itu, saya akan pangku istri saya untuk terbang bersama menuju rumah, dimana dua putri mungil kami, kami tinggalkan dengan pengasuh. Tapi sayang, saya tak punya helikopter. Saya pegang stang motor, sementara istri saya berjalan dibelakang tubuh saya ditengah hiruk pikuk mobil-klakson, asap knalpot yang pekat didalam suasana malam tanpa listrik yang padam sesaat setelah gempa terjadi.

Saya berusaha mengeluarkan motor dari antrian yang padat, menepi. Rehat. Setelah merokok 1 batang, saya mencari Air Mineral. Kebetulan ada beberapa anak muda yang menenteng kardus Air Mineral, saya panggil salah satu di antara mereka, kemudian saya ambil dua botol ukuran menengah Air Mineral merk SMS. Biasanya di komplek perumahan atau ditempat lain, Air Botol ukuran menengah ini saya beli Rp. 2.000 satu botol. Kebetulan dalam dompet saya ada uang Rp. 20.000,-, tak lebih tak kurang. Saya serahkan lembaran uang Rp. 20.000,- tersebut. Penjual Air Mineral, yang anak muda tadi, mengembalikan uang satu lembar, Rp. 10.000,-. Saya protes, "Dik, kok kembalian uangnya 10.000,-. Biasanya 1 botol hanya 2.000,-", kata saya sambil sedikit agak marah. "Satu botol Rp. 5.000,-. Kalau abang mau cari yang 2.000,-, cari saja di tempat lain", katanya sambil berlalu. Saya dan istri hanya bisa menggerutu. Setelah dahaga dan penat agak terlepaskan, saya dan istri mulai "mengheret" motor, mencari orang yang menjual bensin. Biasanya, dalam setiap 100 meter, pasti ada kedai yang menjual bensin eceran. Tapi entah kenapa, pada malam itu, kedai-kedai penjual bensin eceran ini pada tutup. Setelah hampir 1 kilometer berjalan, melalui "jasa informasi" seorang teman yang juga terjebak macet, ia menyarankan saya dan istri mencari bensin di sebuah lorong/gang, kira-kira 200 meter dari jalan umum. Kami ikuti saran teman itu. Baru 100 meter berjalan, sudah terlihat antrian panjang motor di depan sebuah kedai bensin yang biasa-biasa saja. Karena tidak ada opsi lain, saya dan istri akhirnya mau masuk dalam "siklus antri". Hampir 30 menit, akhirnya sampai giliran motor "Supra Paling Fit" saya. Ketika saya pesan 1 liter bensin, si penjual bensin ini mengatakan bahwa 1 liter bensin harganya Rp. 20.000,". Gila. Biasanya 1 liter Rp. 5.000 di kedai-kedai eceran dan Rp. 4.500,- di SPBU. Saya minta pada istri tambahan uang Rp. 10.000 lagi, karena isi dompet saya tinggal Rp. 10.000,- lagi. Sebelumnya, Rp. 10.000,- uang saya telah "diramppk" penjual Air Mineral yang bermerk SMS. Rupanya dompet bistri saya tinggal di kantornya. Panic effect. Akhirnya saya "membenar" untuk 1/2 liter saja. Saya kasih Rp. 10.000,- dengan hati memberontak, bensin yang beraroma "minyak tanah" (nampaknya sudah dioplos) berpindah ke tanki minyak motor saya. Hanya 1/2 liter ..... dan saya jamin, pasti kurang 1/2 liter.

Besoknya, saya bersama salah seorang adik istri pergi melihat bangunan-bangunan runtuh "kreasi gempa" dengan motor "Supra Paling Fit" kesayangan. Ketika sampai di Hotel Ambacang yang porak poranda, saya berhenti. Saya lihat ekskavator sudah mulai bekerja. Di tengah keasyikan melihat kerja ekskavator tersebut, perhatian saya tertumbuk pada beberapa orang bermata sipit serta beberapa orang lagi yang berwajah bule. Saya lihat dari rompi yang merekla pakai .......... bermata sipit adalah relawan Jepang, sementara si Bule dari Australia. Luar biasa, mereka sangat cepat tanggap, baru satu hari kejadian gempa berlangsung, mereka sudah sampai ke Kota Padang ........ dan langsung bekerja. Betul-betul Cepat Tanggap dan bukan Tanggap Darurat. Di depan Hotel Ambacang, saya lihat pedagang minuman Air Mineral dan minyak bensin cukup banyak. Bersama adik istri tadi, saya kemudian membeli Air Mineral, kalau tak salah bermerk "jeje". Rp. 6.000, satu botol ukuran menengah. Saya terperangah, lebih mahal dibandingkan dengan harga tadi malam. Karena merasa "dizalimi" dan "dibodohi", saya berlalu menuju penjual bensin. Untuk jaga-jaga, 2 liter bensin ingin saya masukkan ke dalam tanki minyak motor saya. Saya lihat, para penjual bensin hanya memasukkan bensin yang mau dijual ke dalam botol Air Mineral Aqua ukuran besar ............ dan saya jamin, tidak akan pas 1 liter. Saya tanya, "berapa satu liter, Pak?". "Rp. 25.000,- Pak", katanya. Saya nanar, terdiam, geram dan bercampur aduk. Kemudian saya menoleh kembali ke areal evakuasi Hotel Ambacang yang sudah banyak ditonton para "penonton". Saya ingin kembali melihat beberapa orang bermata sipit dan beberapa lagi bule. Ada rasa malu luar biasa di diri saya. Orang dari nagari "antah barantah" datang ke "rumah ranah Minangkabau" tercinta, berjibaku-berpeluh-berpanas hujan ... hanya untuk mencari saudara-saudara kita yang terhimpit-mati di dalam bangunan. Sementara saudara-saudara saya, se-Iman dan se-Ras, sejak tadi malam hingga hari ketika saya melihat evakuasi Hotel Ambacang tersebut, hanya mau mengikuti "dalil" Peter F. Drucker dan Adam Smith diatas, dan tidak mau mengikuti dalil hati nurani. Kalau tidak membantu dengan tenaga dan uang, setidaknya mereka jangan mempersulit keadaan yang telah-telah nyata sulit kala itu. Karena malu dengan orang yang bermata sipit dan beberapa orang berwajah bule, akhirnya saya pergi dari lokasi evakuasi itu, langsung pulang. Saya tak mau jadi wisatawan dan menjadi penonton. Pada titik itu, saya begitu malu menjadi saudara dari mereka yang hanya memanfaatkan keadaan kritikal yang terjadi.

Minggu, 11 Oktober 2009

G 30 S (Baca : Gempa Tiga Puluh September) : "Ramlan Kini Hanya Punya Satu Kaki"

Oleh : Muhammad Ilham

RAMLAN kini hanya punya satu kaki. Ketika terjadi gempa, kaki kanannya remuk setelah tertimpa beton. Tak ada yang berhasil menolong Ramlan untuk keluar dari jepitan beton saat itu, hingga akhirnya dia terpaksa menggergaji sendiri kaki kanannya agar bisa dikeluarkan dari gedung. Ketika gempa terjadi 30 September lalu, Ramlan sedang berada di lantai VII Gedung Tel­komsel, Jl Khatib Sulaiman, Pa­dang. Pemuda 18 tahun tersebut sudah sebulan tinggal di Padang. Dia bekerja sebagai pekerja bangunan di gedung itu.

Saat gempa terjadi, Ramlan ber­usaha menyelamatkan diri. Namun nahas, ketika sedang berlari, kaki kanannya tertimpa beton berukuran 4 x 4 meter dan diperkirakan beratnya mencapai 6 ton. Waktu gempa itu, saya berada jauh dari kawan-kawan. Ketika hendak menyelamatkan diri, tiba-tiba kaki saya ditimpa beton yang sangat berat,'' ungkapnya. Beton tersebut menimpa bagian bawah betis Ramlan. Seketika itu dia berusaha meminta tolong teman-temannya yang satu pe­kerjaan. Teriakan Ramlan tersebut tidak digubris teman-temannya yang juga sedang melarikan diri ke lantai bawah.

Dalam pikiran Ramlan saat itu, dia harus sesegera mungkin menyelamatkan diri. Padahal, dia tak bisa ke mana-mana karena kaki kanannya penuh darah dan remuk terjepit beton. Setengah jam kemudian, teman-teman Ramlan datang me­nolong. Mereka berenam berusaha mengangkat beton tersebut. Na­mun gagal. Akhirnya, Ramlan meminta kepada temannya untuk memotong saja kaki kanannya tersebut agar dirinya bisa dike­luarkan dari jepitan beton. Tapi, permintaan Ramlan tak bisa dilakukan teman-temannya (disarikan dari beberapa sumber).

G 30 S (Baca : Gempa Tiga Puluh September) : "Ustad, Maksiat dan Gempa serta Bugil"

Oleh : Muhammad Ilham

Margareth Marcus atawa "Mariam Jameelah" (murid kesayangan Abul A'la Al-Maududi) suatu ketika pernah mengatakan bahwa "memisahkan faktor transedental dengan kejadian-kejadian alam merupakan bentuk sekularisme paling mengkhawatirkan, namun menganggap fenomena alam bukan merupakan tanda-tanda Tuhan, justru jauh lebih mengkhawatirkan". Saya sederhanakan : ... "apabila terjadi kecelakaan, lantas kita menganggap itu merupakan kesalahan manusia semata tanpa ada takdir Tuhan disana, maka itu adalah bentuk sekularisme yang mengkhawatirkan ...... namun justru lebih mengkhawatirkan apabila kecelakaan itu kita anggap sebagai takdir Tuhan semata, tanpa melihat kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sehingga ia celaka karena tidak membaca tanda-tanda alam (rambu-rambu lalu lintas, misalnya).

Beberapa tahun yang lalu (kalau saya tidak salah tahun 2007), menjelang Ramadhan terjadi gempa yang cukup keras di Kota Padang. Satu hari jelang puasa, jam 17.00 sore, kira-kira. Hari dan saat itu, warga Padang sedang melaksanakan "tradisi kultural-teologis" a-la Minangkabau, Balimau. Ketika banyak warga sedang mandi Balimau di beberapa sungai dan tempat pemandian di Kota Padang, gempa "berdangdut". Semua orang berhamburan. Walau hanya sebentar, tapi gempa ini justru menjadi topik ceramah para pendakwah pada bulan Ramadhan kala itu, terutama di Kota Padang ................ dan itu termasuk saya yang kebetulan mengisi beberapa jadwal ceramah Ramadhan di beberapa masjid dan musholla di Kota Padang. Bila saya tak ada jadwal ceramah, biasanya saya pergi ke beberapa Masjid untuk sekedar "belajar tambahan" dari beberapa muballigh yang kebetulan ceramah di Masjid yang saya kunjungi untuk taraweh. Hampir secara keseluruhan, topik ceramah yang saya dengar berkaitan dengan gempa ......... para muballigh ini nampaknya menyadari hal-hal aktual, kala itu. Akan tetapi, kemampuan para muballigh ini merespon topik katual ini tidak diiringi oleh kearifan dalam melihat kompleksitas faktor yang melatarbelakangi gempa tersebut. Fakta sosial "Balimau" justru dijadikan sebagai penyebab an-sich terjadinya gempa. "Tahukah bapak, ibu saudara sekalian, gempa yang terjadi satu hari jelang puasa kemaren, merupakan laknat Allah karena kita masih memegang tradisi Balimau .......... seluruh laki-laki dan perempuan bercampur baur, hanya untuk mandi di seluruh sungai di Kota Padang", demikian setidaknya simpulan dan hujatan para muballigh yang saya dengar. Para muballih tersebut harusnya belajar antropologi, bahwa tradisi Balimau itu sudah menjadi tradisi-kultural Minangkabau sejak awal Islam masuk di ranah "rumah bagonjong". Walaupun secara normatif-teologis, kita harus meyakini bahwa fenomena alam merupakan sebuah takdir ............ ia memiliki qadar dan ukuran, apabila tiba masa qadar atau ukurannya, maka fenomena tersebut akan terjadi.

Pasca gempa 30 September 2009 yang lalu, sudah dua khutbah Jum'at yang saya lalui, sehingga tulisan ini dibuat. Khutbah pertama, kebetulan saya menjadi khatib di Masjid di salah satu daerah "pinggiran" di Kota Padang. Khutbah Jum'at berikutnya, saya sholat di salah satu masjid di pusat Kota Padang, sebagai makmum. Dalam khutbahnya, sang khatib yang kebetulan merupakan salah seorang khatib kondang di Kota Padang, kembali mengulang kekhawatiran Maryam Jameelah di atas. "Penyebab gempa di Kota Padang dan Padang Pariaman, Bapak-Bapak saudara sekalian, karena perbuatan maksiat yang telah merajalela di daerah kita ini", demikian intro dan analisis si khatib tersebut dengan lantang. Kemudian beliau mulai mengeluarkan data-data yang dikutipnya dari opini dan pemberitaan media massa tentang maraknya perbuatan maksiat (terutama jumlah wanita tuna susila @ poyok yang dari waktu ke waktu menunjukkan grafik peningkatan ditangkap oleh Polisi Pamong Praja) dan seterusnya dan sebagainya ........... kemudian disimpulkan : Inilah penyebab gempa. Saya lihat jamaah masjid hanya melongo (entah kagum atau heran), tapi yang jelas terdengar celetukan salah seorang jamaah yang duduk disamping saya, "kalera, manyalahan se pande-nyo, salasai khutbah ko inyo dapek pitih, nan awak pulang karumah indak punyo bareh" (baca : bullshit, ustad ini hanya pandai menyalahkan dan mengkritik saja tanpa memberikan jalan keluar terbaik, setelah khutbah ini, ia dapat uang honor sebagai khatib, sementara kita tidak memiliki beras di rumah). Saya ketawa dalam hati. Saya tahu, jamaah yang berceletuk tersebut mengerti bahwa tidak boleh berbicara ketika khatib naik mimbar, apatah lagi mengeluarkan kata-kata kotor. Di akhir khutbah, sang khatib menutup khutbahnya dengan sebuah renungan, bunyinya kira-kira begini : "Bapak-bapak, saudara-saudara sekalian, pada waktu evakuasi gempa, banyak ditemukan di salah satu hotel, orang-orang yang telah mati dalam kondisi pakaian setengah bugil dan hanya layak dipakai di kamar mandi atau mau bersetubuh ............. ini menjadi bukti bahwa kita yang mengundang gempa karena banyaknya perbuatan maksiat di sekeliling kita, seperti yang telah terjadi di salah satu hotel di kota Padang ini," demikian kata sang khatib. Terdengar lagi celetukan jamaah yang duduk di samping saya tadi, "iko ustad paniang ma, jalehlah banyak ditamuan mayat bapakaian renang di hotel Ambacang tu, namonyo ajo sadang baranang, ma lo ka mungkin bapakaian jas atau daster urang mandi ........... dalang ustad ko mah" (Ustad ini tidak memiliki analisa, sudah jelas banyak ditemukan orang mati dengan pakaian setengah bugil, maklum mayat-mayat yang ditemukan tersebut berada di kolam renang hotel Ambacang, masak orang berenang menggunakan pakaian jas ataupun daster). Saya berdiri, kemudian pergi ke tempat wudhu' ........... berwudhu' dan melepaskan tawa yang tertahan.

(Insert : Kondisi Hotel Ambacang Pasca Gempa 30 September 2009)

Jumat, 09 Oktober 2009

G 30 S/15.16 WIB (Baca : Gempa 30 September) Pukul 15.16 Sore

30 September 2009, hari itu hari Rabu, sore dengan cuaca yang sungguh sangat bersahabat. Kebetulan, hari itu saya agak cepat pulang dari kampus (sekitar 'ashar : biasanya saya betah hingga senja menjelang, walau tak ada jadwal ngajar sore). Saya sedang menunggu istri di sekolah tempatnya mengajar, sambil ber-SMS ria dengan salah seorang teman "paling gokil" yang saya kenal - Buana Mustika, "nyong Air Bangis" yang bekerja di pabrik bengkel kepunyaan negeri "sakura" di Jakarta. Tak sampai satu menit, Kota Padang, Padang Pariaman dan sekitarnya tanggal 30 September 2009 yang lalu ................ luluh lantak. 7,6 Skala Richter memberikan kontribusi terhadap kematian memiriskan ratusan anak manusia dan ratusan lagi tertimbun tanpa tahu apakah bisa ditemukan. Sungguh banyak yang ingin saya ceritakan tentang "pengalaman empirik" langsung saya seketika gempa berlangsung. Waktu gempa sedang "berdangdut", saya persis berdiri di sebuah gedung Perguruan Tinggi Swasta 4 tingkat ................... dan pada hari ke-lima evakuasi, di gedung ini telah dikeluarkan 32 mayat. Saya merasakan langsung kepanikan seorang suami pada istrinya, kepanikan seorang ayah terhadap anak-anaknya dan air mata seorang dosen-pensyarah melihat kampus tercintanya "hampir tak berfungsi" karena gempa. Saya juga merasakan hilangnya rasionalitas anak manusia sesaat setelah gempa terjadi. Dan.... saya juga merasakan bagaimana "malunya saya sebagai orang Minang" dan "malunya saya pada teman-teman non-Islam". Saya ingin mencurahkan semua ini dalam 30 (tiga puluh tulisan) .................... dan akan saya posting dalam beberapa hari ke depan. Produktifitas saya belakangan ini hampir mennurun, maklum lampu baru 1 hari ini hidup di rumah saya, sementara di kantor-kampus tempat saya mengajar, hingga hari ini, lampu masih "pudua'.

Jumat, 11 September 2009

Surat dari Warga Negara Malaysia : "Mengapa Kita Harus Saling Membenci ?"

Apa kabar ? Saya Fazlee dari Malaysia. Saya rasa terpanggil untuk menulis kepada Saudara (maksudnya : jurnalis vivanews.com) sejak terbaca artikel saudara di sebuah laman web. Isu demonstrasi jalanan, pembakaran bendera Malaysia dan lain-lain sering terjadi apabila sesuatu isu berlaku. Di sini saya mempertikaikan media Indonesia yang sering membakar semangat memberontak dan tidak bersabar dalam menyelesaikan sesuatu isu. Sebelum ini, pernah terjadi isu-isu seperti di Ambalat dan wasit daripada Indonesia yang dipukul pihak Polis di Malaysia tentang isu pembantu rumah.

Harus diingat bahwa isu-isu ini bukan hanya berlaku di pihak Indonesia. Pihak kami juga pernah diperlakukan sedemikian. Di Malaysia terlalu ramai rakyat Indonesia mencari rezeki dan menyumbang tenaga mereka untuk memakmurkan Malaysia. Tetapi kebanjiran rakyat Indonesia juga mengundang kadar jenayah (baca: kriminalitas) yang tinggi seperti pembunuhan, rompakan malah pembantu rumah yang mencuri barangan majikan. Saya tidak katakan yang orang Malaysia tidak melakukan jenayah, kami juga mempunyai penjenayah yang ramai di sini. Tetapi kami tidak pernah membesarkan isu-isu ini. Bagi kami bukan negara penyebabnya, tetapi individu-individu yang pendek akal dalam menangani isu-isu tersebut. Jadi, saya rasakan yang rakyat Indonesia harus bertolak ansur dan mencari jalan penyelesaian secara damai, bukan dengan demonstrasi jalanan. Lagipun kita serumpun, kenapa perlu benci-membenci seperti begitu?

Sekian, terima kasih
Fazlee Rahman

(narasi dikutip dari www.vivanews.com/8 September 2009)

Minggu, 06 September 2009

Penjualan (Baca : Pencurian) Naskah Klasik Islam Melayu-Minangkabau

Oleh : Muhammad Ilham

Antropolog Levi Strauss mengatakan bahwa budaya tidak terbatas soal di mana letaknya. Namun, ketika, naskah-naskah kuno Islam (Melayu ataupun Minangkabau) dijual ke negara lain, khususnya ke Malaysia, persoalannya justru menciderai hakikat budaya itu sendiri. Penjualan naskah-naskah kuno Islam beberapa tahu belakangan ini, harus disikapi serius oleh pemerintah dan budayawan Indonesia. Hanya dalam hitungan lima tahun terakhir, sudah 60 naskah Melayu kuno Indonesia berpindah tangan ke Malaysia. Padahal naskah Melayu itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Negara tetangga itu masih akan terus memburu dokumen cagar budaya Indonesia. Bagaimanapun naskah Melayu kuno itu menjadi kekeyaan tersendiri buat bangsa Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah harus melindungi naskah-naskah dari jarahan orang luar. Caranya tentulah, pemerintah harus membeli dari masyarakat yang jika memang mereka memperjual belikannya. Terjadinya penjualan naskah ini ke Malaysia, tidak terlepas dari minimnya perhatian pemerintah Indonesia soal kebudayaan itu sendiri. Ini dapat dilihat, ketika pemerintah telah memisahkan kebudayaan dari pendidikan itu sendiri.

Naskah Melayu kuno itu akan menjadi barang berharga yang memiliki nilai sejarah tinggi. Naskah itu nantinya akan menjadi bahan penelitian dari seluruh akademisi dan budayawan dari belahan dunia. Maka, dengan adanya perburuan naskah kono Melayu itu, nantinya Malaysia akan menjadi pusat penelitian sastra Melayu satu-satunya di dunia. Malaysia, begitu ngotot dengan naskah melayu kuno itu karena mereka akan memperkuat identitas melayunya. Seperti slogan mereka Trully Asia, Malaysia bener-bener ingin mewujudkan negeri tersebut sebagai pusat melayu di dunia.

Seperti yang kita ketahui, lagu rasa sayange, reok, batik, kini dipatenkan menjadi karya anak bangsa Malaysia. Sebentar lagi, naskah Melayu kuno yang mereka beli dari Kepri, juga akan menjadi hak paten milik mereka. Lantas bangsa kita ini akan tetap menjadi penonton pada hasil karyanya sendiri yang sudah dimiliki bangsa lain. Naskah yang kini sudah berpindah tangan itu, antara lain, sejumlah syair, hikayat, catatan harian, Al Quran kuno yang semuanya bertuliskan tangan pada abad 19 lalu. Para pemburu naskah Melayu ini dilakukan warga Malaysia baik dari mahasiswa maupun para akedemisi. Mereka membeli dari masyarakat di Pulau Lingga, Bintan, dan Pulau Penyengat di Kepri, dan beberapa kasus yang terjadi di Sumatera Barat. Kini 60 naskah Melayu itu dengan mudah dijumpai di Pustaka Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Malaka serta museum pemerintah Malaysia. Naskah bertuliskan melayu arab itu, bakal menjadi dokomen sejarah soal akar sastra Melayu di dunia.

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : "Suatu Malam disaat Menjual Durian" (Bagian 4 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

Malam Minggu, sekitar bulan Agustus 2005. Saya diajak oleh Bpk. Zainal bin Khaidir (penjual buah di Hulu Langat yang berasal dari Pesisir Selatan) berniaga buah di "pasar malam" dekat Taman Alam Jaya Cheras, Selangor. Sebelumnya, pada pagi hari (tepatnya : dinihari), saya bersama Bpk. Zainal membeli durian ke Jelebu (Jelebu ini pernah disinggung oleh Mochtar Naim dalam karya masterpiece-nya "Merantau" sebagai salah satu perkampongan komunitas perantau Minangkabau di Malaysia. Di Jelebu ini pula, ada ulama terkenal Malaysia kelahiran Padang - Almh. Syekh Ahmad Jelebu). Siangnya, setelah durian dibeli di daerah Jelebu dan sekitarnya, saya dan Bpk. Zainal membersihkan dan mengatur tempat buah-buahan di van selain durian seperti lengkeng, cempedak rimba, rambutan dan lain-lain. Siap 'Ashar, kami mandi. Setelah sholat dan makan, van dihidupkan ........... selanjutnya, saya dan Bpk. Zainal menuju Pasar Malam di dekat Taman Alam Jaya Cheras. Pasar Malam dekat Taman Alam Jaya Cheras cup ramai. Maklum, malam minggu. Taman (kalau di Indonesia : Perumahan atau Komplek Perumahan), merupakan Taman yang cukup bonafid. Di samping Taman ini, ada 5 - 6 buah Flat yang dihuni oleh orang Malaysia keturunan Cina, India dan pekerja dari berbagai negara seperti Indonesia, Banglades dan Myanmar. Karena jumlah Flat yang cukup banyak dan dekat pula dengan Komplek Perumahan, maka "pasar malam"-nya selalu hidup dan ramai. Bpk. Zainal sering berniaga buah-buahan di daerah ini.

Malam itu, setelah barang dagangan digelar, lampu dihidupkan (dengan menggunakan genset), kehidupan dan kompetisi untuk "survival in the fittest" dalam dunia niaga, mulai menggeliat. Bpk. Zainal dan saya kemudian secara bergantian pergi ke surau dekat pasar malam, Sholat Maghrib. Ketika Bpk. Zainal pergi sholat, saya berusaha menyibukkan diri untuk "belajar" menjadi peniaga ulung. Ketika sedang asyik-asyiknya "in-action", datang peniaga buah orang Malaysia keturunan Cina. Ia menggelar dagangan buahnya, persis tepat disamping kami mengelar dagangan. Saya berusaha tersenyum seadanya. Si Cina Malaysia ini, hanya diam ..... "tak ramah tampaknya", guman saya. Lampu neon-nya jauh lebih terang dari kami. Buahnya-pun jauh lebih banyak dari buah-buahan yang kami koleksi. Saya terus melongo melihat gayanya yang terkesan "over-acting" di depan saya. Beberapa saat kemudian, Si Cina Malaysia ini mengeluarkan "alat pengeras" suara dan mulai "tesszzzzzzzzzzzting" : "alo...alo.....alo, bapak, encik, puan, mali kemali, ini ada dulian bagus, dulian ai o ai (maksudnya durian jenis 101 : sering dibaca ai o ai), kena pilih, bagus-bagus". Saya diam dan sedikit menggerutu karena "kalah frekuensi" dari Si Cina Malaysia ini. Melihat saya diam, Si Cina Malaysia ini makin semangat mempromisikan dagangannya : "dulian saya ini jauh lebih bagus dalipada dulian-dulian mana-mana saja". Waaah, ia nampaknya mulai menyindir kami, karena memang waktu itu yang menjual durian di pasar malam itu, selain Si Cina Malaysia ini, yaa kami. Bpk. Zainal datang, selanjutnya menyuruh saya untuk gantian sholat Maghrib. Sebelum saya pergi ke surau, dalam bahasa Minang, saya ceritakan "introduction of provocative" yang dilakukan oleh peniaga Cina Malaysia tadi. Bpk. Zainal hanya berujar, "pergi saja sholat dulu, ini persoalan kecil". Selanjutnya saya pergi ke Surau di samping Taman Alam Jaya. Surau-nya kecil, tapi sangat bersih dan harum. Setelah selesai Sholat Maghrib, saya buru-buru menuju "markas jual beli" kami. Tak sabar rasanya ingin melihat perang kata-kata antara Bpk. Zainal dengan Si Cina Malaysia berlangsung. Ketika saya sampai di tempat dagangan buah-buahan kami digelar, saya melihat sudah banyak "pasien" Bpk. Zainal dan Si Cina Malaysia ini .......... saling menawar duran dan buah-buahan lain. Si Cina Malaysia dengan mikropon dan lampu yang lebih terang, Bpk. Zainal dengan "air ludah" tanpa mikropon. Saling sindir-pun mulai berlangsung.

Si Cina Malaysia : bapak-bapak, encik-encik, puan-puan, lebih baik kita beli dulian olang Malaysia. Duitnya untuk olang Malaysia. Kalau kita beli buah-buahan olang Malaysia, belalti kita memperkaya olang Malaysia.

Bpk. Zainal : (tak menanggapi ...... terus melayani pembeli tanpa bersuara)

Si Cina Malaysia : Jom (maksudnya : Ayo) mali beli buah-buahan saya, olang Malaysia. Jangan beli buah-buahan olang lain. Meleka hanya cali duit di Malaysia, nanti dibawanya pulang ke negala meleka. Jom encik puan, belilah dulian ai o ai, dulian pahang dan dulian thailand. Bagus-bagus lha.

Bpk. Zainal : (tak menanggapi ...... terus melayani pembeli tanpa bersuara)

Si Cina Malaysia agak mulai kesal melihat lebih banyak orang membeli buah-buahan dengan Bpk. Zainal. Kebetulan, para pembeli tersebut mayoritas langganan Bpk. Zainal dan memang style Bpk. Zainal jauh lebih bersahabat dibandingkan si Cina Malaysia ini. Melihat hal ini, si Cina Malaysia tersebut, makin "panas"

Si Cina Malaysia
: mengapa kita halus beli pada olang lain. Belilah sama olang Malaysia. Olang lain itu tak punya duit, meleka miskin di negala meleka, kalena itulah meleka datang kengala kita, mau ambil duit kita.

(Bpk. Zainal mulai tak enak hati dan berguman pada saya, "ko ndak bana ilham, alah bakalabihan bana ma ............ caliak dek wang mak tahu bana sia si Zainal ko :Ini tidak benar Ilham, sudah berlebihan betul, lihatlah sama ilham bagaimana kualitas si Zainal ini). Bpk. Zainal kemudian berdiri sambil memegang buah durian, melihat si Cina Malaysia, dan mulai bicara .....

Bpk. Zainal : encik puan, saye ni bukan orang miskin. Saya dah dari kecik merantau. Kemaren saya niaga di Singapura, besok saya mungkin nak balik lagi ke Singapura. Niaga ini bukan untuk cari duit bagi saye. Ini hobby. Duit bagi saya tak kisah. Tanah saya di Indonesia luas. Memang saya suka merantau, tapi bukan untuk cari duit. Makan saya nasi Padang, minum saya teh telo, bukan roti canai dan teh tarik. Saya tak mungkin tipu encik puan dalam niaga ini, karena memang saya tak mau cari untung banyak sangat, saya niaga karena hobby".

Memakan Nasi Padang dan Minum Teh Telur dianggap sebagai refleksi "high-class" karena kualitas dan harganya yang cukup tinggi dan mahal, berbanding terbalik dengan Roti Canai dan Teh Tarik yang dianggap oleh orang Malaysia sebagai "makanan tradisional-popular dan familiar" di tenagh-tengah masyarakat. Disamping mudah dijumpai, harganyapun sangat murah -- setidaknya untuk ukuran orang Malaysia.

(Si Cina Malaysia diam ........... para pembeli mulai banyak transaksi dengan kami. Saya sampai kewalahan melayani mereka, sementara Bpk. Zainal terus dan terus menyerocos. Setiap Cina Malaysia bicara, Bpk. Zainal pasti bisa menangkisnya dengan telak. Akhirnya ........... Si Cina Malaysia ini menutup dagangannya malam itu, sambil menggerutu dalam bahasa yang tidak saya mengerti (mungkin bahasa mandarin), Si Cina Malaysia ini mengemas buah-buahan dagangannya satu persatu, mematikan mikropon dan genset, menghidupkan mesin van, dan selanjutnya ................ pergi dengan wajah yang tidak "bersahabat" ketika saya sapa kembali. Karena kompetitor sudah pergi, maka kemudian mudah ditebak : dagangan kami habis-ludes. Bpk. Zainal ketawa sambil berkata, "Awak lo nan kan di ukuanyo, kalo samo-samo manngaleh, manggaleh sajolah, indak kan digaduah-gaduah ndo, ko ndak, nenek moyang wak pulo nan kan diukuanya". (Saya pula yang ditantangnya - maksudnya ditantang peniaga Cina Malaysia tadi. Kalau sama-sama berniaga, kita sama-sama menjaga etika. Ini tidak, kampung halaman dan harga diri kita pula nan disebut-sebutnya).

Ketika kami mau pulang, timbul kekhawatiran pada diri saya. Ada ketakutan Si Cina Malaysia tadi akan datang kembali dengan membawa teman-temannya, "memberi pelajaran" pada kami. Perasaan ini lumrah, karena saya beranggapan bahwa Si Cina Malaysia pasti merasa bahwa ia adalah pribumi, sementara kami adalah pendatang. Si Cina Malaysia ini pasti merasa terhina karena dikalahkan oleh pendatang. Hal ini kemudian saya utarakan pada Bpk. Zainal. Sambil menaikkan genset ke van yang sudah kosong karena buahan-buahan sudah "abih-tandeh" dibeli konsumen, Bpk. Zainal berkata, "Ilham, ini Malaysia .... tak sama dengan Indonesia. Kalau kasus tadi terjadi di Indonesia, mungkin kita akan dipukul dan diusir, tidak boleh berniaga karena kita pendatang. Di Malaysia tak akan pernah terjadi. Inilah enaknya berniaga di Malaysia". Saya diam .......... dan memang, hari-hari berikutnya Si Cina Malaysia ini tidak datang dengan kawan-kawannya untuk menggertak kami. Justru, ia mencari lokasi lain, menyingkir karena mengakui kelebihan Bpk. Zainal sebagai presenter buah-buahan terbaik, setidaknya dibandingkan dengan dirinya.

Ketika dalam perjalanan pulang, saya bertanya pada Bpk. Zainal, "Pak, betul niaga ini hobby bapak, kenapa tidak manfaatkan saja tanah yang luas dikampung daripada merantau ke Malaysia?". Bapak Zainal terbahak-bahak dan berkata, "terpaksa ilham, kerja nggak ada lagi, jadi terpaksa berniaga. Tanah di kampung lah habis, maka merantau inilah jalan terbaik". Padeeek !!!!!!

Jumat, 04 September 2009

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : "Lebih Baik Hujan Emas di Negeri Orang daripada Hujan Batu di Negeri Sendiri" (Bagian 3 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

Ada pertanyaan yang terus bergelayut dalam benak saya : "Mengapa para TKI (baca : pahlawan devisa Indonesia), terkadang ditangkap karena faktor dokumen yang tidak lengkap, terkadang dihina, disakiti, diusir dan disabat (dirotan) ...... namun mereka tetap betah di Malaysia untuk "berimprovisasi hidup" dan ingin kembali lagi ke negeri Hang Tuah ini, bila dipulangkan ke Indonesia?". Diantara banyak faktor yang menyebababkan hal di atas terjadi, faktor EKONOMI merupakan faktor super-signifikan. Namun, ada faktor-faktor "kecil" yang justru membuat para TKI tersebut menjadi "at-home" di Malaysia. Untuk melihat faktor-faktor "kecil" tapi signifikan tersebut, saya akan bercerita tentang dua cerita ringan berdasarkan pengalaman emipirik saya yang pantas untuk diceritakan.

Cerita Pertama. Namanya Dasril, asal Pesisir Selatan. Saya lupa-lupa ingat (meminjam istilah KuburanBand), dimana kampung kecilnya di Pesisir Selatan. Tapi yang pasti, waktu pertama sekali saya mengenalnya, ia masih bujangan, dan ketika saya berinteraksi selama lebih kurang 2-3 bulan pada tahun 2005 pertengahan, ia berumur 28 tahun, kurang lebih. Berdomisili (dalam bahasa Malaysia : "bermastautin") di Hulu Langat, Selangor. Pekerjaannya di Malaysia, 3 jenis : menyadap getah, berniaga buah dan menjaga kebun orang Melayu. Ia masuk ke Malaysia sejak tahun 1999, mengikuti kakaknya yang telah memiliki IC Biru. Selama rentang 6 tahun tersebut (1999-2005), Dasril sudah dua kali masuk penjara, tertangkap karena "kosong" (istilah tidak memiliki dokumen), satu kali di sabat (dipukul dengan rotan ke arah daging pinggul bagian atas, dan biasanya setelah disabat tersebut, butuh 3 hari untuk tidur menelungkup) dan dua kali di usir. Ia pernah lari ke hutan, sendirian sambil menghuni satu kebun orang Melayu yang simpati padanya. Saya pernah dibawanya ke kebun (tepatnya : hutan belantara) tersebut, sungguh lengang dan mirip dengan suasana yang diceritakan Pramudya Ananta Toer tentang pulau Buru). Disinilah waktu dulu, Dasril hidup kayak "Rambo", makan buah-buahan dan sesekali dikirimkan beras oleh temannya orang Melayu yang simpati padanya. Temannya yang orang Melayu ini tidak begitu leluasa berkirim makanan pada Dasril karena takut ketahuan oleh Rela (semacam Tim Pol PP a-la Indonesia yang bertugas menswipping TKI Illegal). Apabila ketahuan, konsekuensinya jelas : masuk lokap @ penjara. Walaupun kondisi seperti ini, Dasril tetap bertahan dan tidak ingin pulang ke Indonesia. Ketika keluar kebijakan "pemutihan" pada awal pemerintahan PM Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, Dasril keluar dari "pertapaannya", dan kemudian memanfatkan momentum ini untuk menyelesaikan administrasi-dokumen. Ia kembali ke Indonesia, untuk beberapa bulan. Setelah itu, ia masuk kembali ke Malaysia. Atas jaminan kakak dan kawan melayu-nya, ia memperoleh visa untuk berniaga buah dan menyadap karet.

Ketika saya tanyakan, mengapa tekadnya begitu kuat untuk tetap bertahan di Malaysia, bahkan mau "bertapa" di hutan belantara dan pinggulnya masih terlihat jejak bekas sabat-rotan (dan, konon katanya kawannya, "burungnya" sulit untuk hidup dan berpotensi impoten, mungkin karena "hempasan kuat" rotan waktu disabat). Saya bahkan memberikan argumentasi-logis bahwa selama 6 tahun beliau berniaga dengan "onak duri kehidupannya", toh Ringgit-pun tak diperolehnya dalam jumlah banyak, bahkan mungkin ia merugi. Lebih baik pulang ke Indonesia, berniaga di Padang atau Pesisir Selatan atau di Jakarta atau dimana saja, mungkin uang banyak yang bisa dikumpulkannya. Dasril menjawab, "disamping lambaian ringgit yang luar biasa, ketenangan berniaga dan berusaha di Malaysia jauh lebih aman dibandingkan di Indonesia ....... asal dokumen lengkap. Dalam berniaga, di Malaysia, bila dokumen lengkap, kita tak punya musuh. Di sini tak ada "orang bagak", preman yang minta uang, harus melapor ke sana ke mari jelang berniaga dan seterusnya. Berniaga di kampung orang Cina atau orang India, berdekatan dengan mereka bahkan bersaing dengan mereka tidak akan membuat kita khawatir. Tidak akan ada kata-kata : "pergi......... kamu orang Indonesia, ini wilayah peniaga India atau Cina, tidak boleh berniaga di sini. Di Indonesia, saya jamin kata Dasril, saya yang orang Pesisir Selatan akan kesulitan berniaga di daerah orang Pariaman apatah lagi kalau tidak melapor pada "orang bagak". Ringgit ............ nanti akan bisa terkumpulkan. Namun, suasana batin yang tenang-lah yang ingin dicari Dasril. Ia telah belajar, dokumen sebagai bentuk penghormatan. Orang akan memberlakukannya dengan hormat, apabila dokumennya lengkap. Ketika dokumen telah "ditaklukkannya", Dasril mulai merasakan bagaimana "nikmatnya" berniaga di Malaysia...... ia tidak mengenal pungutan liar, orang bagak, preman, kecemburuan etnik (orang pribumi-pendatang) dan pencurian. Bahkan, ia pernah menghardik orang Melayu asli di perkampungan Melayu di Sungai Lui Hulu Langat karena menghina profesi dan negaranya. Orang Melayu ini minta maaf dan tak pernah lagi mendengar : "hei kamu orang Indon, tak boleh berniaga di Malaysia". Ini yang dianggapnya tidak akan pernah didapatkannya bila berniaga di Indonesia. Sekarang, saya tidak tahu dimana Dasril berada. Tapi dua tahun yang lalu, saya dapat kabar dari kawan-kawan perantau Pesisir Selatan di Selangor bahwa Dasril berada di Pahang. Ia nomaden, mengikuti ritme musim durian. Konon ...... ia telah punya istri, orang Bangladesh (biasanya orang Malaysia menyebut dengan istilah orang Bangla dan konon, menjelang nikah ia mengobati "burungnya" sama orang India), muslimah-cantik dan telah punya Van (mobil khas untuk berniaga buah). Alhamdulillah, ia telah mapan. Mungkin ia telah melupakan Indonesia. Ia tidak mau tahu dengan nasionalisme, Ambalat apalagi cerita melankolik Manohara. Ia lebih mau tahu dengan kepastian dan kehormatan kehidupannya. Dan untuk itu, mungkin ia merasa bahwa ia lebih bisa "hidup" dan hormat ketika ia hidup di Malaysia.

Cerita Kedua. Karena menghemat biaya dan agak sedikit "takut terbang", saya biasanya naik Feri ke Malaysia, dari Padang - Dumai - Malaka - Kuala Lumpur. Disamping biaya lebih murah, tapi meletihkan, menggunakan transportasi mobil dan feri tersebut justru memberikan pengetahuan-pencerahan bagi saya melihat secara empirik bagaimana orang diperlakukan dan memperlakukan seseorang. Tak luput dengan para TKI. Dalam setiap perjalanan dengan feri, pasti saya akan mencari TKI untuk sekedar ber-"curhat" dan belajar dari mereka. Dari bolak-baliknya saya Malaysia-Indonesia via Feri Dumai-Malaka, ada satu hal yang sangat membuat saya trenyuh. Umumnya, para TKI yang pulang dan pergi via Feri Dumai-Malaka ini, akan merasa deg-degan melewati imigrasi Indonesia (dalam hal ini imigrasi Dumai) dibandingkan dengan imigrasi (imigresen) Malaysia di Malaka. Simpulan dari percakapan saya dengan para TKI sewaktu berada di feri Dumai-Malaka tersebut, bahwa para TKI telah menstrukturkan sebuah "image" dan berlaku sebuah teori : "bila dokumen lengkap, maka imigresen di Malaka akan aman, walau ketika "masuk" maupun "keluar". Bila dokumen kita lengkap, apalagi ketika kita kembali dari Malaysia, maka kita belum tentu aman di imigrasi Dumai".

Indonesia ........................... mungkin cerita diatas bisa memberikan kita pencerahan. Nasionalisme sejati itu adalah sebuah ideologi yang diejawantahkan oleh negara untuk mampu memberikan kepastian "kehidupan" bagi warganya. Kalau tidak, nasionalisme itu ibarat "candu" seperti yang dikatakan oleh Jacquess Derrida (mungkin ia meniru tipologi Marx : "Agama adalah Candu") - meninabobokkan karena ketidakmampuan mengatasi persoalan yang lebih substansial.

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : "Kenalkan, Nama Saya Zainal bin Khaidir" (Bagian 2 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

(Pernah dipublikasikan dalam Harian Umum HALUAN, 25 Januari 2005). Namanya Zainal bin Khaidir. Kira-kira berusia 50 tahun. Asal Bayang Pesisir Selatan. Mulai masuk secara legal ke Malaysia pada tahun 1983. Dua tahun sebelumnya, pak Zainal berjualan obat dengan ma ota di Singapura. Sekarang menetap secara permanen di Sungai Serai Hulu Langat Kajang. Radius 4 kilometer, mulai dari Suntex Batu 9 hingga Jelebu (Jelebu pernah disinggung oleh Mochtar Naim dalam bukunya Merantau sebagai daerah yang banyak didiami oleh migran Minangkabau tapi sekarang tidak ada lagi bahkan daerah ini identik dengan seorang politisi Malaysia yang memiliki darah Minangkabau, DR. Rais Yatim) yang mayoritas didiami etnis Cina totok Malaysia, pak Zainal cukup dikenal. Beliau bersama dengan anak-anaknya telah menjadi warga negara Malaysia penuh, sementara istrinya belum. Sehari-hari berprofesi sebagai penjual buah sehingga “Zainal si Penjual Buah” lebih dikenal dibandingkan dengan Zainal bin Khaidir. Untuk ukuran masyarakat Indonesia di Malaysia, kehidupan pak Zainal lumayan bagus. Satu buah van dan satu buah truk buah dimiliki serta satu kepastian hukum yang sekarang banyak diidam-idamkan para TKI yaitu pengakuan sebagai “Warga Negara Malaysia”.

Pengakuan sebagai WN Malaysia dengan sendirinya mengangkat strata masyarakat pendatang di Malaysia. Walaupun tidak ada konsensi sosial tersendiri, tetapi dalam realitas sosial masyarakat pendatang Indonesia di Malaysia terdapat empat kelas. Kelas paling tinggi adalah pendatang Indonesia yang telah diakui sebagai WN Malaysia. Umumnya mereka telah “masuk” ke Malaysia sebelum tahun 1980-an. Ketika seseorang telah diakui sebagai WN Malaysia, maka jaminan pendidikan dan jaminan sosial mereka terjamin. Disamping diberi kemudahan dalam berniaga dan memiliki hak-hak politik, anak-anak WN Malaysia asal Indonesia diberi kesempatan sama dengan komunitas Melayu, India dan Cina Malaysia di bidang pendidikan. Mulai dari Tadika (Taman Kanak-Kanak) hingga Perguruan Tinggi, biaya pendidikan mereka dipermudah oleh kerajaan dengan jalan memberikan pinjaman biaya pendidikan. Pinjaman ini dikembalikan dalam prosentase yang rendah dan dalam rentang waktu yang sangat panjang, ketika si anak telah mulai bekerja. Mereka umumnya bangga dengan status kewarganegaraan Malaysia mereka. Pada tingkatan anak-anak, Indonesia bagi mereka hanyalah cerita nenek moyang. Sedangkan bagi orang tua mereka Indonesia adalah “tetap tanah air mereka”. Bahkan menurut beberapa kajian departemen Sosiologi Universitas Kebangsaan Malaysia, latar belakang para pendatang Indonesia menjadi WN Malaysia lebih dikarenakan pertimbangan pragmatisme-ekonomi (walaupun untuk kasus Aceh lebih disebabkan karena faktor keamanan) sehingga tidaklah mengherankan apabila pemerintah Kerajaan Malaysia sekarang ini sangat “luar biasa” sulit memberikan status WN bagi para pendatang yang telah memenuhi syarat administrasi. Tajuk Koran Berita Malaysia bulan Desember 2005 yang lalu mengatakan bahwa persoalan terbesar Malaysia adalah bagaimana memupuk nasionalisme dan sense of belonging diantara tiga puak besar : Melayu, Cina dan India. Pemberian status WN bagi pendatang asing justru menambah problem tersendiri bagi pemupukan nasionalisme itu sendiri. Laporan dari kajian departemen Sosiologi UKM setidaknya menunjukkan kekhawatiran pemerintah kerajaan Malaysia tersebut.

Kelas kedua adalah para pendatang Indonesia yang memperoleh IC (identity card) Merah. IC atau KTP bagi kita di Indonesia, di Malaysia terdapat dua jenis yaitu IC Biru dan IC Merah. IC Biru merupakan kartu identitas khusus bagi mereka yang telah menjadi Warga Negara Malaysia. Pemegang IC Biru ini berhak mendapatkan kemudahan sosial, ekonomi dan politik. Sementara itu, pemegang IC Merah hanya diperbolehkan untuk menikmati kemudahan ekonomi seperti boleh bekerja dan berdagang, sedangkan untuk memiliki rumah melalui developer, meminjam uang di Bank dan memilih dalam Pemilihan Umum (Pilihan Raya dalam bahasa Malaysia) tidak diperbolehkan. Umumnya, pendatang Indonesia yang memiliki IC Merah ini cukup banyak. Mereka datang ke Malaysia selepas tahun-tahun 1980-an. Biasanya pemegang IC Merah masih menganggap diri mereka sebagai Warga Negara Indonesia. Keinginan untuk memiliki status WN Malaysia umumnya hanya mereka harapkan pada anak-anak mereka yang lahir dan besar di Malaysia. Pemberian IC Merah ini merupakan alternatif bagi pemerintah kerajaan Malaysia bagi mereka yang telah memenuhi syarat untuk menjadi WN Malaysia. Teman-teman saya di Malaysia sering mengistilahkan pemegang IC Merah sebagai “warga negara antara”. Sama halnya dengan pemegang IC Biru, pemegang IC Merah relatif tenang dalam menjalani kehidupan mereka di Malaysia.

Sedangkan kelas ketiga adalah para pendatang yang memegang izin tinggal atau Permit. Umumnya mereka ini adalah para pekerja kontrak dan pembantu rumah tangga. Setiap tahun mereka memperbaharui izin tinggal mereka dengan membayar uang sesuai dengan "level" kerja mereka. Istri pak Zainal bin Khaidir misalnya, setiap tahun harus membayar RM. 3000 (tiga ribu ringgit Malaysia). Kalikan saja dengan Rp. 2.500,-/ringgit.

Rindu Dendam Indonesia - Malaysia : Nasionalisme dari Makmal Komputer (Bagian 1 dari 4 Tulisan)

Oleh : Muhammad Ilham

Saya masih ingat, ketika itu tahun 2005 pertengahan. Ketika itu, hubungan Indonesia-Malaysia sedang memanas. Dan ketika itu, isu Ambalat menempati rating tertinggi dalam pemberitaan media massa Indonesia. Waktu itu saya sedang “hinggap” dan “singgah” untuk berkontemplasi ilmu (Post Graduate) disebuah Perguruan Tinggi di Malaysia, yang menurut saya merupakan Perguruan Tinggi “ramah” lagi “intelek” – Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Waktu itu, saya masih ingat, jam 09.00 pagi, lebih kurang. Seperti biasa, sebelum saya masuk kelas Bahasa Melayu, saya masih menyempatkan diri untuk masuk ke Makmal Komputer – untuk sekedar browsing atawa chatting. Dari Senen hingga Juma’t, hal ini biasa saya lakukan, bahkan sering. Untuk tahun 2005, memanfaatkan sarana computer + internet dengan gratis (dalam bahasa Malaysia, baca : percuma), adalah sesuatu yang langka bagi saya dan “kami” pelajar Indonesia kala itu. Internet di Indonesia, walaupun itu di kampus, untuk tahun 2005 masih membayar 2.000 – 3.000/jam. Karena itulah, pada jam-jam perkuliahan, Makmal Komputer Universiti Kebangsaan Malaysia tersebut banyak “dihinggapi” oleh pelajar/graduan Indonesia – dan ada beberapa orang graduan Malaysia dan negara lain. Tapi tetap, graduan Indonesia menjadi “pemakai percuma” terbanyak. Logis, graduan Indonesia banyak yang kere-kere, apalagi saya. Karena itu pulalah, saya selalu berangkat pagi-pagi dari tempat tinggal saya di Batu 13,5 Sungai Serai Hulu Langat Selangor – sebuah kampong yang mayoritas dihuni oleh orang Minangkabau, terutama yang berasal dari Pesisir Selatan. Sebuah kampong yang “identik” dengan peniaga buah dan ice cream. Mereka akan menjual buah, terutama durian, ketika sedang musim. Dinihari mereka akan pergi ke Pahang ataupun Jelebu untuk membeli buah durian dari kebun tekong Cina atau Tok Melayu. Sorenya mereka akan menyebar ke Pasar-Pasar Malam di berbagai Flat di sekitar Selangor ataupun Kuala Lumpur. Apabila musim buah sudah mulai berakhir, maka mereka akan beralih menjadi peniaga ice cream.

Naik bus ke Batu 9 Suntex, sambung lagi ke Bandar Kajang, terus naik lagi bus ke Bandar Baru Bangi UKM dengan sopirnya mayoritas orang India. Asyik melihat mereka. Saya masih ingat, nama seorang supir Bus orang ke Bandar Baru Bangi ini ....... orang India Malaysia bernama Thiagaraj A/L Subramaniam. Saya awalnya heran, apa maksud : "A/L". Hampir satu minggu saya menerka-nerka. Akhirnya, saya bisa memecahkan misteri Antonim "A/L" tersebut dari informasi seorang penambal sepatu di sudut Kedai Satay Kajang ..... A/L kataya kependekan dari "Anak Laki-Laki". Ohhhhh ..... berarti Thiagaraj BIN Subramaniam. Thiagaraj selalu menggeleng-gelengkan kepalanya ketika saya ajak ia bicara dalam perjalanan dari Bandar Kajang ke Bandar Baru Bangi. Setiap ia menggeleng-gelengkan kepalanya, saya teringat Aamir Khan dan Shah Rukh Khan ... itu lho, aktor Bollywood yang selalu menggeleng-gelengkan kepalanya bila bicara. Sayang, Thiagaraj tak senasib dengan Aamir Khan dan Shah Rukh Khan, baik dari ekonomi apatah lagi dari sudut "tampang" muka. Tak ketemu. Biasanya ketika turun di Bandar Baru Bangi, saya akan sedikit berlari-lari menuju kampus UKM yang asri lagi bersih …… dengan tujuan Makmal Komputer + Internet yang bias dipakai secara “percuma” tersebut. Saya takut terlambat.

Kembali lagi ke cerita di atas, jam 09.00 pagi, lebih kurang. Saya masuk ke Makmal dengan sedikit kecewa. Rupanya, dua bilik (baca: ruangan) makmal computer tersebut sudah penuh diisi oleh “pemakai percuma”. Hampir 2/3 graduan Indonesia, selebihnya graduan Malaysia. Suasana saya lihat kala itu agak sedikit lain. Biasanya graduan Indonesia agak terkesan santai, namun kali ini saya menangkap ada “aura”panas pada mereka. Hampir semua graduan Indonesia serius membuka internet. Saya lihat, situs yang mereka buka hamper sama : detik dot com dan liputan enam dot com (hee..he… bertele-tele). Sementara graduan Malaysia …….. santai sambil sesekali bercerita dengan teman-teman di sebelah mereka. Saya hanya berdiri …………….. sambil sesekali berharap kiranya ada satu orang yang keluar dari Makmal tersebut, dan hal ini akan membuat penantian saya untuk menjadi “pemakai percuma” bias diakhiri. Tapi, hamper satu jam saya berdiri, tak satupun dari “pemakai percuma” ini mengakhiri “petualangan dunia maya” mereka. Sambil terus berdiri dan sedikit menggerutu, suasana Makmal kemudian dikejutkan dengan terikan salah seorang dari “pemakai percuma” tersebut, “Bila Malaysia memulai, Indonesia mengakhiri”…………… mari pertahankan Ambalat, mari perangi Malaysia”. Ada aura nasionalisme sedang bertumbuh dalam ruangan tersebut. Saya buru-buru menghampiri salah seorang teman dan berusaha untuk mencari “latar belakang” teriakan teman yang berteriak tadi. Rupanya ………….. detik dot com dan liputan enam dot com mengutip pernyataan dari Panglima TNI Jenderal (TNI) Endriartono Sutarto yang menyatakan siap perang dengan Malaysia demi mempertahankan Ambalat. Seketika saya-pun berujar ….. “haaaaaaaaaa padek, bagak, lanyau”, dengan rona wajah cerah-merah seperti wajah Hitler ketika marah pada Yahudi dalam pidato penuh emosional di Austwitz.

Namun, lambat laun akhirnya saya sadar bahwa saya berada di negara dimana kegeraman itu tertuju, saya dan teman-teman berada di ruangan yang sama dengan teman-teman dari negara dimana kegeraman tersebut dilandakan. Saya tengok ke teman-teman graduan Malaysia yang tidak begitu banyak di ruangan tersebut, saya pandangi wajah mereka …… hanya sekedar untuk melihat reaksi yang mereka berikan. Mereka tersenyum, tetap santai main internet sambil sesekali bercerita lepas dengan teman mereka tentang hal yang “tidak saya ketahui”, tapi bukan tentang “kami” apatah lagi tentang Ambalat. Sementara teman-teman saya, para “pemakai percuma” graduan Indonesia tersebut, terus berciloteh dengan hembusan kata-kata pembangkit nasionalisme. Ada sedikit rasa segan dan silau saya pada graduan Malaysia kala itu. Kami ini seperti Muhammad Hatta, Syahrir, Nazir Sutan Pamuntjak dkk. yang melawan dan menghembuskan nasionalisme-keIndonesiaan dari jantung penjajah – mereka berteriak dari Rotterdam, bukan dari Bandung atau Bengkulu a-la Sukarno.

Dari rasa segan, terus menuju rasa takut. Maklum, saya berada di negera dimana teman-teman saya sedang meluapkan kebencian mereka. Akhirnya saya ambil jalan pintas, saya mendekat dengan teman-teman graduan Malaysia – karena saya tak mampu meredamkan “gejolak” teman-teman graduan Indonesia kal itu. Saya ingin memberikan sebuah diskusi empatik dengan para graduan Malaysia di ruangan tersebut dan ingin meyakinkan kepada mereka bahwa “patologi” yang terjadi dalam ruangan Makmal itu hanyalah sekedar bentuk ekspresi spontan tanpa bermaksud menyakiti Negara Malaysia, apatah lagi menyinggung para graduan Malaysia yang ada bersama-sama dengan kami. Tanpa mereka minta, saya mulai memberikan argumentasi pada mereka. Mereka tersenyum, dan menjawab : “kami tak kisah dengan kes Ambalat, kami hanya yakin bahwa kes itu boleh diatasi dengan baik oleh pemimpin-pemimpin kami, sudah ada job dan kami tak mau masuk ke dalam kes itu, biarlah pihak kerajaan Malaysia dan kerajaan Indonesia yang menyelesaikannya”. Saya diam, tak bicara lagi. Saya berdiri, tak nak mencari posisi untuk duduk sebagai “pemakai percuma”, tapi saya berdiri untuk keluar dari Makmal dan terus keluar menuju kafetaria jelang Perpusatakaan Tun Sri Lanang.

Sambil duduk menikmati Teh Tarik dan sedikit nasi dengan sambal yang saya lupa namanya, saya berusaha kembali mencerna kata-kata teman-teman para graduan Malaysia di ruangan Makmal tadi. Ada sebuah kedewasaan tapi juga ada sebuah kepasrahan. Dewasa melihat persoalan bahwa masalah Ambalat tersebut merupakan “persoalan High Politic” – dan mereka ingin sampaikan pesan : sudah ada yang mengurusnya, kita doakan dan dukung saja. Dan nampaknya mereka sangat menghargai teman-teman saya “para pemakai percuma” yang terus menerus mengobarkan rasa sentiment Malaysia di rungan kepunyaan orang Malaysia di tempat yang benama Malaysia. Namun disisi lain, terlihat oleh saya bahwa para graduan Malaysia ini terlampau “mudah” memberikan urusan negara mereka hanya kepada para elit politik negara. Jawaban mereka bahkan terkesan terjadi dekonstruksi-nasionalisme (secara teoritik lebih lanjut lihat teori post-modernisme). Ada kesan apatis, acuh tak acuh, tidak mau tahu dan sedikit takut walaupun hanya untuk “sekedar berbicara tentang kasus yang sensitive" (BERSAMBUNG)

Sabtu, 22 Agustus 2009

Entah Mengapa Malaysia Bukan Dianggap "Saudara Serumpun"

Oleh : Muhammad Ilham

Beberapa minggu yang lalu, tepatnya siap Pemilihan Presiden, saya bersama dengan beberapa orang teman-teman melakukan survey-semi kualitatif tentang “Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Pemilihan Presiden 8 Juli 2009”. Daerah yang saya ambil sample-nya adalah daerah di sepanjang pantai barat Pasaman Barat. Sebab daerah tersebut adalah daerah dengan rata-rat tingkat pendidikan masyarakat cukup rendah, namun tipikal masyarakat terbuka. Saya tak akan kemukakan analisis mendalam tentang hasil survey tersebut, yang pasti lebih dari 77 % masyarakat mengatakan Pemilihan Presiden barusan “jujur” dan “adil” dan menganggap persoalan DPT adalah sesuatu persoalan yang “tidak mereka pahami dan bukan sesuatu yang penting”. Dalam survey-semi kualitatif itu, “sambil lalu” saya juga menyelipkan satu pertanyaan di luar konteks yaitu pertanyaan dengan nada provokatif : “Negara mana yang saudara anggap sebagai lawan” – dengan metode pertanyaan stimulus tanpa memberikan pengetahuan tentang pertanyaan tersebut pada responden.

Dari 673 responden, didapatkan 3 negara yang dianggap mereka sebagai lawan, 2 negara pertama mudah saya cerna, namun negara yang ketiga cukup menyentakkan ranah rasionalitas saya. Negara Israel mayoritas (51 %) dianggap sebagai lawan. Ditempatkannya Negara Israel sebagai peringkat 1 negara yang dianggap sebagai lawan tersebut memiliki justifikasi metodologis dimana 100 % responden adalah muslim dan media massa (dalam hal TV) bukan lagi menjadi sesuatu yang langka. Pada umumnya, mereka kenal dengan negara Israel (baca: yahudi) sejak kecil .......... artinya, potensi ketidaksukaan tersebut sudah ada sejak mereka belum memiliki suatu alasan argumentatif mengapa mereka harus benci dengan negara "Dinding Ratapan" ini. Negara kedua yang dianggap sebagai lawan adalah Amerika Serikat (37 %) dengan mayoritas respondennya adalah kalangan yang respek dengan gerakan radikal Islam belakangan ini. Bagi mereka, Amerika Serikat adalah negara yang memiliki kontribusi besar terhadap degradasi moral dan kemunduran ummat Islam. Bahkan, ketidaksukaan dengan Amerika Serikat ini juga ada korelasi simetris dengan ketidaksukaan dengan Israel. Sementara itu, selebihnya (12 %) menganggap Malaysia sebagai negara yang harus diposisikan sebagai lawan Indonesia. Simpulan terakhir inilah yang cukup mengejutkan saya. Mayoritas yang menjawab Malaysia sebagai negara yang harus dianggap sebagai lawan tersebut adalah kalangan muda. Ketika stimulus pertanyaan dikembangkan lagi, penyebab kebencian mereka terhadap Malaysia terakumulasi pada 3 kata kunci : “TKI dengan devian Penyiksaan”, “Plagiat” dan “Ambalat”.

Saya belum sempat melakukan analisis lebih mendalam dan mensintesakannya dengan beberapa teori atau hasil penelitian terdahulu. Namun ini menjadi catatan penting bagi dua negara “serumpun” ini. Responden dari kalangan muda yang melihat bahwa Malaysia menjadi negara yang pantas dianggap sebagai “lawan”, cukup menyentakkan kita tentang potensi harapan terciptanya “hubungan ramah mesra” pada masa yang akan datang. Kalangan tua nampaknya tidak lagi ambil pusing dengan romantisisme “Ganyang” a-la Sukarno. Mereka justru lebih melihat Israel dan Amerika Serikat sebagai “lawan”, maklum usia yang tua justru secara psikologis-sosiologis, lebih memiliki kecenderungan untuk memberikan justifikasi yang bernuasakan teologis, "seakan-akan ketidaksukaan terhadap Israel-Yahudi tersebut telah memiliki legalitas-justifikasi teologi keagamaan". Beda dengan kalangan muda yang dekat dengan idiom nasionalisme. Ekspos media tentang plagiat-nya Malaysia seperti kasus “Rasa Sayange”, “Reog Ponorogo” maupun "Batik" dan seterusnya serta drama-melankolik Manohara maupun “penyiksaan TKI” membuat banyak kalangan muda – setidaknya berdasarkan survey tersebut – mengganggap Malaysia lebih berbahaya dibandingkan dengan Negara Yahudi sekalipun.

Saya pribadi justru mendapat kesan positif, dari proses interaksi saya dengan masyarakat Malaysia (terutama Melayu) ketika untuk beberapa waktu “berkontemplasi”, studi Post Graduate di UKM Malaysia. Secara sepintas saya memahami bahwa masyarakat Melayu Malaysia menganggap bahwa masyarakat Indonesia adalah saudara mereka. Tapi entah mengapa, para pemimpin negara Malaysia seakan-akan tidak menyadari atau setidaknya “sejalan” dengan masyarakat mereka (baca: Melayu) – berdasarkan pemahaman subjektif saya selama ini. Buktinya, setelah kasus Ambalat, Rasa Sayange-Reog Ponorogo-Batik dan drama melankolik Manohara serta penyiksaan TKI mulai mereda dan masyarakat Indonesia mulai secara “setapak demi setapak” menganggap Malaysia adalah “(memang) saudara serumpun”, klaim Tari Pendet oleh Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Malaysia dalam brand-icon pariwisata Malaysia baru-baru (walaupun belakangan Embassy Malaysia di Jakarta mengatakan bahwa semua itu bukan kebijakan kerajaan, tapi lebih kepada improvisasi sebuah "Production House"), kembali mempertegas bahwa Malaysia seakan-akan tidak pernah berhenti “memprofokasi”. Apalagi, pembelian (tepatnya : pencurian) naskah-naskah klasik Islam Melayu Indonesia oleh praktisi-ilmuan ataupun "pedagang" Malaysia terus diekspos dalam media massa Indonesia. Keinginan untuk menjadikan Malaysia sebagai "Trully Asia" justru berpotensi mengorbankan "Trully Genetic". Beberapa malam yang lalu, saya menelepon salah seorang responden saya dan menanyakan sikap mereka terhadap kasus "Tari Pendet" yang diekspos besar-besaran oleh akhbar/media massa Indonesia belakangan ini ......... ia mengatakan, "negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut yang tidak mau serumpun dengan kita, negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut yang tidak pernah mau tahu dengan "gondoknya" kita ....... negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut dan seterusnya .... bla....bla. Reaksi saya ......... ketawa dan saya sudah bisa memprediksi jawaban apa yang akan saya dapatkan. Tapi ada satu yang membuat saya heran ..... sang responden tersebut jarang sekali menggunakan istilah negara/rakyat Malaysia (sebagaimana beberapa waktu lalu ketika saya wawancarai). Dalam percakapan telepon tersebut, ia nampaknya lebih suka menggunakan istilah "negara Nordin M. Thop dan Dr. Azahari tersebut". Semoga Allah SWT. memberikan yang terbaik bagi persaudaraan "Trully Genetic" ini.

Senin, 17 Agustus 2009

Naskah Islam Klasik di Minangkabau : Tantangan Epistimologik

Oleh : Muhammad Ilham

(Tulisan ini merupakan "bentuk lain" dari Proposal Penelitian yang ditawarkan pada Lektur Keagamaan Departemen Agama RI ...... masih mentah dan on-track)
Tradisi penulisan, penyalinan dan persebaran naskah-naskah keagamaan di dunia Melayu-Indonesia memiliki keterkaitan dan berkorelasi dengan proses Islamisasi yang terjadi (Uka Tjandrasasmita, 1999:201). Umumnya naskah-naskah tersebut ditulis untuk kepentingan transmisi pengetahuan keIslaman yang terjadi di pelbagai institusi keagamaan, seperti pesantren, surau, dayah, rangkang dan lain-lain (Hasan Muarrif Ambary, 1995: 166). Dalam kalangan masyarakat Minangkabau, tradisi penulisan dan persebaran naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan dilakukan secara terus menerus (kontiniu), seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan dan persebaran Islam. Mayoritas para ahli sejarah atau sejarawan sepakat bahwa Islam di wilayah nusantara, berkembang sejak awalnya dengan corak atau style tasauf (Azyumardi Azra, 1996; Hamka, 1983; Hasan Muarrif Ambary, 1995; Dennys Lombard, 1999), maka naskah-naskah keagamaan yang muncul-pun mayoritas memuat pembahasan-pembahasan mengenai tasauf, baik yang ditulis oleh para penganut tareqat Syattariyah maupun Naqsyabandiyah, dengan segala devian tareqatnya.

Seperti yang terjadi di wilayah lain di dunia Melayu-Indonesia, tradisi pernaskahan dikalangan masyarakat Minangkabau mengandung sebuah ”kearifan lokal” (local-wisdom) yang sedemikian kaya dan telah menarik perhatian banyak orang untuk melihat serta mengetahui nilai-nilai kebudayaan Minangkabau yang terkandung didalamnya (Oman Fathurrahman, 2000: 34). Kearifan lokal dalam hal ini tentu saja mencakup hal yang sangat luas, yang terkandung dalam naskah-naskah yang ditulis seperti tradisi keber-agama-an, keragaman pemahaman dan berbagai pilihan solusi dalam upaya pemecahan masalah-masalah kultural dan lain-lain, baik yang bersifat teks maupun konteksnya. Di daerah Minangkabau, baik dalam konteks kultural maupun geografis, tradisi penulisan dan kemudian persebaran naskah-naskah keagamaan ini dapat dipastikan terjadi secara terus menerus, seiring dengan terus berlangsungnya perkembangan dan persebaran ajaran Islam. Karena Islam sejak awalnya berkembang dengan corak atau pendekatan tasauf, maka naskah-naskah keagamaan yang muncul-pun mayoritas mengandung pembahasan tentang tasauf, baik yang diamalkan oleh penganut tareqat Syattariyah maupun Naqsyabandiyah. Uniknya, sebagaimana yang dikatakan oleh Zurniati (2005: 9-11), di Minangkabau perkembangan dan persebaran Islam yang bercorak tareqat ini terjadi secara sistematis melalui surau-surau.

Jadi tidaklah mengherankan apabila pembahasan mengenai sejarah Islam di Minangkabau, surau menempati posisi yang signifikan, termasuk didalamnya ketika membahas tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah Islam. Dalam bahasa Oman Fathurrahman (2000: 36), surau-surau di Minangkabau dapat dianggap sebagai ”skriptorium” naskah, tempat dimana aktifitas penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaan berlangsung. Hal ini justru menguntungkan dalam proses penyelidikan, karena pola persebaran naskah-naskah keagamaan melalui surau-surau di Minangkabau ini membuat keberadaan naskah-naskah tersebut mudah ditelusuri, karena mayoritas surau-surau tersebut hingga saat sekarang masih banyak dijumpai. Kendatipun kondisi dan fungsinya tidak seperti pada awal perkembangannya sebagai centre of excellence keilmuan Islam.

Berbeda dengan apa yang terjadi di wilayah lain di Indonesia, tradisi penulisan naskah-naskah keagamaan di Minangkabau ini tampaknya masih berlangsung hingga saat sekarang, walaupun dengan intensitas yang berbeda. Sejumlah naskah-naskah Syattariyah periode akhir abad ke-20 Masehi yang dijumpai, merupakan salah satu betapa tradisi tersebut masih terus berlangsung seiring dengan masih mengakar dan terus berkembangnya Islam tareqat, khususnya tareqat Syattariyah dan Naqsyabandiyah di Minangkabau ini.

Mempertimbangkan persebaran-persebaran tareqat-tareqat Syattariyah dan Naqsyabandiah di Minangkabau yang demikian intensif, serta memperhatikan fungsi naskah-naskah keagamaan sebagai media untuk mentransmisikan berbagai ajaran tareqat tersebut, dan juga berdasarkan kepada beberapa beberapa asumsi dasar dari para peneliti-peneliti terdahulu yang cukup intens mengkaji permasalahan naskah-naskah Islam Minangkabau, maka bisa diasumsikan bahwa naskah-naskah keagamaan (Islam) di Minangkabau ini terdapat dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk melakukan proses inventarisasi dan identifikasi naskah-naskah ini, bahkan bila memungkinkan, dilanjutkan dengan proses penelaahan akademik terhadap makna kontent teks dalam upaya pengayaan epistimologi keilmuan pernaskahan.

Dalam konteks Sumatera Barat, perkembangan dan persebaran Islam yang bercorak tareqat-tasauf ini secara sistematis melalui surau-surau. Tidaklah mengherankan kemudian, jika sejauh menyangkut telaah atas berbagai hal yang berkaitan dengan Islam periode awal di Sumatera Barat, peran surau sangatlah signifikan (Azyumardi Azra, 1988 dan 2003), termasuk ketika masuk dalam pembahasan tentang tradisi penulisan dan penyalinan naskah-naskah keagamaannya. Pada dasarnya, pola persebaran naskah-naskah keagamaan melalui surau-surau di Sumatera Barat ini pada gilirannya sangat mempermudah upaya penelusuran keberadaan naskah-naskah tersebut, karena surau-surau itu sendiri hingga sekarang masih banyak dijumpai. Akan tetapi dalam kenyataannya, upaya untuk mengetahui keberadaan naskah-naskah keagamaan tersebut, apalagi membaca dan memahami secara akademik-epistimologis dan memanfaatkannya, seringkali menemui hambatan, baik naskah-naskahnya yang dikeramatkan hingga tidak boleh diakses oleh sembarang orang maupun karena naskah-naskah tersebut telah rusak dimakan oleh usia. Tentu saja, upaya identifikasi dan inventarisasi atas naskah-naskah tersebut telah pernah dilakukan, terutama naskah-naskah Islam Minangkabau yang berada di luar negeri, lebih khususnya lagi di Belanda. Sejumlah katalog yang pernah ditulis, kendati tidak semuanya dikhususkan pada naskah-naskah keagamaan Islam saja, melainkan juga naskah-naskah lainnya seperti sastra dan lain-lain. Naskah-naskah yang pernah diteliti seperti yang dilakukan oleh van Ronkel (1921) yang mencatat tidak kurang daripada 257 naskah dengan judul tersimpan di Perpustakaan Universiti Leiden (Chambert-Loir & Oman Fathurrahman, 1999: 173-176). Disamping itu, ada juga penelitian yang dilakukan oleh Teuku Iskandar (1999) yang juga mencantumkan kembali naskah-naskah Minangkabau yang pernah dicatat oleh van Ronkel diatas dengan beberapa tambahan koleksi baru.

Sementara itu, naskah-naskah yang ada di Minangkabau yang pernah diteliti oleh beberapa peneliti diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Ali Hj. Wan Mamat (1995) yang melakukan pendokumentasian naskah-naskah Melayu di Sumatera Selatan dan Jawa Barat yang juga menyebut beberapa naskah Melayu di Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) Padang Panjang. Sedangkan Wibisono dkk. (1989) menyelidiki tentang naskah-naskah keagamaan Islam Minangkabau di beberapa masjid dalam perspektif arkeologis. Disamping itu, beberapa orang peneliti daripada Fakulasi Adab IAIN Imam Bonjol Padang (Rusdi Ramli dkk., 1997) dan dari Universitas Andalas Padang (Muhammad Yusuf dkk., 2001) memberikan informasi tambahan keberadaan naskah-naskah keagamaan secara ”grand tour”, walaupun tidak semua naskah boleh teridentifikasi. Menurut Ramli dkk. serta Yusuf dkk., ada beberapa daerah di Minangkabau yang merupakan ”enclave” naskah-naskah Islam Minangkabau diantaranya Kampung Lubuk Gunung Gadut 50 Kota, Taram 50 Kota, Batipuh Padang Panjang, Bingkudu IV Angkat Canduang, Tiaka Payakumbuh, Kuranji Padang, Pariangan Batusangkar, Pauh IX Padang, dan Kurai XIII Bukittinggi. Umumnya naskah-naskah tersebut berada ditangan personal. Sedangkan surau-surau yang masih menyimpan naskah-naskah Islam Minangkabau tersebut diantaranya surau Bintungan Tinggi nan Sabaris Pariaman, surau Tigo Jorong nagari Kudu Gantiang Barat kec. V Koto Kampuang Dalam Pariaman, surau Tandikek Pariaman, surau Padang Japang kenagarian VII Koto Tagalo kec. Guguak 50 Kota, surau Balingka kec. IV Koto Agam serta surau Batang Kabuang dan Surau Paseban di Koto Tangah Padang.

Diasumsikan masih banyak lagi naskah-naskah yang bertebaran di berbagai daerah baik yang bersifat person maupun institusi-surau. Apalagi bila diperhatikan bahwa persebaran naskah-naskah tersebut baru fokus pada beberapa daerah saja seperti sekitar daerah Kabupaten 50 Kota/Payakumbuh, Padang Pariaman, Kota Padang, Batusangkar dan Tanah Datar. Sementara itu, daerah-daerah lain masih belum teridentifikasi naskah-naskah Islam Minangkabau ini.

Minggu, 16 Agustus 2009

Dirgahayu Indonesia-Ku : Optimisme dan Jembatan Emas

Oleh : Muhammad Ilham

17 Agustus 2009, 64 tahun Indonesia merdeka. Dalam rentang historis yang seharusnya membuat Indonesia harus matang, optimisme kita harus tetap ada dan terus dijaga. Bagaimanapun juga, Indonesia sudah mengarah pada kemantapan. Nilai kejujuran dan keterbukaan sudah mulai terlihat., walaupun terkadang ditingkahi oleh "akrobatik politik tingkat semu". Semua kita harus merasakan bahwa keindonesiaan adalah unsur dalam kepribadian yang mendukung dia dalam memecahkan masalah-masalah bangsa. Rasa keindonesiaan juga harus dirasakan sebagai sesuatu yang positif dan dibanggakan. Sehingga setiap orang Indonesia terdorong untuk memberi yang terbaik bagi bangsanya. Disanalah .... konteks optimisme tersebut diletakkan. Termasuk dalam hal ini adalah masyarakat kecil dan miskin. Rakyat kecil dan miskin ini, harus benar-benar merasakan bahwa negara tempat ia tinggal punya kebijakan yang mendukung kemajuannya. Kemiskinan seharusnya ditempatkan dalam kerangka tantangan berbangsa, bukan sebagai "sesuatu yang fungsional" - sebagaimana yang diyakini oleh mazhab fungsionalisme. Jika mereka tidak merasakan kebijakan pemerintah, yang tidak berpihak kepada mereka, tidak menempatkan kebijakan tersebut untuk mendekatkan mereka dengan ke-Indonesiaan-nya, mereka bisa punya masa depan yang tidak pasti dan kehilangan harapan untuk lebih sejahtera, ini justru berpotensi berbahaya. Motivasinya bisa menjadi kabur, dan bisa terbuka bagi ekstrimisme. Persoalan bangsa kini adalah ketegangan sosio-kultural, regionalisme, dan hubungan masyarakat-negara. Namun, mari tetap kita mulai dengan ras optimisme, mulai dari pencapaian yang telah dihasilkan selama ini kemudian perlihatkan sebuah idealisme dan tantangan yang akan dihadapi ke depan.

Idealisme bangsa, telah dirumuskan dengan sangat baik dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan empat hal. Pertama, keyakinan kemerdekaan adalah hak semua bangsa dan juga karena rahmat Allah. Kedua, ada pandangan kesejarahan: maka, sampailah perjuangan ke pintu gerbang kemerdekaan. Ketiga, penjelasan tujuan Indonesia merdeka, yaitu menjaga tanah dan bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjamin perdamaian dunia. Tahun 1920-an Bung Karno mengatakan dalam pidato ”Indonesia Menggugat”, kemerdekaan adalah jembatan emas. Maksudnya, ketika kita bebas menjalani kehidupan yang kita cita-citakan sesuai landasan ideologis kita sebagai bangsa. Waktu kita umumkan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, jembatan emas itu belum ada. Baru tekad yang kita miliki. Sekutu menyerang. Irian Barat kita kuasai. Dalam delapan tahun berikut, ada tonggak-tonggak jembatan yang jatuh. Demokrasi Terpimpin lewat Dekret Presiden 5 Juli 1959, Indonesia tidak lagi berkedaulatan rakyat. Tak ada pemilu. Bung Karno pegang semua, eksekutif, legislatif, kehakiman. Itu diperbaiki Orde Baru dengan memperjelas pembagian kekuasaan. Namun, ada tonggak yang kurang, yaitu menduduki Timor Timur. Padahal, kemerdekaan hak semua bangsa. Kemudian Reformasi 1998. Kita dapatkan kembali demokrasi. Kedaulatan rakyat kembali. Presiden Habibie berjasa dengan mengadakan Pemilu 1999 sebelum waktunya. Ia juga melakukan dua hal penting: kemerdekaan pers dan otonomi daerah. Jadi, praktis jembatan emas selesai setelah reformasi. Kemudian KH Abdurrahman Wahid menjadi orang pertama yang dipilih sebagai presiden sesuai UUD 1945 oleh MPR. Presiden SBY terpilih oleh pemilu langsung hasil amandemen UUD 1945. Ini terjadi ketika jembatan emas itu sudah dicat, dikasih lampu-lampu.

Menjaga tanah dan bangsa ini, meningkatkan kesejahteraan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjamin perdamaian dunia. Tantangannya, apakah semua tujuan itu sudah tercapai? Soal mempertahankan tanah dan bangsa selalu kita lakukan. Dulu kita melawan musuh imperialis, sekarang banyak soal baru, seperti lingkungan, perubahan iklim, narkotika, penyakit seperti flu burung dan flu H1N1. Soal kesejahteraan, tak pernah habis. Itu bagian dinamika kehidupan masyarakat yang terus harus diupayakan tanpa henti. Masalah terberat, mencerdaskan kehidupan bangsa yang belum cerdas juga. Apakah saya cerdas sebagai bangsa ketika saya hidup mewah sementara tetangga mati kelaparan? Kesenjangan sosial itu memancing konflik. DIRGAHAYU INDONESIA ............. I LOVE YOU FULL !!

Senin, 03 Agustus 2009

Buat Emma Yohanna : Anggota DPD RI 2009-2014 Utusan Sumbar

Oleh : Muhammad Ilham
(Dosen-Peneliti IAIN Padang/Direktur Riset LPPBI IAIN Padang/Surveyor Cetro)

(Padang-Today.com dan Situs emmayohannacentre.com) Sejarawan Tsyoshi Kato dan Takashi Shiraishi, suatu waktu pernah mengatakan bahwa Minangkabau adalah "ranah dinamis" yang sudah sejak dahulu memberikan peluang bagi perempuan berkiprah di dunia "laki-laki" -- dunia politik. Bukalah lembaran sejarah, beberapa nama seperti Rasuna Said, Rahmah El-Yunusiyyah dan lain-lain, setidaknya mewakili sebuah zaman yang "ramah" terhadap perempuan di Minangkabau pada masa mereka. Institusi Amai Setia dan jumlah perempuan yang sekolah di Kweek School pada Era 20-an serta lahirnya Diniyyah Putri tahun 1921, kembali mempertegas, bahwa Minangkabau punya sejarah "keberpihakan terhadap perempuan". Dalam tataran ini, Emma Yohanna ........ setidaknya memiliki "track historis" untuk berkiprah ........ dan saya yakin, ia mampu.

Suatu ketika, anggota Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat, Angelina Sondakh "yang cantik itu", mengatakan bila kaum perempuan memilih jalan politik, maka harus mampu memainkan peran yang strategis. Dengan begitu, posisinya dapat diperhitungkan lawan-lawannya. Formulanya sangat sederhana : Jika ingin terjun ke politik, harus kuat. Anggota Komisi X itu mengatakan di dunia politik tidak mengenal laki-laki dan perempuan. Itu sebabnya sikap kaum perempuan tidak boleh kalah tegas. Sebab, kata dia, bila mereka tidak menunjukkan ketegasan, posisinya dapat dimanfaatkan orang lain. “Jangan jadi tidak tegas, karena nanti gampang dikibuli,”. Menurut artis itu, terjun ke dunia politik tidak boleh setengah-setengah. “Karena akan dikerjain abis-abisan lawan-lawannya,” kata Angelina "istri Adjie Massaid" yang bermarga Sondakh ini.

Bagaimana karir wanita dalam politik ? Memperbincangkan karir wanita sebagai pemimpin dalam kiprah politik, terlebih lagi di bumi Indonesia, memang masih pendek umurnya. Kita hanya mengenal tokoh macam Cut Nyak Dien, Kristina Martha Tiahahu pada jaman penjajahan. SK Trimurti, Supeni, Maria Ulfah Subadio pada era kemerdekaan. Megawati, Aisyah Amini, Khofifah Indrawati, pada era Orde Baru sampai sekarang. Sementara itu masih banyak lagi tokoh wanita yang terjun atau melibatkan dirinya dalam dunia swasta dan bahkan lembaga swadaya masyarakat. Di dunia Barat yang kehidupan demokrasinya lebih panjang ketimbang di Indonesia, kiprah karir wanita sebagai seorang pemimpin yang kapabel dalam dunia politik juga belum terlalu lama. Di Amerika Serikat, 144 tahun setelah merdeka, hak pilih wanita baru diakui dalam Amandemen Kesembilan Belas. Sementara di Inggris hak wanita baru dipenuhi tahun 1928. Tahun 1917, Jeanette Rankin merupakan wanita pertama yang menjadi Anggota Konggres di Amerika.

Presiden Ronald Reagen tahun 1981 mengangkat Sandra Day O’Connor sebagai Hakim Agung berjenis kelamin wanita. Pada masa itu Ronald Reagen juga menunjuk Jeanne Kirkpatrick, wanita pertama sebagai staf penasihat kebijakan luar negeri. Sementara Presiden Bill Clinton juga menunjuk beberapa wanita untuk menduduki jabatan penting. Janet Reno merupakan wanita pertama sebagai Jaksa Agung. Sedangkan Madeleine Albright adalah wanita pertama yang memangku jabatan Menteri Luar Negeri. Sementara data tahun 1988 menunjukkan, diseluruh dunia hanya ada 14,8% kursi parlemen yang diwakili oleh wanita. Sedang data tahun 1995 kursi parlemen yang diduduki wanita melorot menjadi 11,3%. Negara Swedia merupakan negara dengan komposisi parlemen berjenis kelamin wanita sebesar 40,4 % atau tertinggi di dunia.. Di Indonesia sendiri, wanita yang menduduki kursi DPR selalu tidak lebih dari 2% dari satu periode pemerintahan ke periode berikutnya. Hal ini menandakan bahwa hanya sedikit sekali wanita Indonesia yang mempunyai pengembangan karir di bidang politik. Walaupun secara prosentase jumlah wanita jauh dibanding dengan jumlah laki-laki di kursi parlemen, tidak berarti wanita lantas kehilangan hak untuk menjadi pemimpin. Cory Aquino, Benazir Butto, Margareth Teacher, merupakan wanita-wanita hebat yang menjadi pemimpin pemerintahan di negaranya walaupun parlemen negara mereka mayoritas dikuasai kaum laki-laki.

............... Mario Teguh, dalam setiap Ending "Mario Teguh : Golden Ways" selalu berkata : "realitas seperti ini, kemampuan seperti itu ..... lakukan, selanjutnya perhatikan hasilnya". Realitas historis, kapabilitas dan kualitas Emma sangat mumpuni, kita yakin, ia akan mampu". Selamat (berjuang dan "berjibaku").

Sabtu, 01 Agustus 2009

Bom Bunuh Diri dalam Pemahaman Fakta Sosial

Oleh : Muhammad Ilham

Dalam tradisi agama-agama besar dunia, kematian bukanlah akhir daripada perjalanan hidup seseorang. Hukum kehancuran hanya berlaku pada wujud yang berstruktur secara materi. Karena roh bukanlah materi, maka ia tidak akan terkena pada hukum kehancuran. Konsep dan keyakinan hidup setelah mati ini mendapat tempat yang kokoh dalam tradisi agama-agama besar dunia. Mati bukanlah sebuah terminasi, tetapi garis transisi untuk memulai hidup baru di alam yang baru. Oleh karena itu, mereka yang ketika masih hidup menanam kebaikan, maka kematian baginya adalah sebuah gerbang yang membawanya memasuki kehidupan baru yang jauh lebih indah dengan kebahagian sejati. Itulah yang diyakinkan pada para calon pengebom bunuh diri. Lewat sebuah indoktrinasi, kata Emille Durkheim, mereka diyakinkan bahwa taman Firdaus terhampar setelah mereka mengorbankan diri mereka demi orang lain. Atau dalam bahasa lain, sorga terhampar luas dibalik detonator sehingga kematian akan terasa tidak lebih dari sekedar cubitan.

Beragam komentar dan pendapat dilontarkan oleh berbagai kalangan untuk menelaah fenomena (sosiologis) ini. Dari beragam pendapat tersebut, tidak didapatkan satu kesimpulan tunggal mengenai penyebab terjadinya fenomena bom bunuh diri ini. Beberapa pertanyaan yang mengedepan antara lain : Mengapa "mereka" mau mengorbankan diri mereka? Nilai-nilai apa yang mereka perjuangkan? Mengapa melibatkan banyak pemuda? Mengapa melibatkan mayoritas orang-orang yang anti-sosial? Mengapa melibatkan Islam garis keras ? Mengapa fenomena ini kemudian merembet ke kawasan yang tidak memiliki akar kultural seperti di Indonesia? Dalam konteks ini, jiwa martyrdom (lebih kurang berarti : kesyahidan) ini menurut John Hamling dalam bukunya The Mind of Suicide terdapat paling kurang ada delapan hal yang mendorong seseorang berani dan mau berkorban, bahkan mengorbankan hidupnya sendiri tanpa mengindahkan nilai-nilai humanis dan luhur agama dan "pakem" rasional yang terdapat dalam tata peradaban ummat manusia modern yaitu :

Pertama, Hopeless atau Kehilangan Harapan. Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today terhadap anak-anak Palestina menjelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Peter O'Gonnor White terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada dibawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala. Berbagai usaha dilakukan etnis Tamil agar mereka bisa berpisah dari Sri Langka. Akan tetapi, usaha melalui jalur diplomasi dan kerusuhan-kerusuhan sporadis tidak membuahkan hasil. Akibatnya, mereka merasa kehilangan harapan. Maka jalan satu-satunya adalah mentradisikan bom bunuh diri secara simultan dengan harapan timbulnya ekses psikologis dan perhatian dunia.

Begitu juga dengan statement yang pernah diungkapkan oleh ulama muda syiah kharismatis Irak, Moqtada al-Shadr, yang mengatakan bahwa tindakan martyrdom yang dilakukan oleh kelompok perlawanan Irak terhadap Amerika Serikat di Irak bukanlah kesia-siaan, akan tetapi merupakan "jalan yang benar". Demikian juga halnya dengan apa yang dilakukan oleh MNLF di Filiphina ataupun pola diaspora terror (konsep ini bertendensi negatif) yang dilakukan oleh Osama bin Laden. Keputusasaan terhadap ketidakberhasilan membebaskan Arab Saudi dan Timur Tengah dari Amerika Serikat, membuat Osama bin Laden "meluaskan" wilayah operasinya.Sama halnya dengan beberapa pejuang dalam sejarah setiap bangsa di dunia ini, Ia akhirnya merantau, keluar dari "relung sucinya" atau negaranya demi satu tujuan yang makro. Mungkin ini juga yang dilakukan oleh Azhari cs. dan Hambali cs. dan Nordin M. Thop cs. Kedua, demi orang yang dicintainya orang rela melepaskan hidupnya. Pengorbanan memiliki nilai evolusioner riil manakala orang tua menyelamatkan anaknya karena penyelamatan anaknya akan menjamin kelangsungan hidupnya. Memang orang tua melindungi dan mendidik serta membesarkan anaknya tampa pamrih. Akan tetapi bagaimanapun juga, anak bagi orang tua adalah investasi, baik investasi kelangsungan genetik, ekonomi maupun kedamaian dihari tua. Secara sosiologis, cinta terbesar adalah cinta terhadap agama dan ideologi yang sering dipersonifikasikan dengan konsep fanatisme. Kecintaan terhadap agama mengalahkan kecintaan terhadap yang lain karena agama memiliki daya tarik luar biasa dengan justifikasi normatif religiusnya.

Ketiga, Faktor Kepahlawan. Sosiolog Emille Durkheim mengatakan bahwa dalam kasus-kasus yang lebih altruistik, pelaku bunuh diri (baca : pengebom bunuh diri) menyimpulkan bahwa kehidupan mereka yang selamat lebih bernilai dibandingkan dengan kehidupannya sendiri atau bahkan kelangsungan hidup mereka bisa terjamin bila ada yang meninggal. Tipe seperti ini biasa terjadi dalam peran ketika seseorang mengobankan dirinya sendiri dengan harapan bahwa kawan-kawannya akan selamat. Banyak peristiwa-peristiwa tragis kepahlawanan yang pada akhirnya peristiwa itu memberikan inspirasi tentang kepahlawanan (terlepas dari salah atau benarnya). Prosesi "Minum Racun"nya Socrates karena keteguhan akan memegang prinsip justru memberikan inspirasi besar terhadap perjalanan filsafat pemikiran dunia setelahnya. Begitu juga dengan sang ana al haq al Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Mishio Torugawa, seorang petinggi militer Jepang pada masa Perang Dunia II, sebelum melakukan harakiri (bunuh diri bercirikan kultural a-la Jepang) mengatakan bahwa kematiannya merupakan "tumbal" untuk kejayaan Jepang pada masa yang akan datang. Demikian juga yang terlihat dalam peristiwa Puputan yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Rai di Bali dan kematian Robert Walter Monginsidi. Di Filiphina, hal ini bisa terlihat dari Jose Rizal. Kemudian juga terlihat dari apa yang diungkapkan oleh "Singa Padang Pasir" dari Libya Omar Mochtar sebelum menuju tiang gantungan yang dipersiapkan oleh penjajah Italia : "kematianku bukanlah sebuah kekakalahan dan ketakutanku. Kematianku merupakan sebuah inspirasi terhadap perubahan yang lebih besar pada masa yang akan datang".

Keempat adalah Faktor Kebanggaan Individual-Komunal. Standar kultural dan kepercayaan mungkin membawa seseorang untuk siap melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti. Hasil dari tindakan ini adalah terjaminnya keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Mereka dapat hidup dengan kebanggaan dan harapan. Faktor budaya sangat memegang peranan yang signifikan dalam melahirkan anggapan ini. Bagi kultur masyarakat Jepang klasik dan Palestina hingga saat sekarang, jiwa altruisme dengan bentuk tindakan bom bunuh diri (dengan embel-embel demi negara dan agama tentunya) justru meninggalkan kebanggaan individual-komunal. Eskapisme merupakan faktor yang kelima. Eskapisme, menurut kajian psikoanalisis, adalah keadaan memasuki alam khayal/hiburan untuk melupakan atau menghindari kenyataan-kenyataan yang tidak menggembirakan. Terkadang kematian dilihat sebagai pilihan terbaik dan terakhir yang amat menyedihkan ataupun kemalangan yang baik. Misalnya, untuk menghindari diri agar tidak ditangkap musuh untuk menghadapi konsekuensi-konsekuensi seperti penyiksaan dan penghinaan, maka diambillah pilihan terakhir untuk melakukan bom bunuh diri. Dalam konteks ini, mungkin tidak begitu banyak pelaku bom bunuh diri melakukan tindakan bom bunuh diri karena faktor ini. Tapi kasus DR. Azhari yang kemana-mana selalu membawa bom dalam rompinya bisa dipahami. Sebelumnya, DR. Azahari telah dianggap sebagai Target Operasi Terdepan Pemerintah Indonesia (Bukan lagi Polisi, tapi sudah Pemerintah dan Negara Indonesia). Mungkin menyadari hal ini, daripada ditangkap hidup-hidup -- dan hal ini hampir dilakukan oleh Polisi Indonesia, tapi karena pertimbangan bahwa DR. Azahari diasumsikan membawa bom dalam rompinya sedangkan pada waktu penggerebekan pertama DR. Azahari berada ditengah-tengah masyarakat dan dikhawatirkan banyak korban yang akan tewas apabila DR. Azahari meledakkan dirinya -- DR. Azahari lebih merasa "aman" memakai rompi yang terdapat di dalamnya bom.

Keenam adalah psychotic atau kegilaan, dimana ada yang beranggapan bahwa bunuh diri merupakan tindakan terakhir dari episode psychotic (kegilaan) yang merupakan bagian dari ritual supernatural, karena kematian tidak dapat dielakkan atau karena kematian merupakan sesuatu yang sementara sifatnya. Mungkin faktor ini tidak begitu jelas dan pas dalam memahami perilaku terorisme bom bunuh diri. Pada umumnya, hal ini bisa dilihat dari beberapa fenomena aliran-aliran "sempalan" dari sebuah agama yang mapan seperti fenomena David Koresh di Amerika Serikat dan beberapa peristiwa tragis lainnya yang berakhir dengan ritual bunuh diri para pengikutnya. Dalam kasus Islam di Asia Tenggara, peristiwa dalam skala yang lebih rendah bisa terlihat dari kasus Madi di Sulawesi, Lia Eden di pulau Jawa dan beberapa kelompok (sempalan) lainnya baru-baru ini. Fanatisme juga menjadi faktor paling signifikan. Fanatisme merupakan sistem kepercayaan yang kaku, keras atau berpandangan sempit, meunrut para penganutnya untuk mengorbankan diri. Beberapa pernyataan yang dipaparkan diawal tulisan diatas terlihat bagaimana mereka memahami ajaran Islam secara sempit dan parsial. Mereka menganggap pemahaman merekalah yang benar, sehingga tokoh Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif pernah mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah orang-orang yang hanya berani mati, akan tetapi tidak berani hidup. Mereka hanya memahami ajaran Islam secara parsial dan menafsirkan ajaran tersebut sesuai dengan kepentingan dan misi ideologi mereka sendiri. Sayangnya, demikian kata Maarif, pelaku bom bunuh diri tersebut mayoritas adalah mereka yang memiliki pendidikan yang rendah dan tingkat ekonomi yang tidak begitu mapan, sehingga mereka mudah direcoki dengan pemahaman-pemahaman yang salah dan pada akhirnya menimbulkan rasa fanatisme yang tinggi dan anggapan bahwa apa yang mereka lakukan tersebut merupakan sesuatu yang benar dan sesuatu yang harus dilakukan.

Penelitian yang dilakukan oleh Robert N. Bellah di Jepang tentang ajaran Tokugawa memperkuat hal ini. Keberhasilan mencapai tujuan dan menjaga martabat Kaisar Jepang merupakan sebuah doktrin "genealogik" secara kultural bahkan diterima secara taken for granted. Hal inilah yang membuat masyarakat Jepang klasik sangat fanatik terhadap pemahaman dua hal diatas : Keberhasilan dalam mencapai tujuan dan Menjaga martabat tahta Seruni. Apabila mereka merasa gagal, maka jalan yang terbaik adalah bunuh diri. Bedanya antara fanatisme pertama dengan yang kedua adalah kalau yang pertama merupakan pemahaman parsial bukan kultural dan memiliki implikasi terhadap orang yang tidak bersalah. Sedangkan yang kedua merupakan pemahaman kultural yang hanya memiliki implikasi individual.

Pengorbanan diri sebagai suatu tindakan kesyahidan religius munculdari suatu kepercayaan terhadap hidup setelah mati atau berdasarkan atas kepercayaan bahwa kematian memberikan suatu kesempatan untuk lahir kemabli di bumi dengan status yang lebih tinggi (ini bisa dipahami ketika kita melihat kasus Devi Saravati diatas). Dengan demikian, maka kematian bukanlah dianggap sebagai sebuah kesia-siaan, tetapi dipandang sebagai kelahiran kembali untuk memulai hidup yang lebih baik dan baru. Dalam konteks ini, sedikit banyaknya motivasi pelaku bom bunuh diri adalah merupakan pelarian dari suasana dan "kompetisi hidup" yang tidak ramah pada mereka dan jalan terbaik agar mereka mencapai ketenangan dan kematian mereka tidak sia-sia adalah dengan jalan tragis ini.

Fenomena terorisme dan bom bunuh diri tersebut merupakan suatu fakta sosial dan bukanlah fenomena individual. Untuk mengantisipasinya, maka harus dicari penyebab yang juga merupakan fakta sosial. Dalam konteks ini, berbagai fenomena terorisme dan bom bunuh diri terjadi karena adanya pemahaman norma-norma religius yang destruktif, perilaku tidak adil dalam realitas sosial dan lain-lain yang bersifat diskriminasi struktural. Oleh karena itu, perlu para "pemegang otoritas" agama (Islam) untuk kembali memikirkan pola dakwah, pendidikan dan pendekatan terhadap transformasi ajaran Islam tersebut kepada ummat Islam itu sendiri, terutama pemahaman-humanis tentang beberapa konsep yang selama ini “menggairahkan” seperti “Jihad”. Pertanyaan logis yang mengedepan di benak kita harus dengan jujur untuk kita jawab yaitu: Mengapa ummat Islam memiliki potensi besar melakukan tindakan teror ? Mengapa para pelaku teroris dan Bom Bunuh Diri di Indonesia tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan pondok pesantren?

Ahmad Syafi’ie Ma’arief berpendapat bahwa untuk kedepan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya ummat Islam Indonesia, harus menekankan pendekatan yang humanis, hubungan dengan Tuhan juga berkorelasi erat dengan hubungan dengan manusia serta penekanan terhadap ajaran bahwa manusia yang Islami dan disayang oleh Allah SWT. adalah manusia yang menjaga peradaban dan ciptaan Allah. Disamping itu, diskriminasi dan ketimpangan sosial harus sedikit demi sedikit diperbaiki. Keadilan harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Rasa persaudaraan antar ummat beragama perlu dikembangkan dan dianggap perlu, bukan dilestarikan. Sementara itu, Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa terorisme dan perilaku bom bunuh diri bukan budaya masyarakat Indonesia. Namun bila dilihat secara historis, budaya kekerasan ada dalam setiap budaya di Indonesia yang kadang-kadang dijustifikasi oleh ajaran agama (Islam). Kasus Perang Aceh dengan Hikayat Perang Sabil yang termaktub dalam analisis antropologisnya (terdapat dalam buku yang diterbitkan INIS : Nasehat-Nasehat Snouck Hourgronje Jilid I - IX) Snouck Hourgronje memperkuat hal ini. Oleh karena itu, untuk kedepan, disamping menekankan pendekatan humanis terhadap ajaran Islam, kita juga harus menekankan jiwa humanis budaya-budaya di Indonesia. Karena bagaimanapun juga, seperti dalam setiap agama di dunia ini, setiap budaya lahir untuk menjaga dan mengembangkan peradaban ummat manusia. Butuh momentum tersendiri untuk memberikan pesan kepada pemegang otoritas politik Indonesia bahwa kebijakan-kebijakan yang menyudutkan ummat Islam hanya akan melahirkan ummat Islam yang radikal. Wallau 'Alam bi Shawab.

Jumat, 17 Juli 2009

Jakarta "Meledak" Lagi

Narasi : Muhammad Ilham
Foto : Posted www.kombes.com

"Jakarta meledak lagi", demikian penggalan nyanyian Kaka "Slank" yang menjadi musik pengiring Breaking News Metro TV. J.W. Marriot dan Ritz Carlton pun menjadi pusat perhatian dunia. Jum'at, pukul 06.46 dan 06.48 menjadi waktu "keramat" yang membuat Indonesia kembali kehilangan kepercayaan dunia. Terorisme Thopian (pengikut Noordin M. Thop), menjadi kesimpulan awal dan terkuat dalam menyimpulkan subjek pelaku dibalik peristiwa ini. Walaupun pernyataan Presiden SBY dan kemudian diperkuat oleh "ompung" Syamsir Siregar (Kepala Badan Intelijen Negara) yang tidak menunjuk kelompok tertentu (baik agama ataupun partai politik), namun nuansa "Islam garis keras" sebagai subjek pelaku sudah menjadi opini yang terbentuk, mulai dari pendapat para pengamat yang "samar-samar" maupun diskusi "kelas" kedai kopi di pelosok negeri. Genderang perang dengan mantra "persumpahan SBY" hari Jum'at lalu, nampaknya memberikan kepada kita sebuah kenyataan bahwa peristiwa tersebut sungguh sangat menyakitkan bagi kita. Proses membangun kepercayaan internasional akhirnya terkesan hampa-tak bermakna.


Rabu, 17 Juni 2009

Syahid, Teror dan Peradaban

Oleh : Muhammad Ilham
(Telah dipublikasikan dan didiskusikan di www.padang-today.com & PadangTV)


Salah seorang wartawan perang CNN legendaris, Peter Arrnet pernah meliput Perang Irak-Iran secara Live pada tahun 1982. Ia pernah melihat salah seorang ibu tua renta berdiri berjam-jam di stasiun kereta api milik tentara Iran. Peter Arrnet menanyakan siapa yang ditunggu oleh ibu tersebut. Si Ibu menjawab, "Saya menantikan anak kedua saya pulang dari front melawan "Yazid" Saddam Hussein, anak pertama saya telah syahid, mati di barisan depan agar pasukan pelapis bisa maju, sekarang saya menunggu dengan bahagia kedatangan anak kedua saya, hidup atau mati. Nanti saya berencana ingin mengirim anak bungsu saya yang sekarang telah berumur 18 tahun, keluarga kami adalah keluarga pejuang dan saya bangga karena rahim saya telah melahirkan para pejuang Iran dan Islam". Menurut hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh USA Today (1997, 2001 dan 2003) terhadap anak-anak Palestina dijelaskan bahwa mereka merasa tidak memiliki harapan terhadap masa depan. Mereka merasa hidup mereka tidak berarti lagi. Karena itu tidak ada pilihan lain lagi kecuali melawan dengan berbagai cara. Demikian juga halnya dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Peter O'Gonnor White terhadap komunitas Tamil di Sri Langka. Sri Langka, sebuah negara yang secara genetik dekat dengan Hindustan, akan tetapi mayoritas beragama Budha. Etnis terbesar yang terdapat di negara ini adalah etnis Sinhala (mayoritas) dan Tamil. Etnis terakhir ini merupakan etnis minoritas yang beragama Hindu, dan berada di bawah bayang-bayang diskriminasi sosial politik yang dilakukan oleh etnis Sinhala.

Berbagai usaha dilakukan etnis Tamil agar mereka bisa berpisah dari Sri Langka. Akan tetapi, usaha melalui jalur diplomasi dan kerusuhan-kerusuhan sporadis tidak membuahkan hasil. Akibatnya, mereka merasa kehilangan harapan. Maka jalan satu-satunya adalah mentradisikan bom bunuh diri secara simultan dengan harapan timbulnya ekses psikologis dan perhatian dunia. Sejak kecil para pemuda Tamil diajarkan sisi-sisi negatif etnis Sinhala dan "kaburnya" masa depan mereka. Militansi dan jiwa altruisme ditanamkan sedari kecil. Keputuasaan, hampir dalam berbagai kasus, selalu diakhiri dengan prinsip altruisme radikal dan dijustifikasi oleh nilai-nilai agama. Kelompok Radikal HAMAS di Palestina selalu mengatakan bahwa pengorbanan yang dilakukan oleh pemuda Palestina dalam meledakkan diri mereka bukan "kematian mubazir", tapi dalam konteks Islam menurut mereka kematian tersebut adalah syahid. Begitu juga dengan statement yang pernah diungkapkan oleh ulama muda syiah kharismatis Irak, Moqtada al-Shadr, yang mengatakan bahwa tindakan martyrdom yang dilakukan oleh kelompok perlawanan Irak terhadap Amerika Serikat di Irak bukanlah kesia-siaan, akan tetapi merupakan "jalan yang benar". Demikian juga halnya dengan apa yang dilakukan oleh MNLF di Filiphina ataupun pola diaspora terror yang dilakukan oleh Osama bin Laden. Keputusasaan terhadap ketidakberhasilan membebaskan Arab Saudi dan Timur Tengah dari Amerika Serikat, membuat Osama bin Laden "meluaskan" wilayah operasinya. Sama halnya dengan beberapa pejuang dalam sejarah setiap bangsa di dunia ini, Ia akhirnya merantau, keluar dari "relung sucinya" atau negaranya demi satu tujuan yang makro. Mungkin ini juga yang dilakukan oleh Azhari cs. dan Hambali cs, yang satu â€Ĺ“melanglang ke Indonesia”, satu lagi ke Thailand dan Malaysia.

Ada sebuah artikel menarik dalam salah satu situs dunia maya yang melihat perbandingan menarik antara Osama bin Laden dengan para pejuang-pejuang yang merantau dari negeri mereka sendiri. Belasan teroris yang menghantam Amerika pada 11 September, selain berpendidikan tinggi dan bermotif politik dan ideologis kuat, semuanya adalah perantau. Mereka pernah bermukim lama di negeri orang. Teroris atau bukan, para perantau cenderung membawa misi politik. Seringkali mereka membuat sejarah ketika mereka berkelana, atau berkelana untuk membuat sejarah. Tan Malaka, misalnya, yang diangkat anak oleh seorang pejabat Belanda dan disekolahkan di Haarlem, terbuai oleh Marxisme pada 1920an, giat di Eropa, lalu keliling Asia. Dia adalah orang Indonesia pertama yang menguak bab sejarah untuk negeri lain: di Filipina dia memperkenalkan Marxisme. Tujuannya satu: eksistensi politis Indonesia. Ada pula yang membawa ide-ide chauvenis, otoriter dan semi-fasis, seperti Soepomo dan Ki Hajar Dewantara sekembali dari Belanda pada 1920an, atau Sarloth Sar (Pol Pot) dan Khieu Samphan, dua mahasiswa Kamboja yang sepulang dari Perancis menjadi arsitek negara-teror Khmer Merah pada 1970-an. Sementara di belahan dunia lain, Che Guevara mengembara dari tanah airnya, Bolivia, untuk berevolusi di Kuba dan Afrika. Perantauan, meski ragam, punya daya, ilham, tekad, dan dinamika tersendiri. Osamah bermimpi mewujudkan cita-citanya melalui LSM Al-Qaeda, tapi tak pernah memberi batasan apa dan di mana cita-citanya itu ingin diwujudkannya. Orang tak tahu dia berjuang untuk apa, siapa, dan negeri apa. Jangankan dibanding dengan Tan Malaka, bahkan dengan Khomeini-pun, pola Osamah amat berbeda dan terbelakang. Khomein punya target yang spesifik (Iran), Osamah tidak.

Secara sosiologis, cinta terbesar adalah cinta terhadap agama dan ideologi yang sering dipersonifikasikan dengan konsep fanatisme. Kecintaan terhadap agama mengalahkan kecintaan terhadap yang lain karena agama memiliki daya tarik luar biasa dengan justifikasi normatif religiusnya. Ingat, Surat-Surat Cinta Dr. Azahari kepada istrinya dan penggalan Surat (wasiat) Imam Samudra dalam bentuk Puisi beberapa hari jelang kematian dan eksekusi? Secara umum terlihat bahwa keputusan yang diambilnya tersebut merupakan bentuk kebenciannya terhadap Amerika Serikat dan sekutunya dan kecintaannya terhadap (menurutnya) eksistensi agama Islam. Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh Ayip Firdaus dan Misno (pengakuan mereka secara lisan yang direkam dan kemudian ditayangkan di media massa Indonesia setelah CD-nya ditemukan oleh Densus 88 Anti Teror). Dalam rekaman "ucapan perpisahan" bagi keluarga mereka, baik Ayip maupun Misno seragam mengatakan bahwa tindakan mereka ini merupakan perwujudan dari kecintaan mereka terhadap agama Islam dan kemudian terselip ungkapan bersifat "investasi" yaitu "kesyahidan (menurut mereka) mereka adalah jalan bagi terbawanya 70 anggota keluarga mereka untuk masuk sorga".

Sosiolog Emille Durkheim mengatakan bahwa dalam kasus-kasus yang lebih altruistik, pelaku bunuh diri (baca: pengebom bunuh diri) menyimpulkan bahwa kehidupan mereka yang selamat lebih bernilai dibandingkan dengan kehidupannya sendiri atau bahkan kelangsungan hidup mereka bisa terjamin bila ada yang meninggal. Tipe seperti ini biasa terjadi dalam peran ketika seseorang mengobankan dirinya sendiri dengan harapan bahwa kawan-kawannya akan selamat. Banyak peristiwa-peristiwa tragis kepahlawanan yang pada akhirnya peristiwa itu memberikan inspirasi tentang kepahlawanan (terlepas dari salah atau benarnya). Prosesi "Minum Racun"nya Socrates karena keteguhan akan memegang prinsip justru memberikan inspirasi besar terhadap perjalanan filsafat pemikiran dunia setelahnya. Begitu juga dengan sang ana al haq al Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Mishio Torugawa, seorang petinggi militer Jepang pada masa Perang Dunia II, sebelum melakukan harakiri (bunuh diri bercirikan kultural a-la Jepang) mengatakan bahwa kematiannya merupakan "tumbal" untuk kejayaan Jepang pada masa yang akan datang. Demikian juga yang terlihat dalam peristiwa Puputan yang dilakukan oleh I Gusti Ngurah Rai di Bali dan kematian Robert Walter Monginsidi. Di Filiphina, hal ini bisa terlihat dari Jose Rizal. Kemudian juga terlihat dari apa yang diungkapkan oleh "Singa Padang Pasir" dari Libya Omar Mochtar sebelum menuju tiang gantungan yang dipersiapkan oleh penjajah Italia.

Standar kultural dan kepercayaan mungkin membawa seseorang untuk siap melepaskan hidupnya untuk menunjukkan keberanian atau menunjukkan dirinya berarti. Hasil dari tindakan ini adalah terjaminnya keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Mereka dapat hidup dengan kebanggaan dan harapan. Faktor budaya sangat memegang peranan yang signifikan dalam melahirkan anggapan ini. Bagi kultur masyarakat Jepang klasik dan Palestina hingga saat sekarang, jiwa altruisme dengan bentuk tindakan bom bunuh diri (dengan embel-embel demi negara dan agama tentunya) justru meninggalkan kebanggaan individual-komunal. Dari sudut pandang sosiologi, menurut Emille Durkheim, fenomena terorisme dan bom bunuh diri tersebut merupakan suatu fakta sosial dan bukanlah fenomena individual. Untuk mengantisipasinya, maka harus dicari penyebab yang juga merupakan fakta sosial. Dalam konteks ini, berbagai fenomena terorisme dan bom bunuh diri terjadi karena adanya pemahaman norma-norma religius yang destruktif, perilaku tidak adil dalam realitas sosial dan lain-lain yang bersifat diskriminasi struktural. Oleh karena itu, perlu para "pemegang otoritas" agama (Islam) untuk kembali memikirkan pola dakwah, pendidikan dan pendekatan terhadap transformasi ajaran Islam tersebut kepada ummat Islam itu sendiri. Pertanyaan logis yang mengedepan di benak kita harus dengan jujur untuk kita jawab yaitu: Mengapa ummat Islam memiliki potensi besar melakukan tindakan teror ? Mengapa para pelaku teroris di Indonesia tersebut adalah orang-orang yang dekat dengan pondok pesantren?

Kedepan kurikulum dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya ummat Islam Indonesia, harus menekankan pendekatan yang humanis, hubungan dengan Tuhan juga berkorelasi erat dengan hubungan dengan manusia serta penekanan terhadap ajaran bahwa manusia yang Islami dan disayang oleh Allah SWT. adalah manusia yang menjaga peradaban dan ciptaan Allah. Di samping itu, diskriminasi dan ketimpangan sosial harus sedikit demi sedikit diperbaiki. Keadilan harus ditegakkan, tanpa pandang bulu. Rasa persaudaraan antar ummat beragama perlu dikembangkan dan dianggap perlu, bukan dilestarikan. Bila dilihat secara historis, budaya kekerasan ada dalam setiap budaya di Indonesia yang kadang-kadang dijustifikasi oleh ajaran agama (Islam). Kasus Perang Aceh dengan Hikayat Perang Sabil yang termaktub dalam analisis antropologisnya (terdapat dalam buku yang diterbitkan INIS: Nasehat-Nasehat Snouck Hourgronje Jilid I - IX) Snouck Hourgronje memperkuat hal ini. Oleh karena itu, untuk ke depan, di samping menekankan pendekatan humanis terhadap ajaran Islam, kita juga harus menekankan jiwa humanis budaya-budaya di Indonesia. Karena bagaimanapun juga, seperti dalam setiap agama di dunia ini, setiap budaya lahir untuk menjaga dan mengembangkan peradaban ummat manusia.

Jumat, 12 Juni 2009

Kesadaran Geo-Historis

Oleh : Muhammad Ilham

Hampir 70 %, Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia belum diakui. Sehingga batas-batas teritorial yang berkaitan dengan (utmanya) laut, memiliki potensi besar dalam menciptakan konflik (Kompas, 3/3/2008). Ambalat hanya salah satu kasus yang muncul ke permukaan. Dari sejumlah masalah batas laut, penetapan yang paling cepat terwujud baru dengan Filipina. Selebihnya masalah yang dihadapi Indonesia begitu besar. Namun, tampaknya Indonesia tidak serius untuk menyelesaikan persoalan batas laut dengan negara tetangga. Itu terbukti dengan berlarut-larutnya penyelesaian masalah itu. Menurut Sobar Sutisna, Kepala Pusat Pemetaan Batas Wilayah Bakosurtanal, itu dikarenakan tidak ada pressure dari pihak terkait di pihak Indonesia.

Seandainya Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI tahun 1945 memutuskan wilayah negara Indonesia merdeka adalah pendapat Muhammad Yamin, bangsa ini akan lebih sulit menjaga kedaulatan teritorialnya daripada yang ada kini. Terobsesi oleh kejayaan Majapahit, tampaknya Yamin menginginkan wilayah negara Indonesia seluas wilayah kerajaan terbesar di Asia Tenggara, antara abad XIV sampai XV. Memang wilayah itu sampai ke Pattani, Thailand, dan Mindanao, Filipina. Jangankan yang seluas itu, dengan wilayah bekas Pax Nerlandica “saja” sudah begitu besar masalah perbatasan yang harus dihadapi. Ironisnya bangsa ini tidak menunjukkan kemauan kuat untuk mengatasinya. Mengapa demikian? Ditinjau dari aspek sejarah dan budaya, setidaknya ada tiga faktor.

Pertama, karena lemahnya, kalau tidak mau disebut “hilangnya” karakter dan orientasi kebaharian. Bagaimana sejarah bisa menjelaskan? Mungkin benar karena keunggulan VOC/Belanda setelah menghancurkan Gowa ditandai Perjanjian Bungaya (1669) mengakibatkan ketidakberdayaan nenek moyang bangsa ini di laut. Kedua, lemahnya kesadaran lingkungan geografis. Rendahnya kesadaran geografis bisa ditunjukkan minimnya pengetahuan mahasiswa tentang peta Indonesia. Pengetahuan geografi merupakan sarana awal memahami potensi dan daya dukung daerah terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Strategi pembangunan yang tepat dengan dukungan anggaran memadai untuk pengembangan provinsi berkarakter bahari (baca: kepulauan), khususnya di wilayah perbatasan, seharusnya menjadi prioritas utama. Ketiga, telah berjalan lama tidak terintegrasinya pembelajaran sejarah dan geografi dalam sistem pendidikan. Pembelajaran sejarah gagal menjelaskan keterkaitan antara dimensi “waktu” dan “ruang”. Suatu “peristiwa” (tidak hanya politik, tetapi juga sosial dan bencana) yang terjadi di suatu “tempat” tentu bukan suatu kebetulan. Di situlah kaitan kedua disiplin itu harus diberikan. Dengan ancaman terhadap kedaulatan teritorial, menjadi renungan bersama akan pentingnya kesadaran geohistoris.

Chairil Anwar : "Di Karet Sampai Juga Deru Angin"

Ditulis Ulang Oleh : Muhammad Ilham

"Si Binatang Jalang" Chairil Anwar adalah legenda sastra dan ilham terbaik bagi sebagian besar pecinta sastra. Namun siapa sangka, penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi? Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara. Arief Budiman memulainya dari kenangan Asrul Sani. "Di Jalan Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang sekarang jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak. Saya dan Chairil suka mencuri buku di situ," begitu Asrul Sani pernah bercerita. "Suatu kali kami melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. `Wah, itu buku mutlak harus dibaca,' kata Chairil pada saya. `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.' Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu." Buku-buku filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara buku-buku agama. Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna sampulnya yang hitam persis betul dengan kitab Injil. "Sementara Chairil mengantongi buku, saya memperhatikan pelayan toko," kata Asrul. "Hati saya deg-degan setengah mati. Setelah buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan tenang. Tapi sampai di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah ambil aku!' sambil tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya Chairil salah mengambil Injil. Kami kecewa sekali."

Chairil Anwar memang seorang "penggila" buku, yang dengan rakus melahap karya-karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi. Tapi dia adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah lakunya menjengkelkan. Alhasil, lengkaplah "ciri-ciri" seniman pada dirinya. Namun, dia juga contoh yang baik tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau lainnya, ia semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi. Nama Chairil mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun 1943. H.B. Jassin punya cerita. "Suatu hari di tahun 1943," tuturnya. "Chairil datang ke redaksi Pandji Pustaka; seorang muda kurus pucat tidak terurus kelihatannya. Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Pandji Pustaka. Tapi didapatnya keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat. Kata pemimpin majalah itu, `Susunan Dunia Baru' (sajak Chairil) tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu mem-Barat." Sejak itu sang penyair sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi. Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).

Bukan secara kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki nuansa individualistis yang kental. Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis. Semacam tertuntun pada sebuah kredo bahwa di dalam kesenian, berfilsafat menjadi keniscayaan yang menusuk. Terutama karena berkesenian mengharuskan sang seniman berhadapan dengan problem-problem tentang ketuhanan, kebebasan, dan apa saja. Salah Kaprah. Buat kita sekarang, sosok Chairil sudah lekat dengan citra kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisi dari penyair kita ini telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan masyarakat: "Aku ini binatang jalang", "Hidup hanya menunda kekalahan", "Aku mau hidup seribu tahun lagi", dan masih banyak lagi. Atau bertanyalah pada siswa SLTP dan SLTA siapa penyair kondang Indonesia, niscaya mereka akan menyebut namanya, lengkap dengan beberapa judul syairnya. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, ada yang salah dalam persepsi kita mengenai tokoh yang satu ini. Ada yang salah kaprah. Sebagai ilustrasi, sajak "Aku" lebih sering dipahami banyak orang sebagai sajak pemberontakan terhadap penjajahan. Padahal tidak. Kata Asrul Sani, sajak itu sebenarnya tidak lebih dari "teriakan putus asa dan rasa getir", termasuk penolakan terhadap sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu ayahnya.

Sajak "Diponegoro" juga sering dikira sajak perjuangan. Padahal, seperti pernah diulas Arief Budiman, sajak itu adalah cerminan dari ekspresi kekaguman Chairil pada semangat hidup Pangeran Diponegoro, di saat jiwanya amat diresahkan dengan kematian dan absurditas. Ia menulis puisi pertamanya, "Nisan", pada Oktober 1942, ketika ia berusia 20 tahun, ketika teknik persajakan belum dikuasainya benar. Para pengamat sastra menganggap sajak ini sebagai sajak tertuanya. Padahal, menurut H.B. Jassin, sebelum "Nisan" Chairil sudah lebih dulu membuat sajak-sajak corak Pujangga Baru, tapi karena tidak memuaskannya lalu dia buang. /Bukan kematian benar menusuk kalbu/Keridhaanmu menerima segala tiba/Tak kutahu setinggi itu di atas debu/Dan duka maha tuan tak bertahta.

Sajak "Nisan" ini, yang didedikasikan untuk neneknya yang baru meninggal, merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun. Renungannya ini lalu menghantarkan ia pada pertanyan eksistensial: "Bila manusia mati, lantas apa gunanya segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?" Pertanyaan filosofis itu terus mengejarnya, sementara kehidupan sendiri tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan. Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd dengan gagah berani, tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai perwujudan yang konkret dari kegairahannya mempertahankan hidup. Inilah agaknya yang lalu mengilhaminya menulis sajak "Diponegoro", pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens. Di samping teknik persajakan telah dikuasainya benar sehingga sajak-sajaknya terasa jernih, penghayatannya terhadap kehidupan (dan kematian) yang menjadi subjek puisi-puisinya juga telah mencapai klimaks kematangan sebagai seorang penyair.

Sajak pertama yang ditulis Chairil pada 1949 (tahun kematiannya) adalah "Chairil Muda, Mirat Muda", dengan tambahan judul kecil "Di Pegunungan 1943". Sajak ini merupakan kenangan Chairil terhadap saat-saat yang paling membahagiakan dalam hidupnya--sebuah perasaan yang wajar timbul pada orang-orang yang menyongsong kematian. Di akhir sajak tersebut ia sempat menulis kata mati. Namun berbeda dengan sajak-sajaknya yang ditulis pada 1942, di mana kematian dipersoalkan dengan keterlibatan dan perhatian yang penuh, di sajak ini kematian diucapkannya dengan cara yang ringan saja. Agaknya kematian bukan lagi sesuatu yang menjadi objek obsesinya, melainkan sebagai kenyataan yang sederhana, sama sederhananya dengan udara di muka bumi. Dalam sajaknya "Yang Terampas dan yang Putus", juga ditulis pada 1949, Chairil malah secara jelas menulis kesiapannya untuk menghadapi kematian. Ia tiba-tiba menyadari bahwa impuls-impuls kehidupan tidak pernah sepenuhnya diam. Demikian pula dalam sajak "Derai-Derai Cemara", yang ia tulis sesudahnya. Dalam sajak yang ia tulis setelah percakapan yang panjang dengan dua sahabatnya, Rivai Apin dan Asrul Sani, Chairil kembali menegaskan bahwa kehidupan adalah sebingkai misteri yang tidak bisa kita temui artinya, tapi pada saat yang sama kita memiliki impuls untuk mempertahankannya. Kita hidup, menurut Chairil, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya. Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari maknanya. Namun misteri tetaplah sebuah misteri, ia tidak pernah akan bisa terpecahkan. Karenanya mencari makna kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia, meski harus terus dilakukan. Maka bagi Chairil, "hidup hanya menunda kekalahan/ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah".

Chairil memiliki simpati yang sangat besar terhadap upaya meraih kemerdekaan manusia, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan. Pada 1948, sebagai bukti perhatiannya pada situasi sosial-politik waktu itu, ia menulis sajak "Krawang-Bekasi", yang disadurnya dari sajak "The Young Dead Soldiers", karya Archibald MacLeish. /Kenang, kenanglah kami/Teruskan, jiwa kami/Menjaga Bung Karno/menjaga Bung Hatta/menjaga Bung Syahrir. Pada tahun yang sama, ia menulis sajak "Persetujuan dengan Bung Karno", yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

Belakangan, sajak Chairil yang berjudul "Aku" dan "Diponegoro" juga banyak dipahami orang sebagai sajak perjuangan. Padahal, sajak-sajak ini adalah jenis sajak individu, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perjuangan kemerdekaan karena ditulis pada 1943. Namun dalam sajak "Aku" misalnya, di mana Chairil mengintroduksi dirinya sebagai "Aku binatang jalang", ia bisa menjelmakan kata hati rakyat Indonesia yang ingin bebas. Dalam analisis Agus R. Sardjono, penyair terkemuka Bandung, sajak-sajak seperti "Krawang-Bekasi", "Persetujuan dengan Bung Karno", "Aku", dan "Diponegoro" inilah yang justru di kemudian hari membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.Hal itu dimungkinkan karena sajak-sajak ini bersifat sastra mimbar, untuk menyebut jenis sajak-sajak yang bersifat sosiologis (yang berpretensi untuk menjawab atau menanggapi fakta-fakta sosial), dan biasanya dibaca dengan suara keras atau menyeru-nyeru, serta dengan tangan terkepal.Masih menurut Agus, nama Chairil mungkin tidak akan begitu populer seperti sekarang bila dia hanya menciptakan sajak yang berjenis sastra kamar, sajak-sajak yang kontemplatif dan personal. Betapapun tingginya mutu sajak "Derai-Derai Cemara", "Senja di Pelabuhan Kecil", atau "Yang terampas dan yang Putus" secara kesusastraan, namun sajak-sajak demikian sama sekali tidak memiliki peluang untuk diapresiasi secara massal. Namun, dengan segala ketidaksempurnaannya, keberhasilan terbesar Chairil bagi dunia persajakan Indonesia khususnya, dan bahasa Indonesia pada umumnya, adalah kepeloporannya untuk membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama (ejaan van Ophusyen) yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan-kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.Kebebasan bahasa itu teramat penting. Terbukti Malasyia, negara yang menggunakan bahasa Melayu, yang serumpun dengan bahasa Indonesia (tapi tidak pernah memiliki penyair sekaliber Chairil) dalam hal bahasa jauh tertinggal dari bangsa kita. Kebebasan bahasa itu adalah prestasi besar bangsa Indonesia. Dengan itu kita dapat mengutarakan apa saja langsung dari lubuk hati kita. Dan, seperti diamini banyak sastrawan kita, berkah itu adalah warisan Chairil Anwar, penyair terbesar yang pernah kita miliki.

Chairil Anwar tampaknya memang ditakdirkan untuk menjadi penyair yang disalahpahami. Tapi ia terbilang beruntung karena ia disalahpahami ke arah yang positif. Begitupun dalam hal religiusitas. Tidak sedikit orang yang menjulukinya penyair religius. Ini, antara lain, gara-gara sajak "Doa", yang memang amat religius. Tak jarang, dalam peringatan hari-hari besar agama Islam (juga Kristen), sajak tersebut dibaca dan memperoleh apresiasi yang luas. Benarkah ia penyair religius? Menurut penuturan Ida Rosihan Anwar (istri wartawan kawakan Rosihan Anwar yang sangat dekat dengan Chairil) dalam kesehariannya Chairil tidak pernah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama. Ia tidak pernah tampak salat, berpuasa di bulan Ramadan, atau bahkan ikut bergembira pada Idul Fitri. Jadi, ia bukan muslim yang baik. Namun, kalau kita mengacu pada kriteria filosof Paul Tillich tentang siapa yang disebut religius, (yaitu mereka yang secara serius mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh dari batas-batas yang lahiriah saja), Chairil termasuk kelompok ini.

Konklusi ini semata-mata bersandar pada penyerahan total Chairil untuk menjawab pertanyaan "apa tujuan hidup saya", dalam sepanjang masa hidupnya. Dan karena agama bagi banyak orang di dunia ini dianggap sebagai jawaban pertanyaan "apa tujuan hidup saya?", Chairil tidak luput membicarakan agama dalam beberapa sajaknya. Sajak "Di Masjid", yang ditulisnya pada 29 Mei 1943, adalah sajak pertama mengenai hal ini. Dalam sajaknya ini ia menegaskan sikapnya yang tidak mau terikat apa pun juga, serta bersedia menerima segala bentuk penderitaan sebagai akibat pilihannya. Dia menolak untuk menyerah kepada agama, meskipun dia mengakui juga, agama mempunyai daya tarik yang sangat kuat sehingga sulit untuk melawannya: "Kuseru saja Dia/sehingga datang juga/Kamipun bermuka-muka/seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada/Segala daya memadamkannya/Ini ruang/gelanggang kami berperang/Binasa membinasa/satu menista lain gila". Sajaknya yang kedua tentang agama ditulis lima bulan kemudian, berjudul "Isa". Dalam sajak ini, selain terpesona, Chairil juga tersindir dengan pengorbanan dan penderitaan yang dialami Nabi Isa untuk menyelamatkan umat manusia. Ia merasa "minder" lantaran sikap hidupnya yang hanya memikirkan kemerdekaan diri sendiri, dan tidak peduli pada orang lain. Ia seperti dihadapkan pada pertanyaan, "Apakah sebuah pengorbanan ada artinya?" Pertanyaan itu terus mengganggu hingga keesokan harinya dia menyerah dan menulis sajak "Doa" sebagai ekspresi penyerahdiriannya kepada Tuhan. Ia berseru: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/caya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di malam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.

Dalam sajak ini Chairil memang tidak menjelaskan apa alasan ia "menyerah", namun yang pasti ia merasa hilang bentuk dan remuk ketika dia berjalan tanpa Tuhan. Apakah dengan sajak ini Chairil telah "menemukan kembali" Tuhan? Jawaban sementara: "ya". Agaknya bila Chairil tiba pada suatu titik kehidupan di mana dia mengambil suatu sikap secara lebih utuh, maka perasaan tenang datang meneduhinya. Pada Februari 1947, dalam suasana yang sudah berbeda, Chairil kembali menulis sajak tentang agama, yang berjudul "Sorga". Di sini, dengan semangat eksistensialismenya yang kental, ia menggugat surga beserta gambarannya yang dijanjikan agama. Selanjutnya Chairil lebih memilih menolak agama karena agama memintanya untuk mengorbankan apa yang nyata sekarang, untuk digantikan sesuatu pada masa datang yang baginya belum pasti. Maka bisa dipastikan, sesudah sikapnya ini Chairil kembali menemukan dirinya kesepian. Namun, perasaan itu tampaknya sudah dia harapkan dan dia hadapi dengan tenang. Ia kembali memilih menjadi pengembara selama hidupnya.Meskipun, konon menurut kesaksian H.B. Jassin, menjelang mengembuskan nafasnya yang terakhir, Chairil ternyata tetap tidak lupa menyebut nama Tuhan.Di sela-sela panas badannya yang tinggi sebelum kematiannya, ia mengucap, Tuhanku, Tuhanku....

Teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah. "Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam." Chairil dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922. Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir (tokoh PSI). Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut. Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah. Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginannya: mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela. Bahkan kalau perlu ikut berkelahi. Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya. Di kalangan gadis-gadis, Chairil juga disukai karena wajahnya yang tampan dan menyerupai orang indo.

Demikianlah, semua orang seolah memanjakannya. Keuangannya tidak pernah kurang. Sepedanya termasuk golongan yang paling baik, di zaman ketika mempunyai sepeda saja merupakan suatu kebanggaan. Dan ada sisi baik yang bisa dicatat dari gaya pergaulan Chairil, yaitu sikapnya tidak pernah sombong. Meskipun dia angkuh dan selalu merasa hebat, dia selalu mudah sekali berkenalan dengan siapa saja, tanpa pernah membedakan status sosial, status ekonomi, dan intelektualitas. Masa kanak-kanak hingga masa remaja Chairil dihabiskan di Medan. Di HIS (setingkat SD) saja ia sudah menampakkan bakatnya sebagai siswa yang cerdas dan berbakat menulis. Lalu ia melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setingkat SMP).

Ketika usia Chairil menginjak 19 tahun, dan duduk di kelas dua, ayahnya kawin lagi dan bercerai dengan ibunya. Karena mulai membenci ayahnya dan menginginkan kehidupan yang lain, ia memilih hijrah ke Batavia (Jakarta), dan meneruskan pendidikannya di sana. Tak lama kemudian ibunya menyusul ke Jakarta. Perang Dunia II dan masuknya Jepang telah membuat keadaan jadi tidak menentu. Chairil pun terbelit masalah keuangan setelah tidak mendapat kiriman dari ayahnya. Akhirnya ia putus sekolah. Saat putus sekolah itu Chairil mengisi hidupnya dengan menggelandang ke sana-ke mari, dan membaca buku sebanyak-banyaknya. Sebagai orang yang menguasai tiga bahasa (Inggris, Belanda, dan Jerman), ia tidak mendapat halangan apa pun untuk bisa membaca dan memahami semua karya sastra asing yang ia jumpai. Penguasaan bahasa asing yang baik inilah yang banyak menolong Chairil sehingga banyak buku yang belum dibaca seniman lain, ia sudah tahu isinya. Ia pun banyak menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia itu ke bahasa Indonesia dengan baik. Masih soal membaca, menurut Sjamsulridwan, ketika masih di MULO, Chairil telah bergaul dengan anak-anak HBS (setingkat SMA) tanpa rendah diri. "Semua buku mereka aku baca," kata Chairil suatu hari. Di sini yang dimaksud Chairil adalah buku-buku mengenai pelajaran abstrak, seperti sastra, sejarah, ekonomi, dan lain-lain. Dan ucapan itu semata-mata untuk menunjukkan bahwa ia tidak pernah kurang dari mereka (anak-anak HBS).

Selama di Jakarta, Chairil juga mengembangkan pengetahuannya dengan meminjam buku dari pamannya, Sutan Sjahrir. Menurut H.B. Jassin, kalu sudah membaca buku, maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi. Meskipun menganut pola kehidupan yang bohemian, Chairil akhirnya sempat juga berkeluarga. Ia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Sayangnya rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Akhir 1948 mereka bercerai, dan putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah. Tanggal 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil mengembuskan nafas terakhir. Ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil, berbentuk kotak warna hitam, bermerek Philips. Dan seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: "di karet, di karet sampai juga/deru angin", Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.

Kamis, 04 Juni 2009

Akar Sosiologis Radikalisme Islam Asia Tenggara

Oleh : Muhammad Ilham & A.T. Hidayat

Asia Tenggara boleh dikatakan menjadi ladang eksploitasi bagi dunia (baca:Barat), terutama memasuki abad 15 sampai dengan paroh abad 20, bangsa-bangsa Eropha memperkaya diri mereka dengan menjajah Negara-negara di Asia Tenggara ini. Setidaknya ini yang dapat ditangkap dari karya-karya sejarah tentang Asia Tenggara pada abad-abad itu. Dengan kolonialisme, bangsa-bangsa Eropa membagun ekonomi dan peradaban mereka. Untuk sementara, ini dapat sekedar menggambarkan bahwa Asia Tenggara untuk beberapa fase pernah menjadi suku bangsa tertindas. Sedangkan Islam sudah bercokol di kawasan ini semenjak abad VII dan VIII. Khusus Muslim Arab, Persia dan India diperkirakan telah bercokol di Indonesia dan Malaysia, tepatnya di sepanjang Selat Melaka. Dari sini muncul kontak perdagangan dengan masyarakat Asia Tenggara lainnya. Sedangkan dalam skala global, Asia Tenggara ketika itu menjadi trade centre yang mempertemukan kekuatan di wilayah Asia Timur, Tenggara dan Asia Barat. Dari Asia Barat kekhalifahan Daulat Bani Umayyah (660-749), kerajaan Sriwijaya (sekitar abad ke-7 sampai 14) di Asia Tenggara dan Dinasti T’ang (618-907) di Asia Timur.

Ketiga dinasti ini dapat dianggap kekuatan-kekuatan yang memainkan peranan penting bagi terciptanya komunitas apa yang disebut Asia Tenggara belakangan. Jadi sebelum era kolonial, kawasan ini sudah dipengaruhi berbagai agama dan keyakinan. Sebelum akhirnya Islam berhasil mendominasi kawasan selat Malaka dan sebagian kepulauan di wilayah barat nusantara, yang menurut Uka Tjandra sudah mulai berproses semenjak abad ke-7 sampai dengan puncaknya abad ke-13, serta didukung oleh melemahnya kerajaan Sriwijaya abad ke-13, telah terdapat titik konflik antara berbagai keyakinan, disamping berbagai kepentingan, terutama politik dan ekonomi yang menentukan sekali bagi perkembangan kawasan ini untuk masa-masa selanjutnya. Kondisi seperti itu, dimana keberagaman dan keterbukaan sama-sama berpeluang di kawasan ini, adalah karakter yang paling menonjol dari kawasan ini. Tidak satupun dari negara-negara di Asia Tenggara yang memiliki kultur tunggal. Setiap negara dibangun berdasarkan pertukaran budaya secara eksternal maupun internal. Di samping itu, struktur dan kondisi alam yang juga relatif berbeda dari wilayah-wilayah lain di dunia, ikut membentuk karakter masyarakat kawasan ini. Sampai tahun 1700 pergumulan cultural, ideologis di kawasan ini menjadi sebuah dialog yang intens disertai berbagai dorongan dan motivasi yang berkaitan dengan ekonomi dan politik. Akan tetapi kondisi ini dengan sendirinya membuat pemisahan yang jelas antara wilayah Islam di Selatan, konghucu di Vietnam, dan Krsiten di Filiphina dengan ortodoksi politik masing-masing. Kolonialisme, seperti yang kita singgung di muka, memiliki peranan sangat strategsi juga untuk perkembangan wilayah ini. Di samping eksploitasi kekayaan alam dan penjajahan dalam bentuk fisik, kolonialisme juga membawa serta westernisasi, kapitalisme, modernisasi dan khsusnya kristenisasi. Pemisahan yang terjadi diatas, lebih dipertegas oleh kolonialisme dengan atribut-atribut tambahannya ini. Di samping itu rasionalisme dalam pengalaman Barat Eropha, juga memperkaya “keberagaman” Asia Tenggara. Karena pada perkembangannya nanti rasionalisme Eropha Vis-Ă -vis “tradisionalisme” yang berakar dari kultur dan tradisi setempat akan mewarnai perkembangan wilayah ini hingga hari ini. Untuk beberapa dekade lamanya, cap tradisional juga digambarkan sebagai mencirikan sebagian komunitas muslim, dihadapkan dengan modernisme-rasionalisme yang mengusung konsep pembangunan.

Memasuki era modern ini, yang merupakan kelanjutan dari masa-masa sebelumnya, pada saat dimana Asia Tenggara telah terbentuk menjadi Negara-negara yang berdaulat, banyak dampak yang diakibatkan dari kondisi praktis masyarakat muslim seperti tergambar diatas. Diantara dampak tersebut yang juga merupakan problematika historis yang sangat menentukan perkembangan masyarakat muslim Asia tenggara secara umum, dan kemunculan politik pergerakan masyarakat muslim yang radikal khususnya adalah : Munculnya nasionalisme yang kontraproduktif dengan kondisi praktis masyarakat Muslim, terutama dimana masyarakat Muslim merupakan minoritas seperti di Philipina, Thailand, Singapura dan Vietnam. Kemudian, di dalam sikap Nasionalisme, muncul pula tuntutan atas otonomi yang luas dalam kehidupan beragama, dalam bentuk yang lebih konkret tuntutan tersebut berupa penerapan syari’at Islam. Bagi sebagian kalangan yang berfaham radikal. Selanjutnya, tuntutan merdeka penuh, dimana komunitas Muslim diwilayah tersebut merupakan mayoritas. Ini adalah klimaks dari ketidakpuasan komunitas muslim radikal dari berbagai Negara di Asia Tenggara. Cara yang ditempuh untuk mewujudkan ini adalah dengan melakukan pergerakan yang terorganisir secara militer. Yang mungkin akan difokuskan dalam makalah ini adalah gerakan DII/TII-NII Kartosuwiryo di Indonesia, dan MNLF di Philipina. Muslim di Indonesia dapat dianggap mewakili masyarakat muslim mayoritas di Asia Tenggara, yang memiliki problem dengan benturan ideology dan politik sehingga memunculkan politik pergerakan untuk memperjuangkan berdirinya Negara Islam. Sedangkan MNLF mewakili masyarakat muslim minoritas. Namun tidak menutup kemungkinan bila dalam makalah ini disinggung juga beberapa profil politik pergerakan lain di luar dua pergerakan diatas.

Hal yang paling banyak disebut sebagai penyebab kemunculan politik pergerakan Islam radikal di Indonesia adalah persoalan ideology. Tetapi persoalan ini tidak dapat digeneralisir sebagai factor satu-satunya. Pada level institusi politik, politik pergerakan muslim sudah ada seiring dengan lahirnya republic ini. sedangkan pada level pemahaman keagamaan, sudah ada jauh sebelum itu. Profil Kartosuwiryo adalah penegasan paling jelas tentang masalah ini. Jika ditarik lebih ke belakang, benih pemikirannya sudah lama mengakar. DI (Darul Islam) merupakan bentuk konkret dari ide-ide yang ditelorkannya jauh sebelum gerakan ini didirikan.
Sekalipun ia pendiri DI, namun bukan berarti Kartosuwiryo berbasis pendidikan pesantren, madrasah dan jalur-jalur pendidikan keagamaan formal maupun informal. Sikap militant yang diperolehnya tidak melalui pembelajaran agama yang ketat. Hal ini bertolak belakang dengan dugaan AS (Amerika Serikat) bahwa pembentukan karakter kelompok teroris di Indonesia dihasilkan oleh system pendidikan pesantren tertentu yang menerapkan standar yang ketat dalam memahami ajaran Islam. Kartosuwiryo memperoleh pengetahuan agama di Bojonegoro dengan gurunya Notodihardjo. Hanya dengan beliau ia memperoleh pelajaran agama. Deliar Noer menyebutnya sebagai sosok yang cendrung kepada mistik.

Benturan ideology antara kelompok Nasionalis Islam dengan kelompok Nasionalis yang netral agama pada masa-masa pergerakan kemerdekaan mempertegas garis perjuangan politik pergerakan muslim di bawah bendera partai-partai Islam semacam PSII, Masyumi. Berbeda dengan partai Islam yang memiliki trend kritis, tegas dan banyak bermain di tataran pemikiran, kelompok ekstrim Islam ini cendrung kurang puas dengan kondisi praktis seperti itu. Kartosuwiryo sebagai tokoh yang “terasing” ketika itu mengajak kepada seluruh kelompok Islam, dari barisan PSII, Masyumi dan tokoh-tokoh Islam untuk menerapkan apa yang dia sebut politik hijrah. Ia menyeru agar umat Islam bersatu dan merapatkan barisan. Hanya dengan begitu tercipta dunia baru Islam “Darul Islam”.
Lebih tegas ia menulis: “Kalau kita Hidjrah dari Mekkah-Indonesia ke Medinah-Indonesia, boekanlah sekali-kali kita haroes berpindah kampoeng dan negeri beralih dari daerah dan wilajah, melainkan hanjalah di dalam sifat, thabi’at, amal, itiqad, dan lain-lain sebagainja.” Yang ia sindir dengan pernyataan tersebut adalah telah beralihnya tujuan dan cita-cita umat Islam dalam mencapai kemerdekaan. Menurutnya, sebagaimana dialog yang lazim ketika itu antara golongan nasionalis Islam dan nasionalis netral agama, bahwa tujuan utama bukanlah mengabdi kepada ibu pertiwi, namun hanya berbakti kepada Allah semata, bukan untuk Indonesia raya, tetapi Darul Islam yang sempurna. Dapat dikatakan, factor ketidakpuasan lebih belakangan muncul dalam gerakan DI dan khususnya Kartosuwiryo sendiri, ketimbang factor pemahaman keagamaan. Di sini kelihatan sekali keteguhan Kartosuwiryo mempertahankan idealisme ke-“islaman”-nya menentang arus trend yang berkembang ketika itu. Perselisihannya dengan tokoh-tokoh besar ketika itu, Agus Salim, Soekarno nampaknya tanpa basa-basi, yang membuat ia terasing. Di luar lapangan ideology dan cita-cita mendirikan Negara Islam tersebut, politik pergerakan Islam DI / Kartosuwiryo menemukan alasan lain untuk bergerilya dalam rangka mencapai cita-citanya. Alasan tersebut adalah karena TNI ternyata tidak berpihak kepada Islam, padahal komponen-komponen pejuang pergerakan kemerdekaan mayoritas adalah kelompok Islam, seperti Hizbullah, Peta (Pembela Tanah Air) yang mayoritasnya berasal dari Muhammadiyyah, termasuk di dalamnya Panglima Besar Soedirman, dan laskar-laskar Islam lainnya. Mengenai ketidak adilan ini semakin terasa semenjak tahun 1947 setelah TKR (Tentara Keselamatan Rakyat) berubah nama menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia), yang dipimpin oleh Panglima Besar Soedirman yang berasal dari PETA. Sedangkan wakilnya adalah Urip Sumoharjo seorang Kristen mantan tentara KNIL (tentara Belanda). Sejak saat itu terjadi ketidak adilan, dimana minoritas menguasai mayoritas. Menyusul Urip yang mantan KNIL, masuk Gatot Soebroto yang beragama Budha, Soeharto (Kejawen) dan A.H. Nasution (nasionalis sekuler). Pejuang-pejuang sejati Hisbullah yang merupakan unsur mayoritas digusur oleh mantan-mantan tentara KNIL tersebut.

Dari sini dapat dipahami mengapa Kartosuwiryo lebih memilih memberontak dengan pasukannya TII ketika disuruh harus mengosongkan Jawa Barat, dan harus hijrah ke Jogjakarta sesuai dengan perjanjian Renville tahun 1948, yang mengharuskan Indonesia mengosongkan daerah inclave. Ketika itu Kartosuwiryo adalah panglima Hisbullah divisi Jawa Barat. Disinilah ironisnya, ia harus menghadapi tentara Belanda, di samping juga tentara KNIL yang telah bergabung dengan TNI. Untuk tujuan ini ia justru dicap pemberontak oleh Soekarno, yang mengakibatkan hukuman mati baginya pada tahun 1962. padahal keberadaaan mereka mempertahankan Jawa Barat ketika itu adalah juga persetujuan Jendral Soedirman. Ini disampaikan langsung oleh Jendral Soedirman kepada wartawan ANTARA ketika menyambut kedatangan pasukan Siliwangi di Jogjakarta. Ketika terjadi reorganisasi di tubuh TRI pada tahun 1950 dan membentuk divisi-divisi (tentara teritorium) cikal bakal kodam sekarang. Pada waktu itu PKI banyak menguasai divisi-divisi tersebut. kekuatan Islam semakin tergusur, sehingga banyak menimbulkan pemberontakan. Di Sulawesi “pemberontakkan” dipimpin oleh Kahar Muzakkar yang tergusur oleh Gatot Subroto. Akan tetapi dari kesemua gerakan Darul Islam yang muncul di pelbagai daerah di Indonesia, gerakan Kartosuwiryolah yang mengancam langsung pemerintahan pusat, karena sejak semula NII yang ia rancang memang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Melihat penjelasan diatas dapat diketengahkan di sini bahwa politik pergerakan muslim DI/TII khsusnya muncul sebagai akibat fanatisme yang kuat sekali terhadap keyakinan. Gelombang ketidakpuasan politik pergerakan muslim di Indonesia agak lebih sukar difahami karena banyaknya permasalahan yang muncul sebagai akibat dari ketidakadilan politik. Respon Islam radikal yang menampilkan sosok seperti Kartosuwiryo terhadap perubahan dan ketidak adilan tersebut hanya dalam bentuk memperjuangkan berdirinya pemerintah Islam.

Pergerakan yang terbuka seperti di Indonesia dalam gambaran di atas tidak begitu tampak di Malaysia. Politik pergerakan radikal dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Agaknya gelombang ketidakpuasan sebagai akibat dari ketidak adilan yang dirasakan komunitas muslim tidak sebesar apa yang dirasakan masyarakat muslim di Indonesia. Ini juga berkaitan dengan kemakmuran suku ras Melayu yang mendapat perhatian dari pemerintah Malaysia dengan politik ekonomi yang berpihak kepada mereka. Hal itu ditunjang dengan pengakuan bahwa Islam adalah agama Negara. Sebuah pengakuan yang jujur, berangkat dari pengalaman sejarah masa lalu Negara ini. Bagi kelompok radikal, pengakuan ini sangat cukup bagi terealisasinya konsepsi perjuangan mereka. Tetapi pengakuan dan kemakmuran ini bukan berarti tanpa rintangan. Ini adalah hasil kompromi politik internal Malaysia, setelah sekian lama menelan pahitnya pengalaman mendirikan sebuah Negara.

Baik pemerintah maupun masyarakat muslim secara keseluruhan telah sejak lama berupaya untuk menjalin kepercayaan antara kedua belah fihak. Penyaluran aspirasi kelompok Islam militant lebih terarah dan fokus kepada politik praktis, sekalipun kebijakan politiknya cendrung militant. PAS misalnya kurang mendapat apresiasi mengingat front nasionalis yang diwakili oleh UMNO ternyata juga menaruh perhatian besar kepada masyarakat muslim yang mereka sebut Melayu. Keberpihakan ini juga tercermin dalam bidang pendidikan keagamaan. pendidikan agama dijamin dan diurus dengan baik dan serius oleh pemerintah Malaysia, sekalipun baru pada tahun 1972 Malaysia memiliki lembaga khusus dalam kementrian Pendidikan yang fokus pada pendidikan agama. Sejak tahun 1956 pelajaran agama wajib diajarkan di sekolah nasional selama 2 jam. Politik yang akomodatif ini setidaknya mampu meredam rasa ketidakpuasan di kalangan muslim Malaysia, sehingga tidak cukup alasan untuk melakukan upaya-upaya radikal lagi. Toh keinginan esensial dari perjuangan itu sudah relative tercover dalam kebijaksanaan pemerintah, sekalipun dibawah penguasa nasionalis. Karena itu, PAS sendiri sebagai perwakilan komunitas politik Islam, bukanlah sarana penyaluran aspirasi radikal mereka, sekalipun kalangan ini memilih partai tersebut dalam berbagai pemilihan umum.

Kemunculan politik pergerakan radikal di dalam Negara yang penduduk muslimnya minoritas lebih mudah dipahami dari pada kemunculannya di Negara yang berpenduduk muslim mayoritas. Penyebab yang dominant sangat jelas, ke-tidakadilan. Di Filiphina, rasa kurang puas terhadap ketidakadilan di kalangan muslim minoritas ini pertama kali muncul pada tahun tanggal 18 Maret 1935, berupa deklarasi yang ditujukan kepada Amerika Serikat. Deklarasi itu berisi tuntutan Ummat Islam untuk berdiri sendiri. Selama ini kalangan Kristen—khususnya Katolitk—selalu memonopoli kepemimpinan dan memajukan kota-kota besar, tanpa memberikan kesempatan kepada Ummat Islam. Tidak ada lowongan terbuka untuk Ummat Islam. Pajak dipungut hanya untuk kepentingan pulau-pulau di wilayah utara, sehingga memperlebar kesenjangan, penguasa Katolik makin maju, sementara Ummat Islam semakin mundur. Namun deklarasi tersebut tidak menghasilkan apa-apa, dan pemerintah Republik Filipina tetap berdiri. Baru tahun 1968, tepatnya tanggal 1 Mei meledak sebuah maklumat politik dari tokoh-tokoh Muslim di Filipina. Maklumat tersebut kira-kira berbunyi: “Dengan nama Allah SWT, umat Islam yang mendiami pulau Mindanao, Sulu dan Palawan menyatakan tekadnya untuk memisahkan diri dari Republik Filipina dan mendirikan sebuah Negara Islam, yang dapat menampung idealisme dan aspirasi umat, yang dapat memelihara dan mengembangkan warisan agama-nya di bawah naungan persaudaraan Islam yang universal, dibawah pemerintahan yang berdasar hukum, keadilan dan demokrasi…negara Islam ini meliputi daerah Filipina bagian Selatan yang penduduknya Ummat Islam yakni: Cotabato, Davao, Zamboanga, Basilan, Lanao Sulu, Palawan dan daerah serta pulau-pulau di sekitarnya yang ditempati atau di bawah pengaruh Umat Islam.”

Ketidak adilan yang dirasakan komunitas Muslim Filipina Selatan juga sebagai akibat dari keinginan penguasa colonial—dari Spanyol sampai Amerika—yang hendak menghapus hukum Islam dan system hukum adat. Keberpihakan colonial ini tentunya tidak terlepas dari misi Kristen yang mereka bawa. Sampai kepada masa-masa pemerintahan republic di bawah penguasa Kristen, diskriminasi terhadap komunitas Muslim terjadi di seluruh lapangan kehidupan. Di samping yang disebut diatas, Dr. M. Kamal Hassan menyebut ketimpangan pendidikan yang serius antara penduduk Muslim dengan penduduk Katolik.
Keadaan ini benar-benar mengusik rasa nasionalisme masyarakat Muslim Philipina Selatan. Pada waktu penjajahan, mereka dikenal pantang menyerah dengan bangsa colonial. Tetapi setelah kemerdekaan mereka justru dianaktirikan dan dianggap pemberontak, sama seperti aggapan bangsa colonial terhadap mereka. Di bawah pemerintahan republic mereka menjadi bulan-bulanan penguasa sepanjang masa Macapagal, Marcos dan Benigno. Sebenarnya sudah lama dirasakan bahwa jalur dialog tidak mungkin ditempuh, sehingga terbentuklah MNLF. Melalui organisasi ini, dikemaslah pergerakan bawah tanah radikal tidak saja untuk memperjuangkan aspirasi umat Islam, tetapi lebih jauh untuk mempertahankan eksistensi mereka dalam bentuk tuntutan untuk merdeka dari republic Filipina.

Gelombang ketidakpuasan minoritas Muslim juga terjadi diberbagai Negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. Umat Islam Thailand misalnya, mengisi 10 % total penduduk secara keseluruhan, juga mengalami diskriminasi politik dan sosial. Sama dengan Burma, Negara Thailand berpenduduk mayoritas Budha. Sedangkan untuk kawasan Vietnam dan Kamboja relative sangat sedikit, di bawah prosentase ke dua Negara Thailand dan Burma. Untuk Negara-negara ini, isyu yang mereka perjuangkan relative sama, yakni kedudukan mereka yang minoritas menjadi factor keterbelakangan, karena itu harus diperjuangkan. Pada era sekarang, eksistensi mereka, seperti di Thailand misalnya, sangat tergantung dari ketahanan mereka menerima perubahan. Dikarenakan dilema keterbelakangan yang diwariskan oleh pemerintahan mereka, umat Islam di Negara-negara tersebut agak keberatan dengan gelombang pembaharuan dalam berbagai aspek kehidupan. Sehingga diskursus mengenai agama dan perubahan dianggap barang tabu di tengah komunitas tersebut. Artinya, seandainya perubahan melanda mereka, maka tolak ukurnya mesti apakah perubahan itu menganggu tatanan keagamaan atau tidak. Di Thailand hambatan seperti diatas lebih dominant dibanding ancaman militer dan pemerintah Kristen seperti yang terjadi di Filiphina. Sampai tahun 1960-an, pemerintah Thailand berusaha keras untuk memaksa masyarakat minoritas Thailand agar menerima perubahan, termasuk dalam pendidikan modern. Bagi komunitas Muslim Thailand, sikap pemerintah tersebut justru mengancam eksistensi pendidikan tradisional mereka, semacam pesantren di Indonesia, dengan kurikum yang tidak berkembang. Sehingga akhirnya ancaman itu menjadi kenyataan, ketika pemerintah Thailand memprakrarsai untuk merombak system pendidikan pada 500 pesantren di Thailand. Yang menyakitkan bagi masyarakat muslim minoritas Thailand bukanlah sikap “baik” pemrintah tersebut. Ada unsur pemaksaan agama terhadap mereka bila belajar pada sekolah pemerintah. Setiap pelajar muslim diwajibkan mengikuti pelajaran agama Budha. Sikap pemaksaan tersebut dianggap menyalahi hak-hak mereka sehingga muncul perlawanan dikalangan muslim minoritas Thailand terutama masyarakat Pattani yang menuntut kemerdekaan dari Thailand. Diskriminasi pemerintah Thailand terhadap minoritas muslim juga merambah kawasan ibadah. Pemerintah membatasi fungsi masjid hanya sebagai tempat ibadah pada hari Jum’at saja, dan melarang penggunaan mesjid untuk maksud-maksud lain. Keadaan ini tentu saja semakin memperkuat alasan dijalankannya politik pergerakan radikal muslim di kawasan itu.

Rabu, 03 Juni 2009

Penjualan (Baca: Pencurian) Naskah-Naskah Kuno Islam Melayu-Minangkabau

Oleh : Muhammad Ilham

Antropolog Levi Strauss mengatakan bahwa budaya tidak terbatas soal di mana letaknya. Namun, ketika, naskah-naskah kuno Islam (Melayu ataupun Minangkabau) dijual ke negara lain, khususnya ke Malaysia, persoalannya justru menciderai hakikat budaya itu sendiri. Penjualan naskah-naskah kuno Islam beberapa tahu belakangan ini, harus disikapi serius oleh pemerintah dan budayawan Indonesia. Hanya dalam hitungan lima tahun terakhir, sudah 60 naskah Melayu kuno Indonesia berpindah tangan ke Malaysia. Padahal naskah Melayu itu dibuat sekitar tahun 1800-an. Negara tetangga itu masih akan terus memburu dokumen cagar budaya Indonesia. Bagaimanapun naskah Melayu kuno itu menjadi kekeyaan tersendiri buat bangsa Indonesia. Pemerintah pusat dan daerah harus melindungi naskah-naskah dari jarahan orang luar. Caranya tentulah, pemerintah harus membeli dari masyarakat yang jika memang mereka memperjual belikannya. Terjadinya penjualan naskah ini ke Malaysia, tidak terlepas dari minimnya perhatian pemerintah Indonesia soal kebudayaan itu sendiri. Ini dapat dilihat, ketika pemerintah telah memisahkan kebudayaan dari pendidikan itu sendiri.

Naskah Melayu kuno itu akan menjadi barang berharga yang memiliki nilai sejarah tinggi. Naskah itu nantinya akan menjadi bahan penelitian dari seluruh akademisi dan budayawan dari belahan dunia. Maka, dengan adanya perburuan naskah kono Melayu itu, nantinya Malaysia akan menjadi pusat penelitian sastra Melayu satu-satunya di dunia. Malaysia, begitu ngotot dengan naskah melayu kuno itu karena mereka akan memperkuat identitas melayunya. Seperti slogan mereka Trully Asia, Malaysia bener-bener ingin mewujudkan negeri tersebut sebagai pusat melayu di dunia.

Seperti yang kita ketahui, lagu rasa sayange, reok, batik, kini dipatenkan menjadi karya anak bangsa Malaysia. Sebentar lagi, naskah Melayu kuno yang mereka beli dari Kepri, juga akan menjadi hak paten milik mereka. Lantas bangsa kita ini akan tetap menjadi penonton pada hasil karyanya sendiri yang sudah dimiliki bangsa lain. Naskah yang kini sudah berpindah tangan itu, antara lain, sejumlah syair, hikayat, catatan harian, Al Quran kuno yang semuanya bertuliskan tangan pada abad 19 lalu. Para pemburu naskah Melayu ini dilakukan warga Malaysia baik dari mahasiswa maupun para akedemisi. Mereka membeli dari masyarakat di Pulau Lingga, Bintan, dan Pulau Penyengat di Kepri, dan beberapa kasus yang terjadi di Sumatera Barat. Kini 60 naskah Melayu itu dengan mudah dijumpai di Pustaka Universitas Kebangsaan Malaysia, Universitas Malaka serta museum pemerintah Malaysia. Naskah bertuliskan melayu arab itu, bakal menjadi dokomen sejarah soal akar sastra Melayu di dunia.

Senin, 01 Juni 2009

Antara Gamawan Fauzi dan "Urang Sumando Bakuku Ameh"

Oleh : Muhammad Ilham

Di jalan Sudirman Kota Padang, tepatnya di dekat Perkantoran Bank Indonesia, Posko pemenangan JK-WIN berada. Gedung tua bekas kantor Mahkamah Militer berwarna hijau lusuh (karena sudah tua), disulap menjadi warna kuning (warna Partai Golkar) berbalur kuning tua-pinang khas Partai Hanura. Di depannya, ada baliho besar ……. JK-WIN dengan “Tiga Icon keramatnya …… Lebih Cepat, Lebih Baik, Lebih Tegas” serta kata-kata dalam bahasa Minangkabau yang ingin memperjelas posisi kultural JK … “Urang Sumando Bakuku Ameh” (Suami Orang Minangkabau yang Berkuku Emas). Mufidah Kalla, sang istri JK, adalah Bundo Kanduang asal Minangkabau. Berkuku Emas, jelas memposisikan mantagi JK dalam ranah politik Indonesia saat sekarang ini. Pesan yang ingin disampaikan : “JK adalah orang Minangkabau dan ia hebat, untuk itu, sudah selayaknyalah orang Minangkabau memilih JK (dan tentunya WIN akan terbawa, dengan segala bentuk justifikasi). Lalu bagaimana dengan SBY-Boediono ?. Nampaknya, icon JK lebih cepat, terlihat disini. SBY-Boediono, setidaknya tim sukses pasangan dengan koalisi partai-partai rapuh ini, belum segesit tim sukses JK-WIN (khususnya di Sumatera Barat). Akan tetapi kehadiran Gamawan Fauzi (Gubernur Sumatera Barat) di Sabuga sebagai “wali nikah” SBY-Boediono yang kontroversial itu, telah memperlihatkan SBY-Boediono lebih dulu dibandingkan JK-WIN. Harus diakui bahwa ketiga pasangan Capres/Cawapres ini disadari atau tidak disadari ternyata telah menarik masyarakat Minang yang ada dikampung halaman dan daerah perantauan untuk terlibat ke dalam ranah politik tersebut.

Secara genetis, sejarah telah mencatat bahwa Yusuf Kalla adalah sumandonya orang Minang, karena isteri beliau berasal dari Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan Megawati Soekarno Putri yang memiliki suami Taufik Kiemas dimana orang tua perempuannya berasal dari daerah Batipuh, Tanah Datar (Sumatera Barat). Sedangkan SBY-Budiono pernah diberi “gala” atau gelar oleh orang Minang serta mendapat dukungan dari Gubernur Sumatera Barat, Gamawan Fauzi, S.H. Ketiga keterkaitan genetis dan politis yang menjadi pengikat pemilih Minang menghadappi pilres mendatang tentu membuat peta konflik di kalangan urang awak semakin terbuka untuk masa-masa mendatang. Disamping itu, keterikatan genetis dan politis tersebut ternyata memperlihatkan kepada Publik bahwa masyarakat Minang, baik di kampung halaman maupun di perantauan tidak solid menghadapi pilpres mendatang. Jika urang awak nan “boneh” di rantau dan kampung halaman tidak kompak dan hanya menyelamatkan kapal masing-masing untuk berlayar sampai di “seberang politik” saya yakin dan percaya bahwa mereka tidak akan mampu “mambangkik batang tarandam”.

Kondisi ini menggambarkan bahwa urang awak hanya dijadikan elite-elite politik tertentu sebagai “kudo parajang bukik” untuk mendapatkan tahta RI-1 dimasa-masa mendatang. Kalau RI-1 sudah didapat, maka “kacang kembali akan lupa dengan kulitnya”. Secara historis masyarakat Minang memang sangat mandiri dalam konsep berfikir dan menentukan sikap politiknya. Kemadirian “nagari” sebagai sebuah “republik kecil” seperti “city state” di Yunani dulunya dan sistem kelarasan ternyata telah membentuk karakter tersendiri bagi masyarakat Minangkabau. Sejak dulunya sikap politik masyarakat Minangkabau memang tidak pernah mampu diintervensi oleh kekuatan materi dan kekuasaan apapun, termasuk lingkungan keluarga mereka sendiri. Jika “urang awak” sudah tersinggung, maka mereka akan menampilkan identitas dan jati dirinya dengan ungkapan “walaupun kamu pintar, kami tidak bertanya. Walaupun kamu kaya, kami tidak pernah meminta dan walaupun kamu jagoan kami tidak akan berantam”.

Sebagai seorang Gubernur, seharusnya Gamawan Fauzi menginventarisir segala potensi dan keinginan sekaligus aspirasi politik masyarakat Sumatera Barat secara keseluruhan. Selanjutnya semua aspirasi dan dinamika politik yang terjadi “dikunya-kunya”, sehingga menjadi sebuah konsep yang jelas, cerdas dan aspiratif. Strategi seperti ini tentu akan membuat bargaining politik “urang awak” akan lebih diperhitungkan oleh berbagai elite politik dan elite pemerintahan ini ke depan. Jika seorang pemimpin seperti Gubernur sudah jalan sendiri-sendiri, bagaimana masyarakat Sumatera Barat nantinya. Padahal Sejak dulu kala masyarakat etnis lainnya sangat segan dengan paguyuban perantau. Minangkabau di perantauan yang senantiasa solid dan memiliki link yang baik dengan kampung halaman. Jangan hanya karena ambisi pribadi untuk menjadi menteri, maka seorang pemimpin daerah mengorbankan harga diri dan jati diri masyarakat yang dipimpinnya. Secara sosiologis memang masyarakat Minangkabau merupakan etnis yang dinamis dan mandiri, sehingga walaupun karakteristik warganya tergolong homogen dari latar belakang suku dan agamanya, dari sisi politik selalu berubah (Kompas, 23/5). Namun yang dipersoalkan bukan karena dinamika politik masyarakatnya, melainkan karena Gamawan Fauzi adalah seorang pemimpin masyarakat Sumatrera Barat.

Jumat, 08 Mei 2009

ROMANTISME SEJARAH ISLAM (www.padang-today.com)

(Tulisan ini merupakan tulisan yang banyak dibaca dalam www. Padangtoday.com dari Januari-Maret 2009)

Oleh: Muhammad Ilham (Penulis adalah Dosen Fak. Ilmu Budaya-Adab IAIN Padang/Post Graduate UKM Malaysia)

Berkatalah Frintjof Capra (1986: 93-94) bahwa peradaban ummat manusia dipat planet bumi ini yang memiliki potensi berkuasa adalah peradaban ummat manusia yang menempatkan ilmu dengan berpusat kepada universitas dan institusi intelektual. Artinya, apabila perdaban ummat Islam ingin memegang peranan, mau tidak mau ummat Islam harus mampu menguasai ilmu pengetahuan. Peradaban ummat Islam pada masa dahulu pernah menjadi peradaban avant garde. Sumbu dan pusat sejarah terdepan ummat manusia pada masanya. Dan sejarah membuktikan, posisi terdepan peradaban ummat Islam tersebut muncul dengan gagah-berkualitas karena peradaban tersebut mampu menjadi wadah untuk bersemai dan berseminya bulir-bulir bernas intelektual, tanpa sekat, tanpa batas primordialisme maupun egoisme sektoral. Pada masa ini, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh sang filosof Muhammad Iqbal dalam khudi-nya bahwa peradaban Islam betul-betul merupakan peradaban universal dan tidak hanya terpaku kepada latar belakang munculnya ilmu tersebut. Pada masa tradisi Cordoba dan tradisi Baghdad, ilmu tidak memiliki nasionalisme.

Sejak zaman Rasulullah SAW., peradaban Islam berkembang terus menerus sejalan dengan perkembangan pemikiran dan meluasnya wilayah teritorial kekuasaan politik ummat Islam. Salah satu letak keunikan peradaban Islam yang berpusat pada al-Qur’an tersebut adalah keberanian dan kedinamisannya untuk keluar dari “relung sunyi habitat sosial mereka” dan kemudian menyerbu untuk keluar dari keterbelakangan kebudayaan bangsa Arab yang hidup dan terisolir di “belantara” gurun-gurun pasir tandus-gersang dan kemudian mengambil apa yang yang dapat diambil dari peradaban-peradaban tua yang telah menyejarah dan berevolusi selama ribuan tahun.

Dari Persia dan Byzantium, diambil bermacam-macam gaya upacara dan estetika-seni. Dari India, matematik dan ilmu perbintangan. Dari negeri “para dewa” Yunani, diambil antara lain filsafat dan logika. Dalam khazanah intelektual Islam, unsur-unsur yang diperoleh dari peradaban lain tersebut tidak hanya ditiru an sich tetapi ada improvisasi, ada pengembangan dan kemudian diberi perspektif dan aura keIslaman. Perkembangan peradaban ummat Islam yang paling menarik antara abad ke-VII hingga XIII Masehi tersebut adalah bagaimana peradaban dan agama yang berasal dari bangsa Arab di gurun pasir yang miskin lagi terpencil itu, seolah-olah tahu sekali bahwa yang pertama sekali harus direbutnya adalah ilmu pengetahuan.

Pada saat ini sangat kentara sekali kegairahan para elit dan anggota-anggotanya mengumpulkan bermacam-macam ilmu pengetahuan, dari berbagai disiplin ilmu dari berbagai negara manapun juga. Banyak muslim pilihan pada masa ini yang melakukan perjalanan intelektual, keluar dari habitat teritorial mereka. Perjalanan intelektual tersebut melahirkan catatan-catatan ilmiah berdasarkan pengamatan empirik. Catatan-catatan ini kemudian disampaikan pada muslim lainnya. Buku-buku berkualitas diterjemahkan secara massif kedalam bahasa Arab. Perguruan tinggi dan institusi intelektual lainnya di pusat-pusat agama dan politik Islam seperti Cordoba Spanyol, Baghdad dan Cairo menjadi sentra pemikiran dan penyelidikan bergengsi dan bermartabat pada zamannya.

Dibelahan peradaban Islam Timur Tengah, ilmu pengetahuan berhasil berkembang pada masa Khalifah Al-Mansur, harun al-Rasyid dan al-Makmum. Pada masa al-Mansur amat berkembang ilmu bahasa dan kesusasteraan. Proyek penterjemahan dilakukan secara besar-besaran, terutama dari bahasa Pesia, India dan Yunani. Pada masa al-Mansur ini hidup Ibnu al-Muqaffa, pakar bahasa Arab dan Persia. Beliaulah yang menterjemahkan buku monumental Kalilah wa Deminah yang memuncak dalam cerita Seribu Satu Malam (1001 Malam). Ia juga menterjemahkan buku Shah Namah yang memuat cerita-cerita raja dan pahlawan-pahlawan Iran. Dibawah kepemimpinan al-Mansur yang liberal, faham rasionalisme muktazilah mendapat kesempatan untuk berkembang. Pada masa ini juga sarjana-sarjana Islam berkesempatan menyusun Hadits dan hukum Islam secara baik. Imam Abu Hanifah menyelesaikan sistem hukumnya pada masa kekuasaan al-Mansur, sedangkan Imam Maliki dan Syafei pada masa Harun al-Rasyid. Sedangkan dibawah al-Makmum dikenal adanya institusi yang menampung begitu banyak buku yang disebut dengan Baitul Hikmah. Di perpustakaan yang kaya dengan buku ini – konon koleksinya mendekati bahkan mungkin lebih 400.000 jilid buku – bekerja sarjana-sarjana dari berbagai ragam bangsa dan agama.

Sementara itu di Mesir, Dinasti Fathimiyah juga terdapat perpustakaan besar yang memuat lebih kurang 200.000 buku dan mayoritas tentang ilmu Yunani klasik, tata bahasa, lexikografi, hadits, sejarah, kimia dan biografi raja-raja. Dinasti ini memberikan otonomi khusus bagi Cairo untuk mendirikan Universitas Al-Azhar yang kesohor itu. Lebih penting lagi, Khalifah al-Hakim mendirikan sentra ahli-ahli hukum yang dinamakan Darul Hikmah. Kegemilangan yang sama juga terjadi di Spanyol. Emir Abdurrahman III dikenal sebagai penguasa Islam yang memiliki tingkat apresiasi tinggi terhadap ilmu pengetahuan disamping hobbinya pada musik. Beliau meletakkan iklim da tradisi kondunsif untuk penulisan dan penterjemahan buku-buku kedokteran, filsafat da mistisisme. Hal ini kemudian diteruskan oleh putera-puteranya yang menjadikan Cordoba menjadi sentral ilmu pengetahuan ungulan pada masanya. Pakar sejarah Timur Tengah Klasik, Philip K. Hitti mengatakan bahwa pada masa ini, sebahagian istana dikosongkan dan dijadikan tempat bekerja sehingga disana hanya ditemui juru penyalin dan juru penjilid. Luar biasa. Diperkirakan jumlah buku mencapai 400.000 buah buku. Universitas Cordoba menjadi universitas terkenal dan bermutu. Pendidikan tidak dikenakan pajak.

Cerita manis ini akhirnya berhenti hingga abad ke-XIII Masehi. Selanjutnya, apresiasi terhadap rasio mulai redup. Perdebatan serius antara al-Ghazali dan Ibnu Rusyd, antara Sunni dan Muktazilah, membuat kebebasan berfikir dan melakukan pengayaan ilmu pengetahuan mulai meredup seiring dengan kejatuhan kekuasaan Islam dan munculnya tradisi glamour pada penguasa yang tidak respek terhadap pengembagan intelektual. Bersama-sama dengan hilangnya semangat pemikiran dan penyelidikan ilmu yang menjadi ciri khas kebesaran dan kemajuan Islam selama enam abad masa-masa keemasannya, maka kegairahan untuk memajukan ilmu mulai berkurang dari posisi tawar golongan sarjana mulai menurun. Malahan dibeberapa tempat seperti Baghdad, perpusatakaannya habis dibakar, dirampas dan dimusnahkan oleh Tentara Tartar – ”Petarung jempolan buta huruf yang penuh dengan kutu dan mengerti betul pentingnya arti mandi apatah lagi arti buku”, demikian kata Goenawan Muhammad dalam salah satu Catatan Pinggir-nya. Tentara Tartar, demikian ratap Iqbal, telah melahirkan peristiwa tragis paling memiriskan dalam sejarah intelektual Islam.

Nasib perpustakaan Fathimiyah di Cairo adalah contoh terbaik perubahan mentalitas dalam kejatuhan peradaban Islam. Perampasan yang pertama terjadi pada waktu berjangkitnya kelaparan dan anarkhisme yang menghancurkan kerajaan Khalifah Musanjadid. Beribu buku-buku berharga tentang keindahan kaligrafi, ditinggalkan kepada Budak. Konon, kata sejarawan Thomas Marzuk (2000), para Budak tersebut membuka kulit-kulit buku itu untuk dijadikan sepatu. Banyak buku-buku yang dilemparkan ke Sungai Nil sebagaimana halnya buku-buku Dinasti Abbasiyah yang dibuang tentara Tartar ke Sungai Eufrat dan Tigris, sehingga warna sungai ”berubah hitam karena tinta”. Sebahagian buku diselamatkan. Dan akhirnya, tahun 1122, Darul Hikmah ditutup.

Nasib sarjana dan perpustakaan ditempat lain, tak jauh beda. Semangat ilmu tersebut universal dan tidak memiliki nasionalisme mulai hilang dan kemudian berganti dengan semangat ideologis-parsial. Ahli-ahli hukum mazhab Maliki, misalnya, sangat giat membakar naskah-naskah Yunani klasik kecuali naskah-naskah yang berhubungan dengan kedokteran dan aritmetika, kamus, tata bahasa, hukum da hadits. Disamping dibakar, banyak buku-buku berharga dari hasil penterjemahan dan pengayaan tradisi intelektual Yunani Klasik dan Pesia dijual dengan harga murah. Khazanah kaya tersebut akhirnya berpindah ke pusat-pusat yang lain yang berusaha menyamai Cordoba. Peradaban Islam pada masa ini diisi oleh iklim dengan mental yang berbeda dengan mental sebelumnya. Pada sisi lain, pada waktu itu Eropa sedang bergairah menterjemahkan buku-buku dari bahasa Arab. Perpustakaan dan lembaga-lembaga penyelidikan banyak bermunculan. Pusat penterjemahan dari bahasa Arab yang sangat terkenal dalam sejarah eropa pada abad ke-XIII Masehi terdapat di sebelah barat Eropa. Santa Maria di Rippol di kaki gunung Pirrenia menjadi catatan emas sejarah intelektual Eropa. Tempat ini dikenal sebagai tempat paling produktif dalam menterjemahkan berbagai buku dari bahasa Arab ke bahasa Latin. Di perpustakaan Vatikan di Roma, di Bibliothegue Nationalle di Paris dan di British Museum London terdapat sejumlah naskah terjemahan dari abad ke-XII Masehi. Penterjemah terkenal pada masa ini adalah Pedro Alfonso, seorang Kristen keturunan Yahudi dan Abraham van Hiyya al-Bargelouni serta Gerardo di-Cremona dari Toledo. Di Italia, penterjemahan berpusat di Sicilia dan Napoli – dua wilayah yang sebelumnya pernah berinteraksi dengan Islam secara politik – dengan tokohnya Michael Scott.

Kegelisahan berfikir dan penyelidikan yang menandai kemajuan peradaban Islam hingga abad ke-XIII Masehi, mulai berpindah ke Eropa-Kristen. Kedinamisan dunia Islam yang menyatukan spirit peradaban dari batas China hingga Atlantik segera diatasi oleh bangsa-bangsa Eropa. Marcopolo menjelajah Asia dari 1271 – 1295. Christopher Colombus menemukan benua Amerika tahun 1498. Vasco da Gama mengelilingi Afrika dan mendarat di kalikut tahun 1498 sebagai usaha orang Portugis untuk memerangi kerajaan-kerajaan Islam. Dari tahun 1519 – 1522, Magelheins mengelilingi dunia. Dan kemudian sejarah mencatat, denga penguasaan dan penjajahan bangsa Eropa atas dunia berjalan hingga abad kita. Dan kita tahu, bagaimana selanjutnya, Eropa kemudian berkembang sangat pesat dengan revolusi ilmu pengetahuan yang berpangkal dari revolusi industri pada abad ke-XIX Masehi.

Memperhatikan dan membandingkan sifat peradaban Islam di zaman keemasannya dengan peradaban modern dalam beberapa abad belakangan ini, tidak mengherankan banyak orang Islam yang berpendapat bahwa kemajuan dunia modern ini pada hakikatnya adalah kemajuan yang dikehendaki agama Islam seperti yang terjadi pada abad ke VII – XIII Masehi. Pada hakikatnya, orang Eropa-lah yang melanjutkan spirit Intelektual Islam. Mungkin ini terkesan bertendensi apologis dan romatisme sejarah. Tapi tidak salah bila kita bersikap dengan dua episode sejarah diatas. Peradaban Islam maju ketika tradisi intelektual berkembang tanpa memandang dari mana ilmu tersebut berasal. Demikian juga halnya ketika tradisi intelektual eropa yang menghilangkan ego-parsial mereka dan mereka mau berkata, ”walaupun ilmu tersebut berbahasa Arab, tapi tidak salah kita ambil dan kita bawa ke dunia kita”. Haruskah selanjutnya pada zaman kita saat sekarang ini, kita selalu mengedepankan bahwa ilmu dari ”out-group” kitatidak bagus dan tidak Islami? Kalau ini yang terus kita lakukan, ”nilai yang terus dipelihara”, historia not-repete – sejarah tidak akan berulang. Cerita manis masa lalu akan tetap dalam bungkusan apologia. Sebuah kompensasi atas inferioritas atau hanya sebatas romantisme sejarah. Wallau ’Alam.

Jumat, 01 Mei 2009

Dari Majalah TIMES : "SBY Diantara 100 Tokoh Berpengaruh"

Oleh : Muhammad Ilham

"SBY ....... 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia Versi Majalah TIMES", setidaknya demikian headline beberapa media massa dalam dan luar negeri 2-3 hari terakhir ini. Menjelang Pilpres 2009 credit point Susilo Bambang Yudhoyono kembali bertambah. Kali ini dikarenakan beliau berhasil masuk ke jajaran 100 World’s Most Influential People atau 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh di Dunia versi majalah Time. Menurut situs resmi majalah tersebut, Presiden Yudhoyono masuk dalam kategori "Pemimpin dan Tokoh Revolusioner". Majalah itu juga menampilkan pendapat mantan wakil perdana menteri yang kini memimpin kubu oposisi di Malaysia, Anwar Ibrahim, atas kiprah Yudhoyono. Menurut Anwar, sejak memenangi pemilu langsung pertama pada 2004, Yudhoyono telah berhasil membawa Indonesia mengatasi semua tantangan, termasuk krisis keuangan global yang saat ini melanda dunia, sekalipun berbagai masalah masih menghadang.

Ibrahim juga mengatakan bahwa saat ini adalah waktu yang tepat bagi Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, untuk mengemban posisi yang menonjol di Asia dan di penjuru dunia Muslim. Untuk kategori "Pemimpin dan Tokoh Revolusioner", Time memilih 20 orang tokoh. Presiden Yudhoyono masuk dalam peringkat sembilan. Selain Yudhoyono, yang masuk dalam kategori "Pemimpin dan Tokoh Revolusioner" antara lain Edward Kennedy, Gordon Brown, Christine Lagarde, Thomas Dart, Avigdor Lieberman, Joaquin Guzman (yang ini "gembong Narkoba" level Pablo Escobar), Nouri al-Maliki, dan Hillary Clinton. Penghargaan Time 100 meliputi lima bidang, yaitu "Pemimpin dan Tokoh Revolusioner", "Ilmuwan dan Pemikir", "Artis dan Penghibur", "Pembangun dan Konglomerat", serta "Pahlawan dan Ikon". Edisi Time 100 beserta daftar finalnya diterbitkan pada 1 Mei 2009. Untuk kategori "Pembangun dan Konglomerat" antara lain The Twitter Guys, Ted Turner, Meredith Whitney, Bernie Madoff, dan Brad Pitt. Untuk kategori "Artis dan Penghibur" antara lain Rush Limbaugh, M.I.A, Sam and Dan Houser, Kate Winslet, Zac Efron, dan Tom Hanks. Untuk kategori "Pahlawan dan Ikon" antara lain adalah Michelle Obama, Hadizatou Mani, Oprah Winfrey, Rafael Nadal, dan George Clooney. Adapun untuk "Ilmuwan dan Pemikir" adalah Nouriel Roubini, Amory Levins, Jon Favreu, dan Yoichiro Nambu.

Secara pribadi, ada rasa bangga yang "menyeruak" dari diri saya. Terkadang menikmati rasa nasionalisme tersebut tidak harus melalui konflik dan peperangan, kata Muhammad Iqbal. Beberapa hari ini, apresiasi terhadap SBY justru bisa memberikan kebanggaan. Tulisan ini bukan bertendensi membela SBY, sebagaimana tanggapan beberapa elit politik Indonesia yang belakangan ini sedang "putus-sambung" pacaran politik. Pengakuan terhadap SBY bagi mereka justru "grand design" jelang Pilpres untuk menaikkan ratingnya (mungkin mereka menganggap majalah TIMES adalah institusi yang murahan). Namun bagi saya, ini menjadi sebuah takdir untuk SBY. Ia pantas untuk menerima penghargaan itu. Lihatlah, komentar di facebook, dari orang-orang Indonesia yang lama bermukim di Luar Negeri ..... mayoritas mereka menganggap penghargaan tersebut sudah sepantasnya dan karena itu, mereka justru merasa menjadi bagian dari Indonesia -- dengan penuh bangga.

Saya punya pengalaman menarik, ketika "berkontemplasi akademik" di Malaysia. Tahun 2002 awal, saya berangkat ke negeri "skandal Manohara" ini untuk survey ke UKM Malaysia. Berangkat dari Dumai menuju Malaka. Waktu di Malaka, saya bersama-sama dengan "para sahabat-sahabat TKI", berbaris-antri, paspor satu per satu "di-Cop (maksudnya : distempel). Tidak semuanya lancar-mulus. Ada satu dua TKI yang bermasalah dokumen keimigrasiannya. Bagi saya, pemandangan bagaimana kaki tangan (maksudnya pegawai) jabatan kastam dan imigresen Malaysia menyelesaikan permasalahan tersebut, menjadi pelajaran yang cukup mengasyikkan. Sistem administrasi IT mereka, pantas untuk diancungi jempol -- kontras luar biasa dari bagaimana para pegawai imigrasi Indonesia menangani permasalahan dokumen keimigrasian sewaktu di Dumai (setidaknya ini yang saya tangkap secara subjektif). Sambil menyelesaikan dan berdiskusi dengan TKI yang bermasalah itu, sering saya dengar celetukan dari kaki tangan kastam diraja Malaysia, "dah saye cakap bulan lepas, awak tak boleh masuk ke Malaysia tanpa revision balik paspor awak, sekarang tak boleh masuk.... tak lihat ke, ada notis tak boleh masuk, masuk juga..... tak lihat ha, sama awak ni dengan Presiden awak". Dalam hati saya, ada sedikit rasa kesal, tapi juga ketawa, rupanya Gus Dur yang tidak bisa melihat, telah menjadi bahan cemoohan, setidaknya ini yang saya rasakan ketika itu. Kemudian tahun 2004, saya mulai mendaftar. Gus Dur sudah digantikan oleh Megawati. Saya ingin menyaksikan kembali suasana pelabuhan Malaka, sebagaimana yang saya rasakan tahun 2002. Ketika sampai di Malaka, suasana memang agak berubah terhadap TKI, tak ada ungkapan "awak buta" lagi. Tapi, rasa superior mereka terlihat. Pandangan subjektif saya menangkap pesan bahwa mereka baru saja menyelesaikan perang --- "Sipadan-Ligitan mereka rebut". Setelah sekian waktu saya berada di Malaysia, saya berinteraksi dengan beberapa orang Melayu yang memiliki respek-objektif terhadap Indonesia. Rata-rata mereka berkata, "Orang Indonesia pintar-pintar, punya Habibie yang sangat kami hormati, punya Yusril, punya Amien Rais, tapi mengapa wanita yang memimpin kalian ?".

Tahun 2005, saya bolak-balik ke Malaysia. Image terhadap Indonesia terasa jauh berubah. Media massa Malaysia "kagum" terhadap seorang Jenderal, dan biasanya mereka menyebut Jenderal Bambang (kebetulan waktu itu, ada dua Bambang yang terkenal di Malaysia, yang satu Jenderal Bambang Yudhoyono, satu lagi Bambang Pamungkas yang bermain di Klub Selangor FC). Masyarakat Malaysia bahkan merindukan pemimpin mereka seperti Bambang yang jenderal, gagah, pintar, santun, bicara teratur (untuk yang satu ini, ada media massa di Malaysia yang menulis, bila Jenderal Bambang bicara dalam Bahasa Inggris waktu diwawancarai, hasil wawancaranya tak perlu di edit lagi). Saya melihat, kondisi masyarakat Malaysia memandang SBY kala itu, ketika kita memandang Mahathir Mohammad kala ia memimpin Malaysia. Ketika kasus Ambalat sedang memanas, media massa terkesan tidak tertarik (ada yang bilang, pemerintah Malaysia agak takut berhadapan dengan Presiden yang Jenderal). Bahkan masa pemutihan TKI sampai diundur-undur hingga 3 kali, sesuatu yang tidak dilakukan oleh Pak Lah (Abdullah Ahmad Badawi) ketika Gus Dur dan Megawati jadi Presiden.

Hingga hari ini, saya masih sering menerima E-Mail dari beberapa teman-teman satu kuliah kemaren, baik dari Brunei, Malaysia maupun Pattani Thailand. Terakhir kemaren rata-rata mereka mengatakan, "Anda memiliki Presiden yang mampu memberikan kenyamanan, memberikan keteladanan berdemokrasi dan seorang pemimpin yang Islami, walaupun bukan dari Partai Islam". Sumpah ...... pemilu Presiden 2004 yang lalu, saya tidak memilih SBY, karena memang saya menganut paradigma bahwa militer sulit mengejawantahkan nilai-nilai demokrasi. Pemilu 2009 nanti ? Saya mungkin harus membalas budi karena beliau telah memberikan pada saya, rasa nasionalisme dalam "bentuk lain". Saya harus merevisi kembali, bahwa paradigma yang terbangun jelang pemilu 2004 dulu, ternyata salah -- setidaknya untuk kasus SBY.

Senin, 20 April 2009

Sebuah Catatan Atas Luka Akan Selalu Ada

Oleh : Muhammad Ilham

“Walau sejarah belum tentu (dan tak perlu) menghadirkan para penulis sebuah buku agar menjadi tokoh di dalam perjalanan waktu, sebuah catatan atas luka akan selalu ada…”, setidaknya demikian kata sang Revisionis (dalam tradisi Marxian), Antonio Gramsci. Saya mulai tulisan (tepatnya penggalan “reportase-highlight” dari seorang putra DN. Aidit, Ilham Aidit – tidak pakai Muhammad, sebagaimana halnya dengan nama saya, Muhammad Ilham). Penggalan tulisan ini merupakan “jerit” dari seorang anak menyaksikan kehancuran fantasi terbesarnya yang bernama “keluarga”, sebagaimana halnya jerit pilu Amelia Yani melihat ayahnya Ahmad Yani ditembak. Ideologi telah meluluhlantakkan kebahagiaan yang difantasikan Ilham Aidit. Saya dan kita, mungkin tidak sependapat dengan pilihan ideologi ayah Ilham Aidit (baca: komunis), namun setidaknya, tulisan dibawah ini kembali “menjemput” masa lalu yang tidak ingin kita ulang kembali. Berikut penggalan “reportase-highlight”

Di kejadian 42 tahun yang lalu, 30 September 1966 hampir tengah malam. Di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Jakarta, hanya beberapa meter dari Monumen Proklamasi. Seorang bocah Ilham, kelopak matanya banjir melihat ayah yang dibanggakannya dibawa pergi oleh tiga tentara. Pergi dan tak pernah kembali. Ketika besar, dia mendapati kenyataan bahwa ayahnya, D.N. Aidit tewas ditembak Kolonel yasir di sebuah sumur tua di Boyolali, setelah sebelumnya melalui jalan pengkhianatan karib yang menyesakkan hati pemuda yang pidatonya menggetarkan hingga ke Kremlin itu. Tak jauh beda dengan nasib para jenderal pahlawan revolusi yang terbunuh dalam peristiwa di malam yang sama. Ibundanya, dr. Soetanti kemudian menyusul ayahnya untuk pergi dalam waktu yang teramat lama, dari penjara ke penjara. Baru 16 tahun setelahnya, di tahun 1980, sang bunda bebas dari Penjara Pulau Buru. Sejak malam itu, Ilham kecil tak pernah lagi memiliki rumah tempat ayahnya pulang, tempat mereka berkumpul dan mendengar riuh diskusi politik yang sama renyahnya dengan lagu keroncong yang mereka gemari. Rumah besar yang ditempatinya beserta empat saudara dan dua pamannya itu, di hari-hari berikutnya kemudian berwarna suram, gelap. Sebagian karena bekas api, tumpahan bensin, namun lebih banyak bekas kekalutan dan kebingungan. Dari sebuah tempat berkumpul para pejuang buruh, pemikir nasionalis dan para politikus setia, kemudian berubah menjadi rumah hantu yang ditakuti. Selepas peristiwa G 30 S itu, rumah mereka diamuk massa. Semua penghuninya kemudian menyebar bagai diaspora kemanapun rasa aman bisa ditemukan.

Ilham yang masih bocah dan tak cukup paham polemik politik tingkat tinggi itu, berpindah dari satu rumah kekhawatiran ke rumah kecurigaan yang lain, hanya menggantungkan harap dan iba kepada kerabat yang bermurah hati menampungnya. Sesekali aparat mencoba menghantui dengan wajah dendam dan revolver. Nasib Ilham kecil, tak jauh beda dengan tujuh anggota keluarga yang menempati rumah di Jalan Pegangsaan itu. Saudara-saudara lainnya juga bernasib sama, kakak sulungnya Ibarurri dan Ilya Aidit menjadi eksil di luar negeri, berpindah-pindah. Paman dan ibunya menjadi tahanan negara tanpa pernah diberi peluang membuktikan kesalahannya, selain bahwa dalam darah mereka mengalir darah leluhur Aidit. Nasib anak-anak Aidit teramat tragis, menjalani hari demi hari dalam ketakutan dan teror, di balik sejarah hitam ayahnya, yang sampai saat ini masih mengundang kontroversi di balik debat para analis sejarah.

Kini, Ilham Aidit sudah punya rumah sendiri di Depok. Bangunan suram dan kelam masa lalunya mungkin akan tetap jadi monumen kenangan pahit dan disimpan rapi dalam museum masa lalunya. Beberapa tahun silam, Ilham menyempatkan diri mengunjungi “petilasan” ayahnya, sebuah sumur tua di samping sekolahan nun jauh di sebuah dusun di Boyolali. Tidak ada gundukan tanah, pusara, apalagi taburan kembang nan harum di atasnya. Hanya gundukan sampah dan hempasan ketidakpedulian, yang mungkin masih lebih baik daripada ketika di masa Orde Baru. Sumur tua tempat jasad ayahandanya dicampakkan itu pernah menjadi monumen lupa dan tidak peduli penduduk di sekitarnya. Juga para tentara yang menjadi saksi kelam kejadian di malam 22 November 1966 itu. Ilham Aidit sadar, tidak ada gunanya mengalirkan rasa kecewa dan ketakutan itu sepanjang hidupnya. Dia berharap, tidak ada lagi rumah kelam bagi anak-anak yang lain, dan untuk itu dia perlu turun tangan membangun rumah yang lebih indah, terutama bagi yang membutuhkan. Beserta kawan-kawan arsiteknya, dia terlibat dalam proses rekonstruksi Aceh pasca tsunami, membangun rumah-rumah untuk anak-anak korban tsunami. Berhasrat dia menyediakan rumah yang teduh bagi tumbuh kembang anak-anak itu, bukan rumah gelap nan suram dan selalu berganti, sebagaimana yang dia hadapi dulu..................... Historia Vitae Magistra

Insert : Brand Film Penumpasan G 30 S-PKI dan Dipa Nusantara Aidit@Danu Nusantara Aidit@Dja'far Nawawi Aidit@DN. Aidit dan entah apalagi

Surat (Cinta Bernuansa Politik) Soekarno kepada Ratna Sari Dewi

Re-Write : Muhammad Ilham

Terlepas dari beberapa perdebatan tentang otentisitas Surat Soekarno kepada "istri mudanya" pada masa-masa "galau politik", yang pasti Surat ini bisa menjadi bahan komparasi untuk memahami "galau-psikologinya" Soekarno pada masa-masa Pasca G 30 S. Soekarno prihatin sekali dengan situasi pasca G 30 S, ketika terjadi saling bunuh diantara sesama bangsa Indonesia. Soekarno memandang, pembantaian terhadap orang-orang komunis yang dilakukan di seluruh negeri, merupakan sesuatu yang "merusak hasil kerjanya selama duapuluh tahun". Kita memang harus melihat sikap Soekarno sebagai sikap seorang negarawan, founding father, yang berobsesi membangun Indonesia yang plural -- bahkan pluralitas ideologi yang digambarkannya dalam konsep (yang kini jadi utopis), yakni NASAKOM. Keprihatinan Soekarno terhadap aksi pembantaian orang-orang komunis, tampaknya dilandaskan pada aspek persatuan bangsa. Bulan November 1965, Presiden Soekarno membentuk Factfinding Comission (Komisi Pencari Fakta) untuk menertibkan, membersihkan dan menyelesaikan oknum-oknum sipil yang tersangkut G 30 S. Panitia Presidium, juga disebut sebagai Panitia III Menteri, ini beranggotakan Oei Tjoe Tat dari Partindo, Brigjen. Pol. Moedjoko (secara politis dekat dengan Waperdam III Chairul Saleh) dan H. Aminnudin Aziz (seorang tokoh Nadhlatul Ulama). Namun akhirnya Panitia itu gagal total. Sementara situasi politik semakin panas.


Demonstrasi terus terjadi. Universitas Res Publica (sekarang menjadi Universitas Trisakti) didemonstrasi, ditembaki dan dibakar massa Soekarno tidak sanggup lagi mempertahankan kekuasaan. Perlahan tapi pasti, dia dilolosi oleh kekuatan baru, yakni aliansi antara AD, mahasiswa, serta masyarakat yang tidak sepaham dengan PKI maupun aliran kiri pada umumnya. Ratna Sari Dewi, istri ketiga Bung Karno, bertutur bahwa beberapa hari sebelum 30 September 1965, Presiden Soekarno memanggil Jenderal Yani. Bung Karno bertanya, "Saya mendapat informasi tentang Dewan Jenderal yang mau bikin kudeta pada 05 Oktober. Apakah kau tahu?" Jenderal Yani menjawab: "Saya tahu. Mereka sudah ada di tangan saya. Bapak enggak usah khawatir." Bung Karno percaya Yani. Tetapi nyatanya, Jenderal Yani menjadi salah satu korban penculikan G 30 S. Ketangkasan Mayjen Soeharto meredam aksi G 30 S memancing kecurigaan Dewi. Katanya, "Sepertinya, Soeharto sudah tahu semua, seakan telah direncanakan. Bagaimana dia bisa memecahkan masalah yang terjadi pada malam 30 September dan segera bertindak. Begitu Cepat. Kalau belum tahu rencana G 30 S, ia tak mungkin bisa melakukannya."

Bagaimana dengan Soekarno ?, apakah dia mengetahui gerakan tersebut ? Menurut Ratna Sari Dewi, "Bapak tidak mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. ... Tanggal 01 Oktober, Bapak masih ada di Jakarta dan saya bisa mengunjungi dia di Halim. Jadi hari itu, Bapak tidak kirim surat. Ini surat tanggal 2 yang dikirim dari Istana Bogor. Isinya, dia baik-baik saja, sedang sibuk menghadiri petemuan dengan para petinggi militer guna menyelesaikan konflik militer. Bapak membantah keterlibatan PKI dan hanya menyebut konflik dua kelompok militer." Memang, tanggal 02 Oktober itu Bung Karno mengirimkan surat kepada istri yang konon paling dicintainya itu. Begitulah kebiasaan Bung Karno bila dia tidak sempat berkunjung ke Wisma Yaso, tempat kediaman Ratna Sari Dewi. Aktifitas Bung Karno dalam hari-hari pertama setelah G 30 S meletus, memang tidak banyak. Mobilitasnya sangat terbatas. Pada tanggal 1 pagi di Halim, sorenya ke Istana Bogor, dan tinggal disana untuk beberapa hari sambil memantau situasi. Esoknya, tanggal 3 Oktober, Dewi kembali mendapat surat dari suaminya. Isinya secara detail :

"Dewi sayangku, saya senang menerima dua pucuk suratmu. Saya senang kamu mendengar perkataanku dan terima kasih kamu menaruh perhatian. Pranoto agak lemah, tapi hanya dia di Mabes Angkatan Darat yang bisa berhubungan dengan pihak kiri dan kanan. Saya menunjuk dia sebagai care-taker Panglima AD untuk menangani urusan sehari-hari AD. Komando AD tetap ada di tangan saya. Segera sesuatunya tentang kembali, saya akan menunjuk Komandan AD definitif. Saya tidak tahu dimana Yani atau apa yang sesungguhnya terjadi dengannya. Segera sesuatunya aman, saya akan kembali ke Jakarta. Saya tetap memikirkanmu. Kamu tahu betapa cintaku kepadamu.” 1000 cium, Soekarno

Dari surat tertanggal 03 Oktober 1965 yang dikirim dari Istana Bogor, diketahui banyak hal penting. Pertama, Soekarno menghendaki AD dipegang orang yang netral, tidak condong ke kanan atau kiri. Keinginan seperti ini sangat logis, apalagi mengingat jiwa nasionalisme Soekarno yang amat orientasi pada persatuan. Kedua, Soekarno belum mengetahui nasib Yani dan jenderal-jenderal lain yang diculik Gerombolan 30 September. Apa yang tertulis dalam surat Soekarno ini, barangkali agak kontradiktif dengan dugaan Ulf Sundhaussen bahwa pada tanggal 03 Oktober, Soekarno sudah mengutus salah seorang perwira Cakrabirawa untuk mengambil jenasah para jenderal. Sebuah surat tertanggal 05 Oktober dikirimkan lagi kepada Dewi. Isinya antara lain :

“Sayangku, Dewi. Hari ini pemakamaan enam jenderal dan satu ajudan jenderal…… ... Soebandrio dan Leimena tidak mengikutiku menghadiri upacara pemakaman karena alasan keamanan. Mereka mengatakan tak ada seorang pun yang yakin apa yang terjadi pada suasana upacara yang emosional begitu. Sayangku, perasaanmu benar: ...... adalah seorang mata-mata. Namanya tertulis didalam daftar orang-orang yang kita curigai. Saya memanggil enam jenderal yang lain untuk berbicara dengan mereka setelah upacara pemakaman itu: Moersid, Sutardio, Ashari, Dirgo dan Adjie dari Bandung. Mereka adalah jenderal-jenderal yang berpengaruh di Angkatan Darat. Untuk jenderal-jenderal yang terbunuh, kita tunggu hasil investigasi rahasia kita: apakah mereka benar-benar akan melakukan kudeta terhadap saya atau tidak ? Informasi bertentangan satu sama lain. Benar, mereka semua 'communistophobie'. Tentang Mr. P., saya akan menceritakan kepadamu nanti. Saya tidak dibawah pengaruh seorang pun. Jangan khawatir tentang itu. Begitu kondisi mereda, saya akan pindah ke Jakarta. Saya sangat rindu kamu, istriku. Oh, cintaku, aku cinta kamu. "
Oh, 1000 cium, Soekarno

(dari berbagai sumber)

Selasa, 14 April 2009

Roem : "Saya tak punya waktu membenci Soekarno"

Oleh : Muhammad Ilham

Ketika melihat sebagian (bukan seluruhnya) dari elit politik Indonesia belakangan ini, “bermanuver”, rasanya saya rindu dengan tokoh-tokoh panutan Indonesia ketika awal Indonesia sebagai negara bangsa terbentuk, seperti (misalnya) Muhammad Roem. Disaat para sebagian elit, ketika kepentingan mereka tercederai, mereka “kasak-kusuk” mendelegitimasi sebuah keputusan politik, tanpa berusaha mencari solusi-solutif yang lebih “gentle”. Awalnya mereka diam, namun setelah “kalah”, mereka justru merasa dikalahkan. Dalam konteks ini, saya merindukan tokoh Masyumi yang lahir di Parakan Jawa Tengah 16 Mei 1908 ini. Muhammad Roem (dan sahabat-sahabatnya yang lain), bukan hanya seorang tokoh sejarah, tapi lebih dari itu – ia adalah seorang yang berbudi, demikian kata George Mc Turnan Kahin. Ketika ia wafat di Jakarta, September 1983 dalam umur 75 tahun, ratusan orang melayat. Kematiannya, kata Goenawan Moehammad, meninggalkan sebuah saksi perjalanan sejarah demikian panjang dan penuh.

Orang, sejarah dan buku sejarah hanya mengenal Roem sebagai diplomat. Perunding Indonesia vis a vis Belanda, terutama dalam persetujuan yang terkenal “Roem-van Royen”, Mei 1949. Namun, bagi orang yang tahu tentang sejarah, Roem lebih dari itu. Diplomat yang berjuang untuk pengakuan kedaulatan Indonesia ini, juga dikenal sebagai “pembawa dan perekat suara damai” bagi banyak pihak. Kahin menyebut Roem sebagai orang yang sanggup jadi “jembatan pengertian” antara kalangan yang berbeda-beda. Memang tak selamanya ia berhasil. Ketika Pemberontakan PRRI tahun 1958 terjadi di Sumatera, ia gagal mendamaikan “sahabat-sahabatnya” dengan pemerintah pusat. Padang di bom, perang pun pecah. Konsekuensi politis dari Pemberontakan ini, tahun 1960, Masyumi dibubarkan. Roem merupakan salah satu bagian penting dari Masyumi kala itu. Roem bersama-sama dengan tokoh PSI (Partai Sosialis Indonesia) lainnya ditahan, sampai empat tahun lebih.

Tahun 1966, pasca keruntuhan rezim Soekarno, Roem dan kawan-kawannya dibebaskan. Bagi Roem, pengalaman ditahan tanpa bersalah itu tak menyebabkannya jadi orang yang pahit, apalagi sakit hati. Mochtar Lubis, sastrawan yang juga rekan satu tahanannya kala itu mengenang kebesaran Roem. Roem, kata sastrawan pengarang “harimau-Harimau” ini, tak pernah kehilangan proporsionalnya, walaupun dalam tahanan Soekarno. Dalam tahanan Soekarno-pun, kata Lubis, Mas Roem masih dapat membenarkan tindakan Soekarno di mana Soekarno memang benar. Kepada seorang wartawan Belanda yang mewawancarainya di tahanan, Roem tidak pernah memperlihatkan rasa bencinya kepada Soekarno. “Saya tidak punya waktu untuk membenci Soekarno”, kata Roem. Kemampuan membuat jarak dari pertentangan posisi dan pendapat itulah yang membuat Roem dihormati siapa saja. Tokoh PNI Ali Sastroamidjojo menyebutnya sebagai “kawan saya”. Tokoh militer-Kristen, Tahi Bonar (TB) Simatupang melukiskannya sebagai pejuang yang tidak “murah marah dan benci sekalipun sering banyak alasan untuk marah dan benci”. Ia dan kawan-kawannya yang lain, merupakan teladan bagi sejarah Indonesia. Kita punya teladan. Sudah sepantasnya kita tidak akan pernah (mau) meneladani sebagian tokoh-tokoh kita hari ini, karena memang mereka tidak pernah mau meneladani orang-orang seperti Roem. Saat-saat seperti sekarang ini, rasanya rindu kita memuncak padanya.

(Insert : Foto M.Roem dan Suasana Perundingan Roem-Royen)

Senin, 13 April 2009

Kemenangan Partai Demokrat : Faktor SBY dan Rasionalitas Publik

Oleh : Muhammad Ilham

Saya masih ingat, tanggal 9 April 2009 yang lalu, ketika proses pencontrengan untuk Pemilu Legislatif berlangsung. Kala itu saya jadi KPPS di sebuah daerah pinggir kota Padang, daerah yang secara sosiologis “semi-urban” dengan tingkat heterogenitas masyarakatnya cukup tinggi, maklum di kompleks perumahan menengah bawah. Ada beberapa kejadian (baca: fakta) yang bisa digeneralisir untuk menjawab peristiwa paling fenomenal dalam sejarah politik Indonesia (khususnya sejarah pemilihan umum), yaitu : “Mengapa Partai Demokrat Menang?”. Apa sesungguhnya yang melatari sukses besar Partai Demokrat dalam pemilu 2009 ini?

Cerita 1 :

Kira-kira hari menunjukkan jam 7.10 WIB pagi. Masih pagi untuk ukuran Padang. Sebagai ketua KPPS, saya masih mempersiapkan logistik Pemilu dan selanjutnya mengambil “sumpah” anggota KPPS. Beberapa pemilih sudah menunggu sekitar 10-15 orang di luar area pemilihan. Saya cukup terkejut karena bila dibandingkan dengan Pilkada Kota Padang 4 bulan yang lalu, pada jam-jam seperti ini, tak ada satupun pemilih yang datang. Antusiasme sudah tampak. Secara psikologis kami khawatir karena timbul anggapan para pemilih yang sudah mengantri di luar area pemilihan adalah orang-orang yang mau cepat menunanaikan kewajiban “Civic” mereka. Setelah sumpah saya baca, anggota mengambil posisi masing-masing. Selanjutnya, saya persilahkan satu per satu pemilih (yang rata-rata ibu-ibu) untuk mengambil Kartu Suara dan seterusnya. “Silahkan bu, kartu suaranya di ambil. Kita sudah sediakan 4 bilik untuk mencontreng, saya jamin tidak akan ada antrian panjang”, kata saya. Namun yang terjadi adalah, hanya satu dua orang ibu-ibu tersebut ingin cepat mengambil kartu suara. Sedangkan yang lainnya, masih ingin duduk-duduk dan berdiskusi tentang Susilo Bambang Yudhoyono serta Partai Demokrat. Mereka bukan tim sukses. Tapi lamat-lamat saya dengar, mereka sedang “menyatukan visi” untuk memenangkan Partai Demokrat. Kekhawatiran akan panjangnya antrian, pudar. Hingga jam 11.00, tercatat hampir 188 orang yang telah memilih dari 241 DPT di kompleks saya. Ibu-ibu yang sejak pagi tadi “ngetem”, sudah pulang. Sebelum pulang, ada beberapa yang ketika keluar dari Bilik Suara bergumam, “awak mamiliah urang panyaba” – saya memilih orang penyabar. Secara teoritis, proses simplifikasi telah terjadi. Kaum ibu ini pasti mencoblos salah satu dari Calon Legislatif Partai Demokrat. Saya yakin mereka tidak kenal dengan calon-calon tersebut yang memang tidak pernah datang ke kompleks saya sebagaimana halnya calon-calon legislatif dari partai-partai lain seperti PKS, PAN, Golkar dan Gerindra. Mereka telah melakukan sebuah proses, mencontreng Calon Legislatif dari Partai Demokrat berarti Calon tersebut adalah orang yang “penyabar” sebagaimana halnya sang big bos “SBY”. Demokrat berkorelasi dengan anggapan penyabar. Padahal, saya tahu ada calon legislatif dari Demokrat tersebut yang “sedikit bermasalah” dan “sedikit penipu” serta “sedikit tidak pantas”. Menjelang ditutup jam 12.00 siang (sesuai dengan ketentuan KPU), datang pemilih ke-189. Perempuan yang sudah dekat dengan status nenek. Saya kenal, ia penjual sayur. Saya jamin, ia tidak melek politik, apatah lagi meng-update berita terkini seputar pemilu. Bisa jadi ia buta huruf. Ketika diberi kartu suara, sambil masuk menuju bilik suara, kelihatan ia bingung. Cukup lama ia berada di dalam bilik, padahal waktu pencontrengan sudah boleh dikatakan tutup. Ketika ia keluar, sambil berteriak, “pak, ma gambar partai SBY pak. Paniang den mancarinyao. Banyak bana gambar disiko. Tolong ciek lah, tusuk partai SBY tu?” (Pak, mana gambar Partai SBY, pusing saya mencari gambarnya). Semua yang hadir terpana.

Cerita 2 :

Ada caleg dari sebuah Partai Politik mapan datang ke tetangga kompleks saya. Bak sinterklas, ia membagi-bagikan uang. Acara lomba mancing hingga orgen tunggal diback upnya. Saya yakin, ia merasa bahwa suara masyarakat tetangga kompleks saya itu pasti untuknya. Karena masyarakat menyambutnya dengan ramah. Karena uangnya banyak dinikmati masyarakat. Karena ia menyelenggarakan orgen tunggal. Karena gambarnya begitu banyak. Karena masyarakat disana banyak yang ingin jadi bagian dari tim suksesnya. Karena, karena dan karena. Tapi apa nyana, ketika jam 14.00 WIB tanggal 9 April 2009, ia hanya memperoleh 4 suara (skor 1 = 1, caleg = pemilih. Sama-sama gombal). Di sisi lain, calon dari Partai Demokrat yang jangankan uang atau fisik, wajah mereka dalam bentuk baliho-pun tidak pernah “mengunjungi” kompleks tetangga saya itu. Tapi, ketika jam 14.00 WIB tanggal 9 April 2009, sang calon dari Partai Demokrat yang tidak pernah datang ini memperoleh 33 suara.

Mengapa Partai Demokrat begitu fenomanal ? Beberapa alasan yang memicu munculnya keheranan dan pertanyaan publik karena secara real politik, Partai Demokrat adalah partai yang cukup baru dalam konfigurasi perpolitikan nasional. Bahkan tercatat, partai Demokrat baru mulai ikut pemilu ketika pemilu 2004 yang ketika itu juga sekaligus mengusung SBY sebagai calon Presiden. Dalam posisi partai “yang masih” seumur jagung, maka menjadi spektakuler ketika hanya dalam keikutsertaan yang ke-dua dalam sebuah pemilu kemudian PD mampu menjadi jawara dengan hasil di atas 20%. Kemudian, selain faktor SBY sesunggguhnya kekuatan PD sebagai mesin politik nyaris tidak ada. Soal ideologi misalnya, tawaran Nasionalis Religius yang menjadi plat form PD sesungguhnya membuat PD berada dalam posisi yang tidak jelas. Artinya PD berusaha keluar dari mainstream aliran (ideology) politik yang sudah mencukup mengakar dalam belantika perpolitikan nasional, yakni Nasionalis, Santri (religious), Abangan (Marhaenisme). Artinya, di hadapan pemilih yang masih menimbang dan meyakini aliran politik, sesungguhnya PD bukan pilihan terbaik. Selanjutnya, bila kita berkaca dari hasil pemilu 2004, secara kuantitas PD hanya memperoleh 7% suara dibawah Partai Golkar, PDIP, PKB bahkan PPP. Dan secara substansi artikulasi politik, para legislator PD juga bukan sosok politisi ulung dan terampil yang memiliki kemampuan lobby politik yang brilian. Terbukti banyak kebijakan pemerintah yang tidak mampu dikomunikasikan secara baik kepada oposisi bahkan dengan sesama partai koalisi yang ada di parlemen. Dalam posisi suara yang terbatas dan keterampilan komunikasi politik yang juga terbatas, maka nyaris mustahil memenangkan sebuah pemilu dengan angka telak.

Keheranan dan surprise publik atas prestasi PD pada pemilu 2009 ini begitu mudah dijawab, bahwa semuanya karena PD memiliki sosok Susilo Bambang Yudhoyono. Inilah faktor yang maha menentukan di balik kesuksesan Partai Demokrat. Bahkan begitu kuatnya faktor figur SBY dalam mengantar kemenangan PD membuat para elit dan pengurus PD tidak memiliki argumentasi untuk menjelaskan faktor kemenangan PD selain faktor figur SBY. Meskipun ada faktor money politik yang konon dilakukan PD ketika kampanye misalnya, namun saya tidak masukkan faktor ini, karena nyaris semua parpol melakukan hal yang sama. Yang jelas faktor SBY ini terdefinisikan dalam beberapa hal :

Pertama, bahwa 20% pemilih yang menentukan pilihannya ke PD adalah memilih pesan bahwa, mereka tetap menghendaki SBY sebagai presiden mereka untuk periode yang akan datang. Pemilih 20% itu adalah sesungguhnya bukan voters PD yang sejati, loyalis yang mengerti betul tentang platform dan visi misi PD sebagai partai politik. Namun mereka adalah voters yang merasa nyaman dengan gaya dan hasil kepemimpinan SBY sebagai presiden RI bukan SBY sebagai Ketua Pembina Partai Demokrat. Artinya, PD hanya merupakan imbas dari kharisma figure SBY. Analogi Sarkatisnya adalah partai sekecil apapun (Misalnya Partai yang saat ini memperoleh 0…%), ketika Ketua partai tersebut adalah SBY, maka niscaya Parpol Kecil itu akan memenangkan Pemilu 2009 kali ini. Artinya ideology dan mesin politik PD seperti apapun kondisinya tidak memiliki kekuatan apa-apa ketika dibandingkan dengan figur SBY.

Kedua, bahwa citra, figur dan kharisma dari seorang SBY beserta kebijakan-kebijakan SBY di pemerintahan adalah sesuatu yang berbeda dengan hasil-hasil kerja politik PD sebagai partai politik. Sebagai efek dari koalisi kabinet yang multi partai, maka kebijakan-kebijakan SBY adalah jelas bukan kebijakan PD. Sehingga turunnya harga BBM, program PNPM, program Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah bukan kerja PD yang secara jelas dipahami publik adalah bukan manifestasi dari ideologi, visi, misi dan program kerja PD sebagai parpol yang bertanggung jawab terhadap konstituennya. Ketika seorang menerima BLT, maka yang tersimpulkan adalah uang 200 ribu ini dari SBY bukan dari PD. Inilah corak parpol yang gagal mengharmonisasi kekuatan figur parpol dalam mesin politik parpol untuk direfleksikan atau dikomunikasikan sebagai kerja politik untuk meraih dukungan bersama. Yang terjadi adalah simplisitas hasil kerja figur seolah menjadi hasil kerja parpol melalui media dan iklan secara bombastis dan cenderung manipulatip. Akhirnya pun publik tetap yakin bahwa semuanya itu adalah kerja figur SBY.

Ketiga, kemenangan figur ala SBY akhirnya semakin menjelaskan “rasionalitas” pemilih saat ini. Rasionalitas pemilih Indonesia adalah proses delegitimasi atas eksistensi sebuah parpol sebagai media artikulasi dan rekruitmen pemimpin politik. Kemenangan figur yang disistematisasi secara baik oleh PD mempertegas bahwa kekuatan figur lebih efektif daripada kekuatan mesin politik. Kondisi ini jauh hari sudah disadari dan diantisipasi oleh elit PD dengan mendorong keluarnya PerPu oleh SBY yang membolehkan pemilih mencontreng nama partai atau mencontereng nama caleg. Dengan situasi ini, maka pemilih yang lebih condong ke figur SBY tidak mau ambil pusing dengan identitas para caleg PD yang memang cenderung tidak mengakar dan cukup mencontreng gambar PD untuk SBY for Presiden. Meskipun tidak semua, namun sebagian besar konstruksi parpol saat ini masih dikendalikan figur. Sebutlah misalnya PDI-P yang masih memasang figur Megawati untuk menjaga soliditas partai. Juga fenomena ambruknya suara PKB pasca ditinggal oleh Gus Dur juga semakin mempertegas budaya politik figur ini. Proses kooptasi parpol oleh kekuatan figure mendapat legitimasi oleh putusan MK yang menghendaki kemenangan caleg melalui mekanisme suara terbanyak. Pada akhirnya parpol semakin tidak berdaulat.

Keempat, penjelasan lain atas kemenangan SBY adalah PD harus siap-siap menelan kekalahan pada pemilu 2014 apabila lima tahun ke depan hanya mengandalkan kekuatan kharisma SBY. Apabila mesin politik atau struktur PD masih belum tertata dan tidak terkonsolidasi dengan baik, maka kemenangan 2009 ini akan sekedar menjadi memori indah. Setidaknya ada 2 alasan kekalahan akan menghampiri PD tahun 2014, pertama, karena pemilih bahkan pengurus PD bukan voters ideologis dan loyalis (bandingkan dengan pemilih partai Golkar dan PDIP) maka sangat terbuka para pemilih PD akan berpindah ke partai lain. Kedua, kalau PD masih mengandalkan politik figur, maka tantangannya adalah PD mesti menyiapkan dan menghadirkan sosok yang memiliki daya pikat sekelas SBY dan sepertinya pasca SBY, PD belum bisa melahirkan sosok itu. Sehingga apabila PD masih akan menang di tahun 2014 maka pilihannya adalah konsolidasi dan soliditas partai. Akhirnya, kemenangan PD di 2009 ini semakin menambah referensi dinamika perpolitikan bangsa ini, bahwa akan banyak fenomena politik yang tak terduga yang semoga memberi inspirasi dalam menggapai wajah politik yang berwibawa dan beradab.

Rabu, 08 April 2009

Dari "Say No To Mega"

Oleh : Muhammad Ilham

Dunia Cyber telah menjadi instrumen kunci dalam sosialisasi politik. Sesuatu yang tidak bisa dihindari adalah, dunia cyber merupakan dunia dimana setiap orang mampu untuk berimprovisasi tanpa ada sekat dan hambatan “editing” ataupun “breidel”. Dunia politik di Amerika dan Malaysia telah terbukti sukses dalam menjaring suara lewat komunitas blogger dan pengguna internet. Dengan berbagai fasilitas dan dinamika blog, komunitas blogger bakal menjadi mitra penting bagi praktisi politik. Barrack Obama ataupun Tony Pua Kiam Wee, politisi Malaysia adalah segelintir contoh politisi yang berhasil mendapatkan kursi di parlemen dengan mengandalkan kampanye di media blog. Melalui dunia blog pula, misalnya, dunia politik di Malaysia terkesan lebih “hidup” dibandingkan dengan Indonesia. Hidup dalam artian “mobilitas pendapat masyarakat yang bebas” via dunia cyber. Bila dalam tatanan kebijakan politik real-nya, lain cerita. Indonesia jauh lebih rasional dan demokratis. Bila kita buka blog “malaysiatoday”, terlihat sumpah serapah publik Malaysia kepada para pemimpinnya (khususnya dari kalangan UMNO). Blog yang dipimpin oleh Raja Petra Kamaruzzaman (biasa disebut dengan panggilan popular RPK), blog ini telah membuat pusing elit politik Malaysia. Kehadiran blog ini, juga telah mampu mengangkat popularitas Partai Pembangkang (baca: oposisi) dibandingkan masa-masa sebelumnya ketika dunia cyber belum familiar dalam khazanah instrumen politik Malaysia.

Disamping blog, Face Book, yang juga menjadi salah satu instrumen dunia cyber tersebut, telah mampu memberikan alternatif lain untuk melakukan sosialisasi politik yang produktif, walaupun hanya untuk “kelas tertentu”. Namun, dalam perspektif Durkhemian, perkembangan penggunaan Face Book berkorelasi futuristik dengan perkembangan masyarakat. Artinya, untuk ke depan, penggunaan Face Book menjadi sesuatu yang lumrah bahkan cenderung menjadi pilihan yang lebih rasional-efisien. Face Book yang dikenal sebagai ajang perkenalan, menjelang pemilu legislatif yang tersisa 3 hari ternyata akhirnya menjadi ajang perseteruan politik juga. Kalau kita buka Face Book, ternyata ada aksi yang sangat mengejutkan, terdapat sebuah komunitas yang menamakan dirinya “Say ‘No!!!’ to Megawati.” Tadi malam penulis melihat yang tercatat sebagai suporter berkisar sekitar 51.000-an, tapi pada pagi ini tercatat jumlahnya sudah mencapai 60.514 orang dan terus naik, tercatat 1,886 More Members, 10 Board Topics, 501 Wall Posts.

Fenomena Face Book beberapa waktu terakhir ini telah membius dan membuat banyak orang menjadi demikian terpengaruh, bahkan sangat dikenal istilah “autis” bagi penggila face book, sibuk dengan PC ataupun Black Berry-nya masing-masing. Memang ada kesan kita mencontoh pilpres di Amerika, dimana Obama juga menjadi member dan memanfaatkan pertemanan di internet seperti Face Book ini sebagai salah satu ajang saat kampanye. Para politisi dan beberapa capres kita juga melakukan hal yang sama dengan membuka account di Face Book dan menawarkan pertemanan agar kenalannya menjadi pendukungnya. Tercatat Prabowo Subianto , Yuddy Chrisnandi, Akbar Tanjung, Marwah Daud juga mejadi anggota pertemanan di Face Book. Kembali kepada Say “No!!!” To Mega, pada profile Say No itu dipasangi foto Megawati yang dipasangi tanduk, yang merupakan rekayasa digital. Tidak jelas benar siapa yang membuat acount tersebut, tercatat demikian banyaknya nama-nama admin merupakan gabungan orang Indonesia baik didalam maupun diluar negeri. Sebagaimana sistem terbuka pada face book, para suporter jelas mencantumkan foto dan namanya masing-masing, walau beberapa menggunakan foto samaran. Komentar sangat beragam, tetapi pada umumnya menyatakan ketidak setujuannya Mega menjadi Capres.

Kader PDIP Effendy Simbolon menyatakan “Ini melanggar Undang-Undang ITE (Informasi Teknologi). Bisa masuk pada tindak pidana.” Menurut Effendy kelompok seperti ini bisa dikategorikan memfitnah dan membuat kampanye negatif untuk Megawati. PDIP tidak akan melarang apalagi melakukan kampanye hitam tandingan untuk menghalau gerakan ini. “Terserah mereka kalau memang mau menzalimi Mega. PDIP punya prinsip untuk tetap menggunakan cara kampanye yang sesuai aturan,” kata Effendy. Anggota Bawaslu Bambang Eka Cahyono menyatakan, katagorinya bisa saja black campaign. Tapi dia bingung bagaimana menegur atau menindak komunitas jaringan internet ini. “Kita tidak tahu yang membuat siapa” katanya. Eka menyarankan Mega melaporkan ke Bawaslu, nanti akan dilaporkan ke Depkominfo yang bisa menindak lanjuti.

Melihat beberapa fakta tersebut, ternyata memang ajang internet selain bisa digunakan sebagai sarana kampanye, bisa juga dipergunakan sebagai sarana penyerangan. Pada Say No, yang jelas terserang adalah citra dari capres Megawati. Admin hanya melontarkan sebuah ide dan muatan, kemudian para penggila face book langsung bereaksi. Reaksi yang muncul beragam, mulai dari mengkritik, menyarankan, bahkan ada yang menghina. Tidak main-main para suporter dengan cepat bertambah, hanya beberapa jam saja jumlahnya bisa naik hingga diatas 10.000 orang. Pertanyaannya ada apa ini?. Bagi para elit PDIP, harus segera mensikapi fenomena yang terjadi, sulit untuk mengatasi kegiatan semacam ini didunia maya, merekapun mengatakan silahkan kalau mau menuntut, nanti penjara penuh.

Terlepas dari ulah para admin Say No, baik itu iseng ataupun memang pesanan, ada satu hal yang sangat penting diperhatikan dan dipelajari lebih jauh oleh PDIP, para suporter adalah pengguna internet yang dapat dikatagorikan kelompok yang cukup terpelajar. Dari komentar yang masuk, sementara ini terlihat munculnya sebuah “resistensi” terhadap Megawati dari kelompok terpelajar, tidak hanya dari kaum pria tetapi banyak juga dari kaum wanitanya. Nah ini yang menjadi “point” penting bagi PDIP untuk dipelajari. Apabila serangan dibiarkan, maka kelompok ini akan berubah menjadi sebuah bola salju yang akan sulit dikendalikan oleh PDIP, jelas akan banyak mempengaruhi anggota face book lainnya. Selesaikan masalah ini dengan arif, jangan balik menyerang mereka, karena komunitas netters bergerak secepat angin, tanpa batas ruang dan waktu. Kearifan merupakan salah satu yang diserang oleh warga negara Face Book, kalau boleh disebut demikian.

Insert : Foto diambil dari Face Book "Say No To Mega" (Gambar bukan merupakan pendapat pribadi penulis)

Kamis, 02 April 2009

Diskusi "fresh" dengan Prof. C.W. Watson

Fakultas Adab mendapat kunjungan Prof. C.W. Watson, Emeritus Professor of Social Anthropology and Multi-cultural Studies, Head of Department and Convenor of the BA in Social Anthropology pada Kent University, United Kingdom. Professor yang biasa dipanggil "Bill" ini, berkesempatan memberikan kuliah umum tentang :"Analisis Autobiografi untuk penulisan Sastra dan Sejarah". Dengan suguhan kuliah yang sangat menarik, energik bahkan terkesan Talk Show, paparan Prof. Bill sungguh mendapat sambutan luar biasa dari kalangan dosen dan mahasiswa. Kuliah umum dimulai pukul 10.00 WIB hingga azan Zuhur ini, dihadiri sekitar 150 orang mahasiswa dan dosen (bahkan banyak yang berdiri di luar aula). Di awal kuliah, Prof Bill lebih lanjut mengatakan most of my research relates to Indonesia and Malaysia. I have lived in both countries for several years and speak the language of the countries fluently. Among the subjects in which I have an especial interest are: multiculturalism, the practice and politics of Islam in South-East Asia, perceptions of gender, local village politics and textual criticism. I also have a long-standing interest in the relationship between anthropology and literature and have written extensively on Malay and Indonesian novels.

Dengan dipandu oleh Muhammad Ilham (dosen Sejarah dan Kebudayaan Islam), paparan Professor yang menghabiskan waktu produktifnya untuk meneliti "komunitas Kerinci" (melahirkan sebuah buku : "Naskah Undang-Undang Tanah di Kerinci") bahkan beristrikan orang Kerinci ini, Professor Bill memberikan sesuatu yang "baru" dan "fresh" tentang pendekatan autobiografi dalam penelitian sejarah dan sastra. Dengan mengambil beberapa kasus autobiografi dalam penulisan sejarah dan sastra Islam Nusantara, Professor Bill ingin menekankan bahwa unsur subjektifitas dalam penulisan autobiografi justru menjadi sesuatu yang diharuskan sehingga autobiografi tersebut menjadi menarik. Pertanyaan yang justru timbul adalah bisakah autobiografi yang subjektif itu jadi data dalam penelitian ? Bill mengatakan, "justru dalam autobiografi tersebut akan terefleksi kejujuran seorang "Aku" dalam menulis riwayat hidupnya". Prof. Bill dalam khazanah keilmuan Indonesia, dikenal sebagai penulis sekaligus peneliti buku yang sering dijadikan rujukan dalam tradisi ilmu sosial (khususnya Sastra dan Antropologi) yaitu buku Being There : Fieldwork in Anthropolgy , Of Self and Injustice dan Of Self and Nation

Of Self and Nation: Autobiography and the Representation of Modern Indonesia. This valuable set of eight essays on twentieth century Indonesian literature and social thought has a precise aim: to chart out the cultural space where the autobiographical self and the Indonesian nationalist imagination have intersected and mutually shaped each other, rhetorically and politically, over the period framed by the publication of Raden Ajeng Kartini's colonial-era, Dutch language epistolary memoir From Darkness to Light (1912) and the Indonesian language, New Order-era collection Mencari Islam (Looking for Islam, 1990). This more recent volume was comprised of a series of personal histories by young Muslim writers, born in the 1960s, who authored lives deeply shaped by the Soeharto regime's heavy-handed religion and patriotic culture policies. Along the way, while covering this eighty-year span of time, anthropologist and student of literature C. W. Watson considers a mix of famous and lesser-known autobiographies, taking each as a text actively caught up in large social processes of Indonesian nationalism and narration. After his chapter on Kartini's letters (written to a Dutch acquaintance, and not so much about Indonesia per se as


Rabu, 01 April 2009

Dialektika Aktor Sejarah Minangkabau

Oleh : Muhammad Ilham

Tan Malaka adalah “flamboyan-miskin” yang sangat rasional. Bacalah “Magnum Opumnya” Madilog. Tan Malaka bukan seorang dogmatis sebagaimana Stalinis. Dia berpikir menurut dialektika. Ketika Stalin mendakwa kesatuan Islam (Pan-Islamisme) dan Khalifah sebagai bentuk kolonialisme, Tan Malaka membantahnya. Baginya, kesatuan Islam tidaklah harus berada di Asia Barat saja, Pan-Islamisme haruslah dibangun di setiap negeri muslim. Islam, kata Tan Malaka, telah mengajarkan sosialisme dan antipenjajahan dua belas abad sebelum Karl Marx lahir. Karena itulah Pan-Islamisme harus membebaskan rakyat muslim terjajah di mana pun. Pandangan semacam ini yang kemudian menarik kaum terdidik di Minangkabau pada awal abad ke-20. Pusat kaum pelajar di Sumatera Barat pada masa itu berada di Padang Panjang (Diniyah dan Sumatera Thawalib), Bukittinggi (Parabek Sumatera Thawalib), Padang (Adabiyah Islamic School), dan sekolah sekuler Kweekschool di Ford de Kock (Bukittingggi).

Penyebab utama tumbuhnya cikal-bakal pergerakan modern kaum muda di Minangkabau adalah dibangunnya Sekolah Guru di Bukittinggi, sebagai akibat politik etis Belanda pada awal abad ke-20. Penyebab lainnya ialah kembalinya pelajar-pelajar Minang berpendidikan Kairo dan Mekah, yang mendorong berdirinya lembaga pendidikan agama secara swadaya dan berakibat tumbuhnya pemikiran baru di kalangan generasi muda Islam. Pengaruhnya sangat terasa pada dua gelombang kedatangan alumni Kairo dan Mekah, seperti Syekh Ahmad Wahab, Syekh Ahmad Chatib, Syekh Taher Djalaluddin, Syekh Karim Amrullah, Syekh Djamil Djambek, Syekh Ibrahim Musa Parabek, dan generasi alumni Mekah yang lebih keras, Haji Datuk Batuah, Mukhtar Lufti, dan Ilyas Jacob (Tentang Biografi beberapa nama ulama ini : lihat Link-Personal Blog/Ulama Minangkabau : Personal Research)

Gelombang pertama kedatangan alumni Timur Tengah sebenarnya terjadi hampir satu abad sebelumnya, yaitu pra-Perang Bonjol (1820-an). Mereka adalah Tuanku Nan Renceh, Haji Miskin, Tuanku Piobang, Tuanku Pamasiangan—tokoh-tokoh pergerakan di belakang Tuanku Imam Bonjol. Modernisasi pemikiran Islam (ada yang menyebutnya sekularisme) yang dikemukakan Muhammad Abduh dan Kemal Ataturk lebih melekat pada generasi terakhir pada awal abad ke-20 itu. Pada masa yang bersamaan berkembang pula di Jawa dan Sumatera gagasan antipenjajahan. Kemajuan pendidikan di Minangkabau—yang disebut sebagai salah satu suku yang tertinggi tingkat pendidikannya di Hindia Belanda (Kahin 2005, Poeze 1988, dan Naim 1979)—sebagai faktor kuatnya gerakan antipenjajahan dibanding daerah lain. Kahin menulis, ”Orang Minangkabau sebagai orang-orang yang gelisah, dengan tradisi pemberontakan dan perlawanan yang panjang. Selalu merasa bangga dengan perlawanan mereka terhadap kekuatan luar, baik yang dari Jawa maupun dari Eropa.” Kaum pergerakan kiri di Sumatera Barat selalu mengingatkan Perang Paderi (1820-1837) dan Perang Belasting 1908 (yang menentang pemberlakuan pajak langsung kepada rakyat), untuk menumbuhkan rasa tidak puas kepada pemerintah Hindia Belanda.

Gerakan kiri—diterjemahkan sebagai perlawanan terhadap kuasa, perlawanan rakyat, radikalisme, antikemapanan, komunisme, antipenjajahan—bukan hanya milik Tan Malaka. Ia menjadi subur dan berkembang di Minangkabau karena masyarakatnya menganut paham kesetaraan, kesamaan derajat, hak dan tanggung jawab (egaliter) sebagai wujud demokrasi Nagari. Banyak tokoh nasional yang lahir dari alam Minangkabau, sejak prakemerdekaan sampai pascakemerdekaan, terutama hingga era demokrasi liberal (1959). Pada penelitian saya yang bertajuk Tan Malaka, Gerakan Kiri Minangkabau di Indonesia, Malaysia dan Singapura (Ombak, 2007), dapat dibuktikan bahwa pejuang kemerdekaan Malaya (Malaysia) sebagian besar (21 orang) adalah keturunan dan pendatang dari Minangkabau. Mereka pendiri dan pimpinan Partai Kesatuan Melayu Malaya dan Partai Komunis Malaya. Di antaranya ialah Ibrahim Jaacob, Ahmad Boestaman, Abdullah C.D., Rashid Maidin, Shamsiah Fakeh, dan Khatijah Sidek. Mereka bukan berada di UMNO, partai kanan. Dari segala kepeloporan tersebut para pejuang kiri Minangkabau dapat dikategorikan beraliran: Islam-komunis, Islam-nasionalis, sosialis- demokrat, nasionalis kiri, dan komunis. Kecenderungan gerakan kiri kaum muda Minangkabau tidak lain karena pembekalan alam Minangkabau itu sendiri: demokrasi, egaliter, kemajuan pendidikan, dan aktualisasi merantau. Roger Tol atau Harry Poeze mungkin mendapat jawaban—negeri yang subur dan permai itu sebenarnya melahirkan pemimpin rakyat.

Islam Menyentuh Mesir

Oleh : Muhammad Ilham

Islam menyentuh wilayah Mesir pada 628 Masehi. Ketika itu Rasulullah mengirim surat pada Gubernur Mukaukis - yang berada di bawah kekuasaan Romawi-mengajak masuk Islam. Rasul bahkan menikahi gadis Mesir, Maria. Pada 639 Masehi, ketika Islam di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, 3000 pasukan Amru bin Ash memasuki Mesir dan kemudian diperkuat pasukan Zubair bin Awwam berkekuatan 4000 orang. Mukaukis didukung gereja Kopti menandatangani perjanjian damai. Sejak itu, Mesir menjadi wilayah kekuasaan pihak Islam. Di masa kekuasaan Keluarga Umayah, dan kemudian Abbasiyah, Mesir menjadi salah satu provinsi seperti semula. Mesir baru menjadi pusat kekuasaan -dan juga peradaban Muslim-baru pada akhir Abad 10. Muiz Lidinillah membelot dari kekuasaan Abbasiyah di Baghdad, untuk membangun kekhalifahan sendiri yang berpaham Syi'ah. Ia menamai kekhalifahan itu Fathimiah -dari nama putri Rasul yang menurunkan para pemimpin Syi'ah, Fatimah. Pada masa kekuasaannya (953-975), Muiz menugasi panglima perangnya, Jawhar al-Siqili, untuk membangun ibu kota. Di dataran tepi Sungai Nil itu kota Kairo dibangun. Khalifah Muiz membangun Masjid Besar Al-Azhar (dari "Al-Zahra", nama panggilan Fatimah) yang dirampungkan pada 17 Ramadhan 359 Hijriah, 970 Masehi. Inilah yang kemudian bekembang menjadi Universitas Al-Azhar sekarang, yang juga merupakan universitas tertua di dunia saat ini. Muiz dan para penggantinya, Aziz Billah (975-996) dan Hakim Biamrillah (996-1021) sangat tertarik pada ilmu pengetahuan.

Peradaban berkembang pesat. Kecemerlangan kota Kairo -baik dalam fisik maupun kehidupn sosialnya-mulai menyaingi Baghdad. Khalifah Hakim juga mendirikan pusat ilmu Bait al-Hikam yang mengoleksi ribuan buku sebagaimana di Baghdad. Di masa tersebut, Ibnu Yunus (wafat 1009) menemukan sistem pendulum pengukur waktu yang menjadi dasar arloji mekanik saat ini. Lalu Hasan ibn Haitham menemukan penjelasan fenomena "melihat". Sebelum itu, orang-orang meyakini bahwa orang dapat melihat sesuatu karena adanya pancaran sinar dari mata menuju obyek yang dilihat. Ibnu Haytham menemukan bahwa pancaran sinar itu bukanlah dari mata ke benda tersebut, melainkan sebaliknya. Dari benda ke mata. Gangguan politik terus-menerus dari wilayah sekitarnya menjadikan wibawa Fathimiyah merosot. Pada 564 Hijriah atau 1167 Masehi, Salahuddin Al-Ayyubi mengambil alih kekuasaan Fathimiyah. Tokoh Kurdi yang juga pahlawan Perang Salib tersebut membangun Dinasti Ayyubiyah, yang berdiri disamping Abbasiyah di Baghdad yang semakin lemah. Salahuddin tidak menghancurkan Kairo yang dibangun Fathimiyah. Ia malah melanjutkannya sama antusiasnya. Ia hanya mengubah paham keagamaan negara dari Syiah menjadi Sunni. Sekolah, masjid, rumah sakit, sarana rehabilitasi penderita sakit jiwa, dan banyak fasilitas sosial lainnya dibangun.

Pada 1250 -delapan tahun sebelum Baghdad diratakan dengan tanah oleh Hulagu-kekuasaan diambil alih oleh kalangan keturunan Turki, pegawai Istana keturunan para budak (Mamluk). Di Istana, saat itu terjadi persaingan antara militer asal Turki dan Kurdi. Sultan yang baru naik, Turansyah, dianggap terlalu dekat Kurdi. Tokoh militer Turki, Aybak bersekongkol dengan ibu tiri Turansyah, Syajarah. Turansyah dibunuh. Aybak dan Syajarah menikah. Namun Aybak juga membunuh Syajarah, dan kemudian Musa, keturunan Ayyubiyah, yang sempat diangkatnya. Di saat Aybak menyebar teror itu, tokoh berpengaruh Mamluk bernama Baybars mengasingkan diri ke Syria. Ia baru balik ke Mesir, setelah Aybak wafat dan Ali -anak Aybak-mengundurkan diri untuk digantikan Qutuz. Qutuz dan Baibars bertempur bersama untuk menahan laju penghancuran total oleh pasukan Hulagu. Di Ain Jalut, Palestina, pada 13 September 1260 mereka berhasil mengalahkan pasukan Mongol itu. Baybars (1260-1277) yang dianggap menjadi peletak pondasi Dinasti Mamluk yang sesungguhnya. Ia mengangkat keturunan Abbasiyah -yang telah dihancurkan Hulagu di Baghdad-untuk menjadi khalifah. Ia merenovasi masjid dan universitas Al-Azhar. Kairo dijadikannya sebagai pusat peradaban dunia. Ibnu Batutah yang berkunjung ke Mesir sekitar 1326 tak henti mengagumi Kairo yang waktu itu berpenduduk sekitar 500-600 ribu jiwa atau 15 kali lebih banyak dibanding London di saat yang sama. Ibnu Batutah tak hanya mengagumi 'rihlah', tempat studi keagamaan yang ada hampir di setiap masjid. Ia terpesona pada pusat layanan kesehatan yang sangat rapi dan "gratis".

Sedangkan Ibnu Khaldun menyebut: "mengenai dinasti-dinasti di zaman kita, yang paling besar adalah orang-orang Turki yang ada di Mesir." Pusat peradaban ini nyaris hancur di saat petualang barbar Timur Lenk melakukan invasi ke Barat. Namun Sultan Barquq berhasil menahan laju pasukan Mongol tersebut. Dengan demikian Mamluk merupakan pusat kekuasaan yang duakali mampu mengalahkan tentara Mongol. Pada ujung abad 15, perekonomian di Mesir menurun. Para pedagang Eropa melalui Laut Tengah tak lagi harus tergantung pada Mesir untuk dapat berdagang ke Asia. Pada 1498, mereka "menemukan" Tanjung Harapan di Afrika Selatan sebagai pintu perdagangan laut ke Asia. Pada 1517, Kesultanan Usmani di Turki menyerbu Kairo dan mengakhiri sejarah 47 sultan di Dinasti Mamluk tersebut.

Senin, 30 Maret 2009

Teori Revolusi Mao Ze Dong : "Desa Mengepung Kota"

Oleh : Muhammad Ilham

Bukalah kembali buku sejarah, pada fase jelang 1965, kosa kata atawa jargon yang sangat familiar dipakai dalam pentas politik kala itu adalah (salah satunya) “Desa Mengepung Kota (DMK)”. Diantara banyak jargon kala itu (Soekarno adalah “master” jargon), jargon revolusi DMK adalah jargon yang selalu dihembuskan oleh PKI. DMK ibarat teori Perang-nya Sun Tzun. DMK identik dengan komunisme, tapi DMK bukanlah jargon produk “mbahnya” Komunis – Karl Marx” atau "Putra Mahkota Marx" Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin. Teori "desa mengepung kota" sebenarnya tidak ada hubungannya dengan penyebaran komunisme sebagai suatu ideologi atau sistem politik. Kalau kita tempatkan pada kompleksitas wacana Mao, teori itu merupakan "prinsip militer" (military principle) untuk memenangkan medan laga. Itu dilakukan oleh suatu satuan kekuatan yang lebih lemah melawan satuan-satuan kekuatan yang lebih kuat. Prinsip yang sama dapat dilakukan oleh satuan gerilya di mana pun, tanpa harus mengaitkannya dengan ideologi komunis atau non-komunis. Keberhasilan partisan Perancis dan Itali melawan Hitler pada masa Perang Dunia II, dan sebaliknya kegagalan partisan Polandia, adalah contoh lain penerapan teori desa mengepung kota. Istilah lain yang sering digunakan adalah focoisme, Castroisme dan fidelismo. DMK murni produk dari Mao Ze Dong. Who is He ?

Harus diakui, Mao Zedong memang merupakan fenomena penting dalam perkembangan teori revolusi. Pemikiran-pemikirannya merupakan alternatif bagi revolusi model Soviet yang bertumpu pada kekuatan dan kepemimpinan kaum buruh. Seperti halnya Vladimir Lenin, Mao memang merupakan bagian kecil dari sedikit teoritisi dan sekaligus praktisi revolusi sosialis. Ia mampu mengangkat latar belakang sosial ekonomi dan kultural untuk mendukung obsesi revolusioner. Mao belajar banyak dari Lenin. Mao percaya bahwa partai yang disiplin, kohesif dan didukung struktur kepemimpinan yang hierarkis merupakan syarat berhasilnya revolusi sosialis. Peranan kader partai sebagai penggerak mobilisasi massa menjadi faktor penting. Dalam pandangan Mao, kegagalan revolusi petani Taiping dan Nien adalah karena tidak adanya ideologi yang sistematik yang memberi pengarahan pada apa yang seharusnya dilakukan oleh para petani.

Namun berbeda dengan Lenin, Mao telah menjadi revolusioner jauh sebelum menjadi seseorang yang meneguk Marxisme. Sebab itu, ia bukanlah teoritisi yang konservatif dalam menafsirkan ajaran Marxisme, bahkan ia memberi kesan sangat anti-dogmatis. Ia sengaja menafsirkan proletariat dari padananya dalam bahasa Cina, wu-chan chieh-chi (lapiasan sosial yang hanya memiliki sedikit harta), dan sampai pada kesimpulan bahwa petani dapat menjadi kekuatan revolusioner. Sebelum berhasilnya revolusi Cina, kaum Marxis memandang rendah pada potensi kaum tani sebagai penyanggah utama revolusi. Gagasan-gagasan dan politik Mao bukan saja mengawali pertikaian Sino-Soviet selama lebih dari tigapuluh tahun, tetapi juga memberikan harapan baru di beberapa negara berkembang.

Satu hal yang mungkin menyebabkan Mao "lebih besar" dari Lenin adalah gagasannya mengenai "perang gerilya". Teori desa mengepung kota yang dikemukakan tahun 1927 mempunyai banyak penganut. Che Guevara dan Fidel Castro, dalam Revolusi Kuba pada penghujung 1950-an, serta Regis Debray di Aljazair menggunakan teori yang sama. Di Indonesia, Dipa Nusantara Aidit mencoba menerapkan dan memperkaya teorinya di awal dasawarsa 1960-an. Dengan beberapa modifikasi, apa pun namanya, prinsipnya serupa, yaitu menciptakan kekacauan di desa-desa kecil untuk pada akhirnya menumbangkan kekuasaan pusat. Castro dan Che Guevera baru saja melumpuhkan pemerintahan Batista di Havana setelah menguasai Sierra Maestra dan Santiago. Seperti terlihat dalam Resolusi 5 Oktober 1928, Mao mengakui bahwa Cina adalah kasus tersendiri. Ia mengatakan bahwa desa mengepung kota hanya dapat dilakukan di suatu negara yang secara ekonomi terbelakang dan berada di bawah pemerintahan tidak langsung (indirect rule) penguasa kolonial atau rezim yang sedang mengalami fragmentasi elit. Tulisan-tulisan Mao tahun 1926-1927 disunting kembali dengan menambahkan semangat ideologi. Mulai muncul istilah-istilah "di bawah kepemimpinan partai komunis". Untuk pertama kalinya Mao mengakui peranan pemberontakan Taiping sebagai inspirasi teori Mao. Namun pada saat yang sama, ia juga menghapus fakta sejarah, misalnya mengganti istilah "berjuang karena upah" dengan "berjuang karena kesadaran". Semua itu barangkali merupakan keinginan Mao untuk menggunakan revolusi Cina sebagai model revolusi sosialis di negara-negara berkembang, selain untuk mendapat tempat tersendiri dalam sejarah Cina.

Tentu saja ada beberapa kontribusi Mao, dan kemudian Lin Bao, pada teori perang gerilya. Menurut Mao, ada tiga syarat yang diperlukan agar "kepungan" itu berhasil. Pertama, pelaksanaan teori itu memerlukan basis geografis yang aman. Jika tidak, pasukan inti dan kader bersenjata tidak akan dapat mengangkat kekacauan itu menjadi sesuatu yang lebih besar. Usaha Mao untuk mengorganisir revolusi dalam dasawarsa 1930-an gagal karena basis gerakannya, Kiangshi (di lembah Yangtze), tidak aman dari pukulan-pukulan pasukan Chiang Kaishek. Mao terpaksa memindahkan markas Partai Komunis Cina dari Kiangshi. Secara militer, perjuangan Mao baru berhasil setelah melakukan long march ke Shensi yang dilindungi oleh perbukitan sulit Mongolia Utara yang berada di bawah kekuasaan Uni Soviet. Hijrah yang menempuh jarak ratusan kilometer itu bukan hanya mampu mengundang simpati rakyat. Tetapi juga memancangkan Mao sebagai praktisi revolusi terbesar abad 20.

Kedua, teori desa mengepung kota hanya dapat terjadi di negara yang besar dan dengan jaringan komunikasi yang buruk. Mao berulangkali menekankan faktor ini dalam tulisan-tulisannya. Ia mengakui bahwa dalam sebuah negara yang kecil, atau di suatu negara yang memiliki jaringan komunikasi yang baik sehingga pemerintah dengan mudah dapat melakukan mobilisasi kekuatan, strateginya menjadi tidak efektif. Karena menguasai dengan baik medan lokal, termasuk memperoleh dukungan luas dari masyarakat setempat, komunikasi yang buruk akan membendung penetrasi pihak penguasa. Ketiga, yang tampaknya merupakan sumbangan terbesar Mao, keberhasilangerilya mengepung kota memerlukan ideologi yang sistematik. Di sini Mao memperoleh inspirasi yang kuat dari Lenin dan sekaligusmengawinkannya dengan sejarah Cina. Penting adalah kepemimpinan Partaiyang mampu membangkitkan kesadaran dan memimpin ke mana rakyat harus menuju perjuangannya. Tanpa ideologi, kekecewaan masyarakat hanya akanmuncul dalam bentuk goyangan-goyangan spontan, sporadis dan tidakberjangka lama. Mao sendiri merujuk pada pemberontakan petani Taipingdan Nien (1850-1866) sebagai contoh revolusi petani yang gagal.

Kombinasi antara ketiga persyaratan itu membuahkan teori besar yang ternyata sangat ampuh, seperti kemudian terlihat dari keberhasilan Mao mengalahkan Chiang Kai-shek dan penjajah Jepang. Maois percaya bahwa kader partai dapat mengawali terjadinya perang gerilya. Sekalipun demikian, keberhasilan mereka sangat tergantung pada kemampuan mereka memperoleh dukungan masyarakat. Komunis Spanyol mampu bertahan untuk beberapa tahun di Aragon (1945) tetapi mereka tidak mampu bertahan lebih lama karena tidak memperoleh dukungan yang meluas. Di Aljazair, Regis Debray gagal memetik kemenangan yang berarti. Kegagalan yang sama dialami oleh gerilyawan Kikuyu (Kenya) dan Cina (Malaya). Sebagai bagian dari perang gerilya, pilar penting dari desa mengepung kota adalah dukungan masyarakat setempat. Mereka, seperti dikatakan Che Guevara, "mempunyai banyak teman, mengerti kepada siapa harus mencari pertolongan, menguasai medan laga, dan memiliki ekstraantusiasme untuk mempertahankan tanahnya". Namun jika gerilya itu merupakan perpaduan kekuatan antara "kader luar" dan masyarakat lokal, keberhasilannya akan ditentukan oleh seberapa jauh hubungan mereka kohesif. Ini hanya dapat dibangun dengan pendidikan yang sistematik, baik dalam pendidikan sosial maupun militer. Kader harus mampu melakukan lebih banyak dari sekedar bertempur dan memberi petunjuk-petunjuk ideologis, tetapi dituntut juga untuk melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat. Dalam sejarah perang gerilya menumbangkan penjajah Belanda, kita juga sering mendengar cerita mengenai hubungan yang karib antara "tentara" dengan rakyat. Perbedaan anatara gerilya nasional dengan gerilya komunis barangkali hanya terletak pada metode yang digunakannya untuk menggalang massa. Aidit, pada awal 1960-an, menekankan pada unsur agitasi untuk mendapatkan dukungan itu.

Tidak mudah menelusuri apakah "desa mengepung kota" sekedar merupakan teori militer untuk mengalahkan pihak lawan yang jauh lebih kuat atau dapat digunakan untuk mencapai tujuan politik terbentuknya suatu negara [komunis] dengan kader anti-establishment yang menggunakan cara-cara clendestine. Mao telah menunjukkan kepada dunia betapa kreatifitas memainkan peranan penting dalam mencapai tujuan. Dogmatisme, ortodoksi dan konservatisme dalam memegang suatu gagasan akan mencapai kegagalan. Teori Mao pun mengalami perkembangan dan bukan hanya meliputi strategi militer. Lin Bao menggunakan istilah yang sama dalam konteks politik internasional dengan mengindentisifikasikan negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Latin sebagai "kampung" dan negara-negara maju sebagai "kota". Hal yang sebaliknya dapat terjadi, menimbulkan kekacauan di desa-desa untuk merongrong legitimasi dan otoritas pemerintah pusat.

Anti-komunisme merupakan sumber legitimasi kepemimpinan dan sekaligus justifikasi kebijakan Orde baru. Karena itu dapat dimengerti jika "hantu komunis" secara berulang muncul kembali. Apakah hantu itu merupakan sosok yang nyata atau bayangan, merupakan masalah yang kurang penting. Sekalipun demikian, jika stabilitas politik ingin tetap dipertahankan, sebenarnya perlu mendapatkan diagnosis yang tepat mengenai mengapa terjadi kerusuhan massal. Tanpa diagnosis yang tepat, seorang dokter akan keliru memberikan terapi. Sayangnya, memberikan diagnosis tidak selalu mudah. Gejala yang sama mungkin timbul dari sebab yang berbeda. Yang menjadi tantangan pokok bagi setiap rejim anti-komunis adalah bagaimana membuat agar gagasan komunis tidak mendapat kesempatan untuktumbuh. Salah satu daya tarik teori Marxis, termasuk di dalamnyagagasan-gagasan Mao, adalah janjinya untuk menciptakan masyarakat tanpa kelas. Dengan kata lain, gagasan Marxis mungkin muncul justru karena kesenjangan sosial. Tentu tidak sebaliknya berlaku. Artinya, terlalu simplistis mengatakan bahwa mereka yang memperjuangkan pemerataan ekonomi dan keadilan sosial selalu diilhami oleh ideologi Marxis. Gagasan yang sama, pertentangan antara masyarakat tertindas dengan penindas, dapat ditemukan pula di kalangan berbagai paham keagamaan. Stabilitas politik tidak perlu terancam jika gagasan untuk mencapai pemerataan dan keadilan itu dicapai melalui cara-cara demokratik seperti dilakukan oleh Partai Komunis dan Sosialis di Eropa Barat atau melalui cara kekerasan seperti yang dilakukan oleh Lenin dan Mao.

(Substansi tulisan dari berbagai sumber)

Selasa, 24 Maret 2009

Dari Film Sejarah "Deacon of Death" : Potret Kejam Ambisi Demi Ideologi

Oleh : Muhammad Ilham

Ada kengerian luar biasa ketika kita menonton film sejarah “Deacon of Death”. Dengan mengambil setting Kamboja tahun 1975-1979, kita diajak ke ranah “peradaban paling barbar”. Pol Pot, tepatnya Rezim Pol Pot, menjadi aktor utama dari catatan paling hitam sejarah peradaban ummat manusia. Siapa yang tak kenal Pol Pot ? Sarjana Sosiologi tamatan Sorbonne Universiti Perancis ini, pulang ke negaranya setelah belajar Marxis di negeri “Eifell”. Ia pulang dengan membawa imaginasi “negara tanpa kelas”. Idenya mendapat persemaian yang baik dengan bergabungnya beberapa teman-teman se ideologi, salah satunya Heng Samrin dan Khieu Samphan…. Dan negara teror mereka mulai ciptakan. Pol Pot, wajah innocent, namun “sejarah” mencapnya sebagai manusia “vampire” yang tak satupun teori tentang etika-moral bisa menjelaskan moralitasnya. Teror, kekejaman, pembantaian, air mata dan darah menjadi instrumen yang digunakan Pol Pot “atas nama” negara yang di-imaginasikannya. Teror itulah yang tergambar dalam Film sejarah besutan Jan van de Berg.

Film Deacon of Death kembali menghadapkan masyarakat Kamboja pada kekejian 20 tahun lalu yang dilakukan oleh Khmer Merah. Rezim Pol Pot itu berkuasa tahun 1975 hingga 1979. Berkisah tentang seorang perempuan Kamboja Sok Chea yang melihat seorang pria digantung di kakinya dan kemudian dikuliti. Jantung si pria, pada saat itu, masih berdetak. Sok Chea juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri hati manusia dari jenasah seorang tahanan yang dipotong dan dimasak, lalu disantap dengan sorak sorai liar oleh pembunuhnya. Pembunuhan biadab itu dipimpin oleh seseorang yang bernama Karoby. Sampai saat ini ia masih hidup. Film itu lebih lanjut berkisah bagaimana Sok Chea bertemu dengan Karoby setelah peristiwa 20 tahun itu dalam sebuah pesta pernikahan di sebuah desa, tempat ia dulu tinggal. Jan van de Berg membuat film tentang Sok Chea bersama Willem van de Put yang telah lama tinggal di Kamboja untuk mengobati orang-orang yang mengalami trauma perang. Van de Put sekarang menjabat direktur organisasi kesehatan internasional Health Net TPO.

Saya terkesan pada peran utama Sok Chea yang akhirnya berhasil menghalau ketakutan yang selama ini membayanginya. Namun Sok Chea tidak berhasil melepaskan kesedihan karena kehilangan keluarganya. Dalam pandangan masyarakat Kamboja, kesedihan hanya bisa dilenyapkan kalau tidak lagi memikirkan keluarga yang hilang, namun berarti kenangan terhadap sanak keluarga itu juga akan hilang. Film itu memperlihatkan bahwa ada satu cara untuk hidup dalam kesedihan sekaligus mempertahankan kenangan dari sanak keluarga yang tewas. Dalam masa empat tahun berkuasanya rezim Khmer Merah, tidak kurang dua juta orang dari seantero Kamboja dibunuh. Ada sekitar 343 "ladang pembantaian", seperti Choeung Ek tersebar di seluruh wilayah Kamboja. Tetapi, Choeung Ek adalah "ladang pembantaian" paling terkenal. Pasalnya, sebagian besar korban yang dieksekusi di sana adalah intelektual dari Phnom Penh. Contohnya, mantan Menteri Informasi Hou Nim, profesor ilmu hukum Phorng Ton, serta sembilan warga Barat termasuk David Lioy Scott dari Australia. Sebelum dibunuh, sebagian besar mereka didokumentasikan dan diinterogasi di kamp penyiksaan Tuol Sleng. Penjara S-21 atau Tuol Sleng adalah organ rezim Khmer Merah yang paling rahasia. Pada 1962, penjara S-21 merupakan sebuah gedung SMA bernama Ponhea Yat. Semasa pemerintahan Lon Nol, nama sekolah diubah menjadi Tuol Svay Prey High School. Tuol Sleng yang berlokasi di subdistrik Tuol Svay Prey, sebelah selatan Phnom Penh, mencakupi wilayah seluas 600 x 400 meter. Setelah Phnom Penh jatuh ke tangan Pol Pot, sekolah diubah menjadi kamp interogasi dan penyiksaan tahanan yang dituduh sebagai musuh politik.

Di Tuol Sleng, para intelektual diinterogasi agar menyebutkan kerabat atau sejawat sesama intelektual. Satu orang harus menyebutkan 15 nama orang berpendidikan yang lain. Jika tidak menjawab, mereka akan disiksa. Kuku-kuku jari mereka akan dicabut, lantas direndam cairan alkohol. Mereka juga disiksa dengan cara ditenggelamkan ke bak air atau disetrum. Kepedihan terutama dirasakan kaum perempuan karena kerap diperkosa saat diinterogasi. Setelah diinterogasi selama 2-4 bulan, mereka akan dieksekusi di Choeung Ek. Sejumlah tahanan politik yang dinilai penting ditahan untuk diinterogasi sekitar 6-7 bulan, lalu dieksekusi. Diakhir film, ada pesan moral yang bisa ditangkap. Masyarakat Kamboja tidak begitu berharap banyak agar pelaku kejahatan di hukum seberat-beratnya. Mereka lebih berharap sebuah PENGAKUAN, mengaku bahwa mereka telah salah dan menyarankan pada sejarah untuk tidak mengulang apa yang telah mereka lakukan. Bagi masyarakat Kamboja, Pengakuan ini jauh lebih berarti bagi pembelajaran sejarah Kamboja (dan mungkin dunia) ke depan. Menurut kepercayaan Budha, hukuman itu akan datang sendirinya pada kehidupan lainnya dalam reinkarnasi. Misalnya saja manusia yang melakukan kejahatan berat akan bereinkarnasi menjadi serangga. Mereka harus menunggu sangat lama sebelum membangun karma baik yang dibutuhkan untuk kembali menjadi manusia. Saya teringat apa yang dikatakan oleh salah seorang intelektual-ideolog dari "Dunia Ketiga" (sering dikutip oleh Ali Shariati, yaitu Frantz Fanon : "Pengakuan akan kesalahan memberikan implikasi besar terhadap proses pembelajaran sejarah ummat manusia, dibandingkan institusi hukum yang menyalahkan mereka". Bagaimana dengan "titik-titik hitam" sejarah Indonesia?

Insert : Foto Pol Pot dan "Bukti Killing Machine" (Museum Tengkorak di Kamboja)

Kamis, 19 Maret 2009

Sosiologi Keserakahan Manusia

Oleh : Muhammad Ilham

Point 1 : “ Dalam struktur masyarakat modern diyakini bahwa status sosial merupakan sesuatu yang perlu diperjuangkan, bukan hasil pemberian atau garis keturunan”.
Point 2 : ”Budaya merupakan bentukan manusia dan dapat dirubah oleh manusia, kesadaran kritis dan proses transformasi sosial dapat dilakukan untuk merubah keadaan menjadi lebih baik”.

Dalam salah satu film-nya, Matt Damon pernah berujar : ” Manusia mana yang tidak mengenal keserakahan?”. Ajaran Islam juga mensinyalir (baca: mengakui) sifat hakiki manusia ini. Demikian juga dengan ajaran agama lain. Karena sifat hakiki manusia yang serakah inilah, maka Sosiolog-Ekonom, M. Friedman mengatakan : ”masalah tata sosial sekarang adalah bagaimana menciptakan sistem dimana keserakahan tidak begitu menyakitkan, dan keserakahan yang tidak menyakitkan itu berada dalam makhluk yang namanya kapitalisme”. Kemajuan di berbagai lini kehidupan membawa dampak pada kehidupan sosial masyarakat dan dari perkembangan inilah satugaya hidup baru berawal. Sebuah gaya hidup konsumtif yang dibentuk oleh pemilik modal dengan berkendaraan globalisasi. Gaya hidup adalah perilaku seseorang yang ditunjukkan dalam aktivitas, minat, dan opini yang berkaitan dengan citra diri untuk merefleksikan status sosialnya. Gaya hidup adalah frame of reference bagi seseorang dalam berperilaku yang konsekuensinya membentuk suatu pola perilaku tertentu. Terutama bagaimana dia ingin dipersepsikan oleh orang lain, sehingga gaya hidup berkaitan dengan bagaimana ia membentuk image di mata orang lain, berkaitan dengan status sosial yang disandangnya. Dalam rangka merefleksikan citra inilah, simbol-simbol status tertentu berperan dalam mempengaruhi perilaku konsumsinya.

Globalisasi itu sendiri ditandai dengan integrasi pasar antara Negara-negara maju, Negara sedang berkembang, dan antar keduanya. Pusat kebudayaan berada di Negara- negara yang memproduksi barang, jasa, maupun symbol-simbol modernitas yang kemudian dikonsumsi secara global oleh seluruh penduduk dunia melalui komoditisasi dalam kemasan budaya. Perluasan pasar ini tidak akan berhasil tanpa adanya perubahan nilai-nilai secara global, yang didoktrinkan melalui media cetak dan elektronik sebagai penyebar epidemi global budaya konsumtif internasional, dan kemudian menjadi penyangga budaya konsumen. Paradigma yang dibentuk dalam masyarakat bahwa apa yang dipopulerkan oleh Negara barat (sebagai pusat kebudayaan) adalah simbol dari modernitas, sehingga bagi yang ingin diaku sebagai orang modern harus ikut meng konsumsi produk yang sama. Fenomena ini bertujuan agar produk-produk industri dapat laku cepat di pasaran dan dikonsumsi secara masal baik di Negara-negara maju maupun berkembang. Sebagai pokok pangkal adanya fenomena gaya gidup sebagai pembentuk pola perilaku tertentu, disebabkan adanya stratifikasi sosial masyarakat. Sebuah struktur sosial yang terdiri dari lapisan-lapisan, dari lapisan teratas hingga terbawah. Ber- kaitan perilaku konsumen, secara samar orang membedakan pengertian kelas sosial dan status sosial. Jika kelas sosial mengacu pada pendapatan atau daya beli, maka status sosial mengarah pada prinsip2 konsumsi yang berkaitan dengan gaya hidup. Dalam masyarakat kosmopolitan yang plural, status sosial ini dapat dengan mudah di mani pulasi. Seseorang dapat memilih apakah memproyeksikan dirinya sesuai dengan resources yang dia miliki, atau memproyeksikan diri lebih tinggi dari yang sesungguhnya, atau mungkin memilih untuk low profile dengan memproyeksikan diri lebih rendah dari yang sebenarnya.

Karena dalam status ini tersimpan unsur prestise, maka pemakaian simbol menjadi penting, dengan tujuan untuk memproyeksikan citra diri sesuai agar dipersepsikan oleh orang lain sebagai bagian dalam kelas sosial tertentu. Motivasi meraih kelas sosial yang lebih tinggi mendorong seseorang melakukan pembelian kredit demi memproyeksikan diri lebih tinggi dari resources yang dimiliki. Permasalahan citra diri erat kaitannya dengan konsep diri (self concept). Konsumen menganggap produk-produk itu dapat mengekspresikan citra yang diinginkannya. Baik itu citra diri aktual yang menggambarkan diri saya sebenarnya, atau citra diri ideal yang menggambarkan sosok yang diinginkan. Dalam era globalisasi, nilai-nilai egaliter merebak ke seluruh pelosok negri. Sebagian masyarakat mendapat kesempatan mendaki tangga sosial. Terjadi universalitas simbol-simbol status yang bukan hanya berdasarkan jenis benda yang harus dimiliki, tapi lebih spesifik lagi kepada merek-nya. Beberapa merek muncul menjadi bahasa untuk mengatakan status sosial yang meningkat, misal Rolex untuk jam tangan, Giorgio Armani untuk pakaian, Adidas untuk perangkat olahraga, dan pena Montblanc. Harganya berkali-kali lipat dibandingkan dengan barang yang sama dengan merek biasa, padahal fungsinya sama saja.

Secara psikologis, pola hidup konsumtif seseorang berkaitan dengan self orientation yang dibagi menjadi tiga kategori : principle, status, dan action. Self orientation yang bertumpu pada principle, maka konsumsi didasari karena keyakinannya. Bukan karena ikut-ikutan atau hanya mengejar gengsi. Boleh dikatakan tipe ini lebih rasional. Sedangkan yang bertumpu pada status, keputusan untuk mengkonsumsi lebih didominasi apa kata orang. Produk-produk branded menjadi pilihannya. Sedang yang bertumpu pada action, keputusan mengkonsumsi didasari keinginan untuk beraktifitas sosial maupun fisik, mendapatkan selingan atau menghadapi risiko. Spa mewah, café berkelas, tempat-tempat dugem, dan pertunjukan yang mendatangkan artis internasional terkenal merupakan refleksinya.

Fenomena ini banyak ditemui pada saat sekarang. Jika logika ekonomi (yang seharusnya negara masih dalam krisis ekonomi) tidak dapat diterapkan, maka memahami perilaku konsumen yang sangat konsumtif dari sisi gaya hidup lebih dapat menjelaskan. Merek- merek impor yang makin membanjiri pasar lokal, menjamurnya distro dan butik yang menjual baju-baju “kurang bahan” dengan harga selangit, tempat dugem yang makin menjamur- justru di kota-kota pelajar seperti Yogyakarta- ini adalah fenomena gaya hidup. Membidik gaya hidup merupakan jalan keluar bagi para pemasar di tengah kelesuan ekonomi. Dalam era globalisasi gaya hidup ini bukan ada dengan sendirinya melainkan sengaja dibentuk, selain untuk mengkayakan pemilik mega industri di negara-negara asing juga untuk melancarkan pencapaian tujuan globalisasi yaitu ”menyamakan rasa”, dimana kebudayaan-kebudayaan di berbagai pelosok dunia diintegral kan ke dalam satu format budaya, yaitu budaya barat sebagai pelaku industri terbesar.

Dapat diamati pada satu sisi bahwa globalisasi secara konkret memberikan kelimpahan material. Tapi di sisi lain menciptakan penduniaan budaya kosumtif yang mengancam peradaban manusia. Budaya konsumtif yang dikemas dalam gaya hidup internasional dan merupakan simbol modernitas dan instant. Dampaknya akan panjang jika gaya hidup konsumtif ini tak segera diminimalisir. Di sektor riil, pengusaha produk lokal makin tertekan karena derasnya arus impor barang oleh pemerintah untuk memenuhi permintaan dalam negri yang kadung ”gandrung” dengan merek luar. Di sektor ekonomi, pendapatan negara semakin didominasi dari sektor konsumsi (C) dan besarnya impor (m), yang sebenarnya menunjukkan ketidakseimbangan perekonomian jika tidak diikuti perkembangan di sektor investasi (I), tabungan (S), dan ekspor (x). Di sektor sosial, pembentukan kelas-kelas sosial akan mengentalkan individualisme dan mengikis kemanusiaan. Selain itu moral generasi muda, adik-adik atau juga anak-anak kita nantinya akan terjebak dalam dunia hedonis yang identik dengan gaya hidup konsumtif yang serba mubadzir. Untuk hari ini, pilihan ada di tangan kita. Berjalan melawan arus menghindari gaya hidup konsumtif atau tetap larut dalam arus demi kesenangan sekarang dan menafikkan efeknya di masa ke depan.

Selasa, 17 Maret 2009

Komunisme di Indonesia : Aktor Sejarah yang Bukan Pahlawan

Re-Write : Muhammad Ilham

Selama ini pahlawan nasional lebih banyak merupakan representasi atau perwakilan dari berbagai daerah. Daftar pahlawan bagai album keluarga. Bila melihat album, mata kita akan terfokus lebih dulu kepada tokoh yang kita kenal baik. Setiap provinsi merasa mesti memiliki pahlawan. Tidak cukup daerah tingkat I, kabupaten pun berlomba mengusulkan pahlawan mereka. Ini terutama terjadi pada masa akhir Orde Baru. Setelah era reformasi, perlombaan ini menyurut. Pahlawan yang berjumlah seratusan orang itu seakan memiliki kelas. Ada yang sering disebut, ada pula yang tak pernah disinggung dalam pidato ataupun pelajaran sekolah. Beberapa waktu yang silam pernah terjadi polemik, mana yang "lebih pahlawan", Tjut Nyak Dien yang mengangkat senjata atau Kartini yang berjuang hanya dengan pena........... (sebagai komparasi lanjutan : baca Artikel saya di PADANG EKSPRES Tangal 10 Nopember 2008 tentang PAHLAWAN)

Kasus lain menyangkut dua saudara tiri, Ki Hajar Dewantara dan Raden Mas Suryo pranoto, yang sama-sama diangkat menjadi pahlawan nasional pada 1959. Tanggal 2 Mei diperingati di Tanah Air sebagai hari pendidikan nasional. Hari itu merupakan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara, yang sebelumnya bernama Suryadi Suryadiningrat. Dia dikenang sebagai pendiri Taman Siswa, sekolah alternatif di samping sekolah yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pendapat tentang filsafat pendidikan tut wuri handayani menjadi konsep yang sering dijadikan retorika oleh pejabat pemerintah pada masa Soeharto. Ki Hajar Dewantara juga dikenal sebagai pemikir budaya. Pandangan nya bahwa budaya nasional merupakan puncak-puncak dari kebudayaan daerah diterima sebagai rumusan pada masa Orde Baru. Ki Hajar Dewantara mempunyai kakak seayah lain ibu, yaitu Suryopranoto, yang semasa kecil bernama Raden Mas Iskandar. Ayah mereka, Suryadiningrat, menderita sakit mata sewaktu kecil dan akhirnya menjadi tunanetra sehingga kehilangan kesempatan menjadi raja. Suryopranoto sebetulnya sangat menonjol sebagai pemimpin gerakan buruh yang menganjurkan pemogokan melawan penguasa kolonial. Tapi wacana tentang Suryopranoto nyaris hilang semasa Orde Baru karena pembela buruh selalu dikategorikan "kiri".

Setelah era reformasi, muncul banyak pertanyaan kritis, antara lain mengenai motivasi pahlawan. Apakah Pangeran Diponegoro berjuang melawan Belanda karena rasa nasiona lisme atau karena tanahnya digusur oleh penjajah? Pahlawan lainnya yang dipertanyakan tentunya Nyonya Tien Soeharto. Apa jasanya sehingga ia diangkat sebagai pahlawan nasional ? Sementara itu, ada tokoh lain yang dicekal dalam wacana intelektual Indonesia sedemikian lama tapi kini patut dipertimbangkan untuk masuk kelas pahlawan. Di antaranya Semaoen, tokoh Serikat Islam Cabang Semarang yang dipengaruhi oleh Sneevliet yang berideologi kiri. Ia berjuang melawan kolonial Belanda dengan pikiran dan perbuatan. "Tadi saya sudah berikhtiar mengajak rakyat menjadi pinter dan kuat, supaya akhirnya kita bisa merdeka mengurus negeri kita sendiri. Ini hal sungguhlah perkara kebangsaan (Semaoen dalam Hikayat Kadiroen). Dalam kesempatan lain dia menulis, "Memang banyak halangan dalam pergerakan! Banyak susah, banyak korban, banyak penjara dan bedil. Memang banyak siksaan dan hinaan, tetapi berani tetap bergerak keras ialah perbuatan nomor satu guna memperbaiki kehidupan dan akal budinya rakyat, sebagai besar dari manusia, terangnya memerdekakan rakyat dalam semua hal. Dan kalau saudara-saudara berbuat begini, maka tentulah akhirnya kita semua dapat kemenangan."

Ideologi perjuangannya adalah ideologi kerakyatan. "Selama kelas kapitalis masih mempunyai perkakas modal, pabrik, tanah, dsb. itu, selamanya pun rakyat jelata dan kaum buruh masih dapat diperas oleh kapitalis besar itu. Oleh sebab itu kelas rakyat jelata dan buruh mesti berikhtiar supaya alat-alat modal, pabrik mesin, tanah, dsb. itu jatuh di tangannya pemerintah yang kerakyatan yang dipilih oleh dan dari rakyat itu, supaya semua perusahaan dan perdagangan dapat diurus oleh pemerintah kerakyatan tadi" (Penuntun Kaum Buruh dari Hal Serikat Kerja, Semarang, 1920). Semaoen lahir di Mojokerto pada 1899, putra seorang buruh kereta api yang hanya mengenyam pendidikan sekolah bumiputra kelas satu. Setelah lulus, dia bekerja sebagai juru tulis (usia 13 tahun). Pada 1914, ia masuk Serikat Islam Surabaya dan terpilih sebagai sekretaris. Pada 1915, ia bertemu dengan Sneevliet, yang sangat berperan dalam memperkenalkan Marxisme di Indonesia.

Pada 1917, Semaoen terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam Semarang. Ia adalah pelopor pers nasional, pernah menjadi redaktur harian Sinar Djawa dan Sinar Hindia, organ SI Semarang. Ia mengorganisasi pemogokan buruh pada 1923 dan kemudian diasingkan ke Belanda. Di Eropa, Semaoen pergi ke Rusia. Di negeri tirai besi itu, Semaoen jatuh cinta kepada gadis Rusia, yang dinikahinya. Hal yang sama dilakukan oleh Iwa Kusuma Sumantri pada 1920-an. Istri mereka adalah adik-kakak. Yang menjadi pertanyaan: apakah orang yang mengawini perempuan Rusia tidak layak jadi pahlawan? Bukankah Guruh Sukarno Putra sendiri pernah menikah dengan gadis dari sana? Ternyata Iwa diangkat juga oleh Presiden Megawati sebagai pahlawan nasional pada tahun 2002. Bagaimana dengan Semaoen?

Ada pahlawan nasional yang namanya dicoret dalam pelajaran sekolah, yaitu Tan Malaka dan Alimin Prawirodirdjo, karena keduanya tergolong kiri. Seyogianya nama baik mereka dipulihkan dalam bidang pendidikan karena secara resmi gelar pahlawan mereka tidak pernah dicabut. Sayang sekali, pemerintah Sumatera Barat, misalnya, tidak memanfaat kan momentum peresmian bandar udara baru di Ketaping beberapa bulan lalu, misalnya, dengan memberi nama Tan Malaka International Airport. Mereka lebih menonjolkan sifat kesukuan dengan memakai nama Bandara Internasional Minangkabau. Selain itu, patut dipertimbangkan untuk mengangkat di antara mereka yang dibuang Belanda ke Digul setelah pemberontakan pada 1926/1927 sebagai pahlawan nasional. Pemberontakan PKI yang meletus di daerah yang relatif kuat agama Islamnya, yaitu Sumatera Barat dan Banten, bukanlah gerakan orang-orang ateis. Melainkan rakyat yang berani berjuang melawan penjajah. Walau akhirnya mereka kalah.

Revolusi Prancis, yang diperingati setiap 14 Juli, merupakan revolusi yang memakan anaknya sendiri. Tokoh-tokoh yang mencetuskan revolusi itu akhirnya tewas dalam pergolakan sengit di masa revolusi. Demikian pula di Indonesia, revolusi fisik 1945-1950 telah memakan anak-anaknya sendiri. Antara lain, Menteri Negara Oto Iskandar di Nata, yang tewas pada Desember 1945 karena diculik sekelompok pemuda. Tan Malaka ditembak tentara Indonesia pada 1949. Selain itu, yang tidak kalah tragisnya adalah kematian Amir Sjarifuddin pada 1948.

Amir Sjarifuddin Harahap adalah Perdana Menteri RI yang dieksekusi bangsanya sendiri tanpa proses hukum. Pada 19 Desember 1948 tengah malam di Desa Ngaliyan, Solo, sebanyak 20 orang penduduk desa disuruh tentara menggali lubang sedalam 1,7 meter. Amir--berpiyama putih-biru, bercelana panjang warna hijau dan membawa buntelan sarung--bertanya kepada kapten yang ada di situ, "Saya ini mau diapakan?" Amir Sjarifuddin bersama 10 orang lainnya ditembak satu per satu. Penulis Kristen cenderung mengatakan ia dibunuh sambil memegang Al-Kitab, sedangkan pengamat kiri menyebutkan ia menyanyikan lagu Internationale. Konon, menjelang ia dieksekusi, Amir Syarifuddin masih sempat untuk terus membaca buku.

Tanggalnya masih dipersoalkan apakah 27 Mei atau 27 April, tapi yang jelas ia lahir seabad silam di Medan. Amir Sjarifuddin (dan Sjahrir) adalah tokoh yang berjasa mempertahankan eksistensi negara Indonesia pada awal kemerdekaan. Pada 1945 sampai Januari 1948 keduanya menjadi perdana menteri. Mereka diangkat untuk menangkis tuduhan Belanda bahwa pemerintah Indonesia adalah boneka Tokyo karena Soekarno-Hatta berkolaborasi dengan "saudara tua dari Negeri Matahari Terbit". Sjahrir dan Amir berjuang di bawah tanah semasa pendudukan Jepang. Ir Setiadi Reksoprojo, 86 tahun, Menteri Penerangan dalam kabinet Amir Sjarifuddin pada 1947, memberikan kesaksian 13 halaman tulisan tangan kepada saya yang menjelaskan jasa Amir dalam mengefektifkan angkatan bersenjata Indonesia. Sejak November 1945 sampai Januari 1948, Amir Sjarifuddin berturut-turut menjadi Menteri Keamanan Rakyat/Menteri Pertahanan. Saat itu Indonesia berhasil membantu pemulangan ribuan pasukan Jepang dan internir Belanda.

Pada awal masa kemerdekaan, unsur tentara terdiri dari berbagai kelompok terlatih (eks didikan Belanda/Jepang) dan laskar. Dalam masa transisi, menurut Amir diperlukan Tentara Masyarakat. Tentara itu juga butuh pendidikan politik. Pandangan ini bertentangan dengan Hatta, yang melakukan rasionalisasi tentara dari 400 ribu menjadi 60 ribu. Perbedaan kebijakan itu antara lain yang di lapangan memicu timbulnya Peristiwa Madiun 1948, tempat Amir menjadi salah seorang korbannya. Jenjang karier Amir menarik karena berkebalikan dengan yang sering terjadi sekarang. Ia ditahan Jepang dan masih mendekam di penjara Malang sampai 1 Oktober 1945 sebelum dibebaskan dan diberangkatkan ke Jakarta untuk dilantik menjadi Menteri Penerangan. Sementara perjalanan hidup Amir "dari penjara ke kabinet", yang terjadi kini pada elite politik adalah "dari kabinet ke penjara".

Amir berasal dari keluarga Batak Islam bercampur Kristen. Kakeknya, Ephraim, adalah seorang jaksa beragama Kristen. Ayahnya, Soripada, juga menjadi jaksa dan beralih ke agama Islam ketika menikah dengan seorang gadis Batak muslim. Amir sempat menempuh pendidikan sekolah menengah di Negeri Belanda mengikuti jejak saudara sepupunya, T.S.G Mulia. Pergaulan semasa di Eropa dan setelah kembali ke tanah air pada 1927 menyebabkan ia tertarik pada agama Kristen dan dibaptis pada 1935. Ia sering membaca Al-Kitab dalam berbagai kesempatan dan membawakan khotbah dalam kebaktian Minggu. Dalam bidang politik, ia menjadi bendahara panitia persiapan Kongres Pemuda II 1928, yang kemudian melahirkan apa yang disebut Sumpah Pemuda. Pada 1931 ia aktif dalam Partai Indonesia (Partindo), yang didirikan Bung Karno. Kemudian ketika tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir diasingkan Belanda dari Pulau Jawa, Amir menggagas Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Organisasi ini cukup maju dalam mendefinisikan kewarganegaraan berdasarkan kediaman (tempat lahir), bukan ras. Rekan Amir dalam organisasi ini adalah Dr A.K. Gani, yang tahun ini diusulkan sebagai pahlawan nasional. Pada 1938-1941 Amir menjadi redaktur majalah sastra Poedjangga Baroe. Selanjutnya, Amir juga aktif pada GAPI (Gabungan Politik Indonesia) bersama M.H. Thamrin.

Amir Sjarifuddin adalah seorang pemimpin yang memiliki prinsip seperti dikisahkan Fransisca Fanggidae (82 tahun, kini eksil di Belanda), yang ikut dalam pelarian pada 1948. Di suatu desa, anak buahnya mengambil buah kelapa milik warga, Amir mengeluar kan tembakan peringatan dan memarahi mereka. "Tentara harus melayani rakyat, bukan mengambil kepunyaan rakyat," ujarnya. Dari empat tokoh nasional yang menduduki jabatan tertinggi (presiden, wakil presiden, dan perdana menteri) yang pertama di Indonesia, tiga orang (Soekarno, Hatta, dan Sjahrir) menjadi pahlawan nasional. Sedangkan yang satu lagi, jangankan diberi bintang jasa, biografinya pun tidak boleh beredar semasa Orde Baru. Pada 1984 penerbit Sinar Harapan sempat mencetak tesis Frederick Djara Wellem di Sekolah Tinggi Theologi Jakarta berjudul "Amir Sjarifuddin, Pergumulan Imannya dalam Perjuangan Kemerdekaan". Namun, buku tersebut terpaksa dimusnahkan karena Jaksa Agung tidak berkenan. Dalam sejarah Indonesia, Amir Sjarifuddin tak hanya dibuang dan dilupakan, tapi juga tidak diakui. Mari kita ambil hikmah dari revolusi yang terjadi pada masa lalu.

Catatan : (Substansi tulisan merupakan ide orisinil dari beberapa tulisan sejarawan
Asvi Warman Adam)
Foto : (Kulit Muka Hikayat Kadiroen-nya "Semaoen" dan Amir Syarifuddin Harahap)

Tan Malaka adalah Che Guevara : Wawancara dengan Sang "Tan Malaka Biografer"

Oleh : Muhammad Ilham

"Tan Malaka itu adalah kesunyian, militansi ideologi dan keteguhan prinsip mengalahkan keinginan naluriah-libidonya ..... tak mengenal baik yang namanya wanita dan pernikahan". Sebutlah, siapa aktor sejarah Indonesia periode jelang pembentukan "negara bangsa", mungkin hanya Soekarno yang flamboyan. Hatta, Syahrir, Agus Salim, Natsir dan Yamin dicatat sejarah sebagai makhluk Tuhan yang tidak memiliki cerita indah tentang petualangan cinta. Bahkan DN. Aidit, hanya mengenal satu wanita alam hidupnya (Muhammad Ilham, "Kepahlawanan yang Krisis Contoh", Harian Haluan tanggal 11 Nopember 2002)

(Ditulis dan diedit ulang dari Majalah TEMPO "Satu Abad Tan Malaka")

Untuk Mengenal Tan Malaka, rasanya DR. Harry Albert Poetze tidak bisa dilepaskan. Beliau adalah indonesianist yang mendedikasikan dirinya untuk “menjelajahi” kehidupan Tan Malaka. Ia ibarat Jorge Jordag, Sejarawan Yahudi yang mengarang secara empatik Riwayat Ali bin Abi Thalib. Bagi Poetze, kematian Ibrahim Datuk Tan Malaka ibarat sejarah yang hilang. Bertahun-tahun tidak ada yang bisa memastikan perjalanan hidup hingga akhir hayat tokoh sosialis asal Suliki, Pandan Gadang, Gunung Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, itu. Misteri kematian itu membuat Dr Harry Albert Poeze tergerak menelitinya. Lebih dari 36 tahun, Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk studi Karibia dan Asia Tenggara, Leiden, Belanda, ini menelusuri jejak langkah lelaki penulis buku Madilog itu yang “klasik-masterpiece” itu. Jerih payahnya membuahkan hasil. Hasil penelusurannya ia bukukan setahun lalu dengan judul Vurguisden Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949 (Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949).

Dalam buku setebal 2.200 halaman itu, Poeze memastikan Tan Malaka ditembak mati di Dusun Selopanggung, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, pada 21 Februari 1949. Beberapa tahun lalu, Poeze dan kerabat Tan Malaka datang ke Selopanggung untuk memastikan makam Tan Malaka. Wartawan Tempo, Dwidjo U. Maksum, yang turut dalam ekspedisi di lereng Gunung Wilis itu, mewawancarainya di sepanjang perjalanan. Petikannya:

Apa yang mendorong Anda datang kembali ke Selopanggung?
Saya ingin memastikan makam Tan Malaka benar-benar di sini. Saya datang bersama kerabat Tan Malaka: Zulfikar Kamarudin (keponakan Tan Malaka), Ibarsyah Ishak (kerabat Tan Malaka), dan Hutomo Amarun (sesepuh Partai Murba).

Anda yakin Tan Malaka dimakamkan di Selopanggung?
Saya melakukan penelitian sejak 1970-an. Data dan kesaksian yang saya peroleh selama 36 tahun sangat lengkap dan sangat mendukung keyakinan saya ini.

Keluarga juga yakin, makam Tan Malaka di Selopanggung?
Persis. Keyakinan mereka seperti keyakinan saya. Untuk pastinya, akan dilakukan penggalian secepatnya untuk dilakukan tes DNA.

Jika benar, apakah makam akan dipindah?
Keluarga lebih senang jika Tan Malaka tetap dikuburkan di sini, namun mereka meminta kepada pemerintah Indonesia agar makamnya dipugar dan dibikin lebih layak seperti makam pahlawan lainnya. Warga sekitar makam juga berkeberatan jika kuburan (Tan Malaka) dipindah dari desa mereka. Pemerintah perlu melengkapinya dengan pusat studi dan dokumentasi. Sejarah perjuangan Tan Malaka sangat monumental dan perlu dipelajari lebih dalam. Banyak buku tulisan Tan Malaka, pustaka, dan peninggalan dia yang perlu diketahui.

Menurut keluarga Tan Malaka, Soekarno pernah mengeluarkan keputusan yang mengukuhkan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional.
Ya, saya kira itu benar. Tak ada salahnya pemerintah Indonesia memberi perhatian kepada Tan Malaka. Ia adalah sebuah sejarah yang dahsyat dan luar biasa. Sangat bijaksana jika pemerintah Indonesia membangun pusat studi dan dokumentasi tentang Tan Malaka di dekat makamnya di Selopanggung ini agar generasi bangsa Indonesia memahami sejarah pahlawannya.

(Sebelum bertolak ke Jakarta untuk meneruskan perjalanan pulang ke Belanda, Poeze dan rombongan menyempatkan diri mampir di sejumlah tempat yang diharapkan memiliki sangkut paut dengan keberadaan Tan Malaka di Kediri. Ia juga menemui sejumlah saksi hidup).

Kapan makam Tan Malaka akan dibongkar?
Jika tidak ada halangan, kemungkinan besar kami akan melakukan pembongkaran pada Oktober mendatang. Nanti saya akan kembali lagi ke Kediri.

Berapa kali Anda datang ke Selopanggung?
Ini adalah kedatangan saya yang ketiga. Pertama pada 1990, kedua sekitar 1992, dan Juli 2008 ini ketiga kalinya. Saya tetap akan datang lagi untuk melanjutkan dan mempersiapkan penerjemahan buku saya dalam dalam bahasa Indonesia.

Dari hasil penelitian Anda, kapan dan siapa sebenarnya pembunuh Tan Malaka?
Tan Malaka ditembak mati di Selopanggung pada 21 Februari 1949. Dia ditembak pasukan tentara. Tan Malaka bukan ditembak mati di tepi Sungai Brantas seperti cerita yang ada selama ini.

Apa dasar keyakinan Anda itu?
Saya meneliti secara tuntas delapan versi. Bertahun-tahun melacak Tan Malaka, seolah-olah saya seorang detektif. Sangat sulit dan penuh tantangan.

Menurut Anda, Tan Malaka itu sosok seperti apa?
Dia sosok yang dahsyat, luar biasa, tapi juga ironis. Pemerintah harus mendorong generasi sekarang untuk terus melakukan penelitian tentang dia. Tan Malaka seperti Che Guevara (pejuang revolusi Marxis Argentina dan seorang pemimpin gerilya Kuba).

Jumat, 13 Maret 2009

Bila Awal Maret ini Pemilu Legislatif : "Partai Demokrat MENANG"

Rewrite : Muhammad Ilham
(Sumber : CSIS, LSI, LP3ES)

Survey agaknya telah mampu menjadi "parameter" dan "dukun-ilmiah" dalam percaturan politik Indonesia. Hasil survei 4 lembaga menempatkan Partai Demokrat (PD) sebagai partai peraih suara terbanyak dengan 21,5 % suara. Selanjutnya disusul PDIP (15,21 persen), dan Partai Golkar (14,27 persen). Demikian survei yang diumumkan Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Pusat Kajian Politik FISIP UI (Puskapol UI), dalam jumpa pers di kantor CSIS di Gedung the Jakarta Post, Jl Palmerah Barat 142-143, Jakarta Barat, Rabu (11/3/2009).

Dalam survei ini ada 2.597 responden yang diwawancarai. Dan survei pengumpulan data lapangan dilakukan pada 9-20 Februari 2009 melalui wawancara tatap muka terhadap masyarakat yang pada saat Pemilu 2009 nanti sudah berhak menjadi Pemilih. Dengan margin of error adalah +/- 1,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. "Hal ini karena iklan Demokrat sangat mengena di kalangan masyarakat," kata Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Sunny Tanuwidjaja. Sedang partai lainnya memperoleh PPP (4,15 persen), PKS (4,07 persen), PKB (3,25 persen), PAN (2,91 persen) dan Partai Gerindra (2,62 persen).

Sunny menambahkan, perolehan tersebut telah mengerucutkan dukungan pemilih pada tigal parpol besar yaitu PD, PDIP, dan Golkar. Berdasarkan survei ini diperkirakan hanya akan ada 8 parpol yang akan lolos parliamntary threshold. "Kemungkinan melejitnya partai baru atau kecil yang dapat menyamai kesuksesan PD dan PKS di Pemilu 2004 sangat kecil," tambahnya. Namun, lanjut Sunny, masih ada satu aspek yang harus dibahas dari temuan ini. "Masih tingginya jumlah pemilih yang belum menentukan pilihannya yaitu sebanyak 22,8 persen," bebernya. Survei ini menjaring 2957 responden yang tersebar di 150 desa di seluruh wilayah propinsi di Indonesia. Responden dipilih secara acak dan bertingkat (multi-stage random sampling), dengan memperhatikan proporsi wilayah "desa kota" dan aspek gender.

Sementara itu, Lembaga Survey Indonesia yang “digawangi” oleh Saiful Mujani mengatakan bahwa mayoritas responden menyatakan akan mencontreng PD (24,3 persen). Kemudian secara berurutan adalah PDIP (17,3 persen) dan Partai Golkar (15,9 persen). Sementara dukungan terhadap partai tengah: PKS (6 persen), PKB dan PPP (5 persen) dan PAN (4 persen). Sedangkan partai baru: Gerindra (4 persen), Hanura (2 persen), PKNU dan PBB (1 persen). PD juga menempati urutan teratas sebagai partai yang mempunyai citra bersih dari korupsi, yakni 25 persen. Hal ini sangat jauh dibandingkan PKS sebagai partai yang mencitrakan diri sebagai partai bersih. PKS hanya mendapat simpati sebesar 9 persen dari total responden. Di bawah PKS secara berturut-turut adalah PDIP (7 persen), Golkar (5 persen), PAN, PPP, PKB, dan Gerindra (2 persen), dan Hanura (0,4 persen).

Untuk urusan program, PD juga menjadi partai yang dinilai memiliki program paling tokcer, yakni 28 persen. Kemudian PDIP (11 persen), Golkar (10 persen), Gerindra (8 persen), PKS (5 persen), PKB, PAN, PPP (2 persen), dan terakhir Hanura (1 persen). Tak berhenti sampai di situ. PD dianggap partai yang paling peduli terhadap keinginan rakyat. PD memperoleh 28 persen responden, kemudian PDIP (12 persen), Golkar (10 persen), Gerindra (6 persen), PKS (6 persen), PKB, PAN, PPP (2 persen), dan Hanura (1 persen). "Indeks citra positif partai, paling tinggi dicapai Partai Demokrat. Yang konsisten dengan menguatnya Demokrat dalam enam bulan terakhir. Demokrat juga konsisten dengan urutan perolehan partai," kata Direktur LSI Kuskrido Ambardi saat menyampaikan hasil survei tersebut.

Rabu, 11 Maret 2009

Sintong Panjaitan : "Prabowo dan Wiranto Harus Bertanggung Jawab"

Oleh : Muhammad Ilham

Politik nampaknya harus diisi oleh figur-figur yang “maksum”, tak memiliki cacat sejarah. Sudah menjadi kelaziman nampaknya, jelang pengambilan kebijakan politik, bermunculan beberapa buku yang pada prinsipnya bercerita tentang figur yang sedang “berjuang” dalam ranah politik praktis. Kehadiran buku-buku tersebut bisa dilihat dari berbagai sudut. Sebagai “pelurus sejarah” agar rakyat tahu track sang figur, konsekuensi logis dari kompetisi politik, pembunuhan karakter atau memang berawal dari serba kebetulan. Demikian juga dengan kehadiran Buku "Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando" karya Sintong Panjaitan. Buku yang “menohok” peran historis Wiranto (Calon Presiden 2009 dari Partai Hanura) dan Prabowo Subianto (calon Presiden dari Partai Gerindra) kembali memperkaya buku-buku sejenis Pasca Orde Baru. Sebelumnya sudah hadir buku Habibi yang “menggadang-gadangkan” Wiranto dan memojokkan Prabowo dan kemudian dibela oleh Buku-nya Fadli Zon (yang ini loyalis Prabowo). Kemudian juga ada Buku karangan Kivlan Zein yang mendiskreditkan Wiranto (jelang Pilpres 2004). Semuanya muncul selalu jelang pengambilan kebijakan politik “tingkat tinggi”. Entah kebetulan atau memang disengaja. Tapi dalam perspektif "pelurusan sejarah", kehadiran buku-buku kontroversial seperti di atas, sangat perlu dan sudah merupakan keharusan agar muncul berbagai tanggapan. Dialog intelektual akhirnya hidup.

Mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Sintong Panjaitan dalam bukunya tersebut menyatakan bahwa mantan Panglima TNI Jenderal TNI (purn) Wiranto dan mantan Danjen Kopassus Letjen TNI (purn) Prabowo Subianto, harus mempertanggungjawabkan tindakannya terutama saat Mei 1998. "Sebagai pemimpin, mereka berdua harus bertanggungjawab dong...," katanya, usai meluncurkan otobiografinya "Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando" di Jakarta, Rabu malam. Jenderal Sintong yang dikenal sebagai "orang dekat" Habibi ini mengatakan, pertanggungjawaban oleh Wiranto terkait aksi kerusuhan yang melanda Jakarta hingga terjadi peralihan kekuasaan dari Presiden Soeharto kepada wakilnya BJ Habibie dan Prabowo menyangkut penculikan sejumlah aktivitis.

Menurut alumnus Akademi Militer Nasional (AMN) 1963 itu, pertanggungjawaban yang dilakukan kedua mantan petinggi TNI itu belum selesai. "Sehingga entah saat ini atau kapan, mereka harus tetap mempertanggungjawabkannya. Kalau tidak, mereka bukan pemimpin," ujarnya. Meski dalam bukunya, Sintong menyinggung keberadaan Wiranto dan Prabowo namun Sintong mengaku masih tetap berhubungan baik dengan keduannya. "Saya tetap baik dengan Bapak Wiranto dan Prabowo gak ada masalah...," ungkap Jenderal Purnawirawan yang namanya melambung karena berhasil menggagalkan Pembajakan Pesawat Garuda Woyla DC 9 di Don Muang Muangthai oleh Kelompok Jihad Pimpinan Imran dan Salman Hafidz ini. Tentang apakah, buku yang diterbitkan untuk menjegal kedua mantan petinggi TNI itu untuk melaju ke bursa pemilihan Presiden 2009, mantan Pangdam IX/Udayana itu mengatakan, tidak.

Jumat, 06 Maret 2009

Golkar yang "Ganja" PKS yang "Komunis"

Re-Write dan edit : Muhammad Ilham

JAKARTA, SABTU, KOMPAS — Ketua Fraksi Partai Golkar (F-PG) DPR RI, Priyo Budi Santoso, geram terhadap ulah orang yang mempermainkan logo partainya dan menyebar kannya lewat situs web Facebook. Pasalnya, logo Golkar berupa pohon beringin itu dimodifikasi daunnya menjadi daun ganja. "Untuk kasus itu, pihak berwajib tidak perlu harus menunggu laporan dari Partai Golkar. Karena apa pun motivasinya, oknum itu sudah melakukan perbuatan pelecehan terhadap Partai Golkar dan partai lainnya," kata Priyo seperti dikutip Surya, Jumat (27/2). Menurut Priyo, perbuatan oknum itu merupakan pelecehan dan upaya pencitraan negatif untuk menjatuhkan Partai Golkar. "Perbuatan oknum itu jelas sudah melanggar undang-undang. Karena, di dalam undang-undang sudah diatur tidak boleh menggunakan media internet untuk melecehkan dan memfitnah partai lain. Jadi, perlu diusut tuntas karena telah melanggar hukum," katanya.

Hal serupa menimpa Partai Keadilan Sejahtera. Lambang Bulan Sabit yang menjadi ciri khas PKS diganti menjadi gambar arit dengan tambahan palu di tengahnya. Tidak hanya itu, tulisan partai PKS juga diubah menjadi, Partai Komunis Sejahtera. Atas tindakan itu, Ketua F-PKS DPR RI, Mahfudz Siddiq, mengomentari pemasangan lambang PKS dengan gambar palu dan arit itu sebagai sesuatu hal yang tidak perlu terlalu dirisaukan. "Itu tidak penting. Itu sudah biasa menjelang pemilu. Saya rasa masyarakat Indonesia sudah pintar dan tidak perlu menggugat itu, Biarkan saja," kata Mahfudz Siddiq.

Namanya memang sama-sama PKS namun PKS yang ini bukan Partai Keadilan Sejahtera melainkan Partai Komunis Sejahtera. Pembuatnya adalah seorang Facebooker asal Cepu, Jawa Timur yang saat ini bermukim di Belanda. Dia adalah Muhammad Amin. Tak berhenti di situ, Amin yang dalam informasi pribadinya mengaku penggemar Karl Marx ini juga memelesetkan lambang Partai Golkar. Dia menambahkan gambar daun Ganja menggantikan gambar pohon beringin yang selama ini menjadi ciri Golkar. Di bawahnya tertulis Golongan Kharam.

Ulah Amin, mendapat tanggapan beragam dari teman-temannya. Mulai dari yang sekadar bercanda sampai yang serius. Di antaranya ada yang berkomentar “hanya PKS yang mewarisi tradisi PKI sebagai partai modern, dengan struktur organisasi, program, pendidikan, dan pengkaderan yang jelas. Itu maksudnya toh bung Amin,” demikian komentar yang dikutip dari id facebook milik Amin ini. Dalam salah satu tanggapannya, Amin menjawab tafsir simbol Partai Komunis Sejahtera sebagai berikut. Kiblat politik Partai Keadilan Sejahtera adalah Ikhwanul Muslimin dengan bapak spiritualnya Hasan Al-Banna. Hasan Al-Banna sendiri adalah seorang Marxis. Hasan Al-Banna berkiblat pada komunisme dan polit bironya, sehingga struktur gerakan dan ideologi populis Partai Keadilan Sejahtera dengan Partai Komunis Indonesia hampir sama persis. PKS sebenarnya hanyalah PKI yang dilabeli “Islam”.

Hasil Survei : "Buat Keluarga yang Sibuk"



Cukup menyentak namun memberikan pencerahan bagi "kita semua" (orang tua yang sibuk dan membiarkan pembantu lebih dekat dengan anak). Laporan LSM Cinta Keluarga melaporkan : 67 % anak-anak kota lebih dekat dengan pembantunya. Item kuisioner diatas, memperlihatkan realitas ini sebagai sebuah fakta yang "menyentak" sekaligus "mencerahkan".

Panoptik : Sejarah dan Kuasa Seks

Oleh : Muhammad Ilham

(Pernah dipresentasikan dalam “Seminar Kelompok Mahasiswa Humanis-Religius FISIP Unand Padang ……… awal 2005/telah melalui modifikasi redaksi)

“Seks adalah perubah sejarah paling tua dalam peradaban ummat manusia”, kata Michael Foucault dalam buku-nya yang bertitelkan “Sejarah Seksualitas”. Sejarah telah membuktikan bahwa kuasa dan seks selalu berjalan beriringan, interaksi simbiosis mutualis dan saling “merangkul” satu sama lain. Dari sejak zaman Yunani Kuno sampai era modern sekarang ini, adagium yang cukup popular, yaitu : glory, gold and gospel atau harta, tahta dan wanita menjadi sesuatu yang sudah “lazim”. Pada fase sejarah, raja-raja masa lalu, di samping harta dan kekuasan yang dimilikinya, rata-rata dikelilingi oleh wanita-wanita cantik (gundik) yang “menghamba” padanya (lihat tulisan tentang Cleopatra). Bahkan, presiden pertama Indonesia, Soekarno, terkenal dengan “keakrabannya” dengan sejumlah wanita dari berbagai latar belakang suku -bangsa. Saya masih ingat…… ketika saya kecil dahulu (80-an : masa Orde Baru lagi kuat-berkuasa-jaya, ada cerita dari orang-orang tua bahwa Sukarno memiliki kacamata “tembus pandang”. Konon, kacamata itu menjadi alat “sadap-fisik” tubuh wanita bagi Sukarno ….. sebuah “character assasination”).

Terkait ini, salah satu tokoh intelektual kritis asal Perancis, Michel Foucault, menaruh minat besar terhadap dialektika seks dan kekuasaan. Dengan menjelajah arsip-arsip kuno, Foucault menemukan bagaimana kuasa dan seks yang dalam tradisi Victorian abad XVIII di Inggris begitu direpresi dan dikontrol pemerintah dengan amat ketat, justru mampu berbicara dengan fasih, bahwa semakin ia ditekan dan direpresi dalam bilik-bilik pengantin, seks semakin memperlihatkan kuasanya. Penelusuran historis Foucault menghasilkan kesimpulan yang asimetris. Seks, sebaliknya, semakin meledak, berkeliaran, dan menyebar dalam berbagai bentuk wacana. Alih-alih menghilang, perbincangan tentang seks justru berebut memasuki ruang publik.

Menilik pada perkembangan media massa dewasa ini, berbagai corak dan ragam media berbasis seksis menemukan ruangnya di tengah histeria publik terhadap dinamika seksualitas. Pesatnya pertumbuhan media bersamaan dengan era pers bebas di Era Reformasi sekarang ini sekaligus membuka jubah-jubah moralitas publik yang begitu dijaga pencitraannya oleh Rezim Soeharto dengan (model) panoptikon-isasi tabu-tabu sosial. Panoptikon adalah mekanisme kontrol menyeluruh terhadap system kuasa yang dibangun kerajaan Orde Baru untuk mengawasi segala hal terkait subversi atau citra buruk (pseudo signs) kekuasaan. Dengan dalih menjaga “moralitas” bangsa, kekuasaan menjelma menjadi bayang-bayang menakutkan yang menghantui berbagai aktivitas publik. Berbagai bentuk aktivitas selalu dicurigai, dibatasi, ditekan sedemikian rupa untuk menjaga harmonisme kekuasaan.

Sistematisasi model panoptik –seperti sketsa rancangan penjara panoptic yang dirancang Jeremy Bentham— mengisyaratkan harus adanya pusat kuasa sentralistik yang menjadi tempat beroperasinya nilai-nilai, norma dan hukum yang mengatur berjalannya disiplin sosial. Panoptisme tidak mengandaikan pengawasan secara langsung, akan tetapi ia dirancang dengan teror-teror citra kekerasan, membangun trauma psikologis massa, represi wacana (bahasa), yang dibentuk sedemikian rupa seolah-olah di setiap ruang publik ada yang selalu memata-matai (surveillance). Efek domino kekuasaan panoptik ini mampu merasuki setiap tubuh sosial sampai ke bilik-bilik rahasia pasangan yang sedang merenda malam bahagianya. Dengan kontrol “kamasutra” kekuasaan, berbagai bentuk hasrat hanya mampu menggumam tidak puas. (Wacana) seks, yang seharusnya “bebas” melakukan penetrasi kebinalan, kenakalan, dan kegilaannya, justru bersembunyi dalam selimut norma karena merasa takut pada imbas “politik”, yang berarti, “ini kelainan seksual Bung!”, teriak dunia medis dan psikiatris.

Untuk menariknya lebih jauh, negasi seks oleh kuasa tidak bisa dipandang sebagai hancurnya moralitas dan etika individu-individu oleh karena dibukanya kran kebebasan selebar-lebarnya. Secara historis, seks dan kekuasaan memang selalu bergandengan akan tetapi saling menafikan, “tidak mesra.” Logika kekuasaan adalah logika discipline and punish; mengekang, mengontrol, merepresi objeknya. Sebaliknya, logika seks adalah logika pemenuhan hasrat, mengumbar, melepas, membuncahkan diri pada objeknya. Lantas bagimana mendamaikan keduanya?

Mengadili moralitas (politik dan social) sangat mungkin dan niscaya tatkala seksualitas public figure merasuki ruang publik. Menilik kembali pada kasus gambar syur anggota DPR dengan seorang artis dan kasus poligami tokoh agama yang sempat menjadi pro-kontra tersebut, keduanya terkait dengan “problematisasi” seks dan kuasa. Artinya, keduanya menunjuk pada klaim bahwa mereka adalah figur publik yang “wajib” diadili dalam konteks wacana “kebenaran” moral. Problematisasi –istilah yang digunakan Foucault untuk meneropong peristiwa-peristiwa tertentu secara detil dengan metode arkeo-geneaologi (juga hermeneutika)— dalam konteks kedua kasus tersebut dimaknai sebagai lokus budaya Indonesia dewasa